Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hindari 7 Kesalahan Pengelolaan Keuangan Berikut!

7 Kesalahan Pengelolaan Keuangan

Kesalahan pengelolaan keuangan dapat memberikan masalah keuangan yang sering kali berdampak jauh lebih parah dibandingkan dengan masalah kesehatan.

Saat seseorang sudah  terjerumus masalah keuangan, dimana uang yang dihasilkan tidak sebesar uang yang harus dikeluarkannya, saat itulah orang tersebut akan memiliki gangguan pikiran sepanjang waktu, bahkan hingga pada waktu tidurnya.

Hal ini tentu akan berakibat fatal pada seluruh aspek kehidupannya, termasuk juga kondisi kesehatan yang bersangkutan, serta produktivitasnya.

Nasib seseorang yang memiliki masalah keuangan itu, ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Jadi, hal terbaik yang perlu dilakukan mengenai masalah keuangan adalah dengan mendeteksinya sejak dini, dan seperti juga masalah kesehatan, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah hidup bersih dengan menghindari beberapa kesalahan pengelolaan keuangan berikut.

Tidak memiliki perencanaan pengelolaan keuangan

Sering kali, kamu tidak memiliki tenggat waktu yang jelas dan terukur dengan segala sesuatu yang terkait dengan pengelolaan keuangan pribadi.

Kamu dapat membiarkan utang kartu kredit menumpuk dengan membayar tagihan minimalnya saja.

Kamu juga bisa saja membiarkan uangmu diinvestasikan pada investasi yang buruk selama bertahun-tahun atau bahkan tidak berinvestasi sama sekali.

Terkait investasi, kamu perlu memahami dan menerapkan teknik yang memang sudah terbukti dari waktu ke waktu, seperti misalnya teknik investasi saham Ben Graham.

Merencanakan keuangan memang tidak semenyenangkan merencanakan liburan, namun, melakukan perencanaan dapat menghindarkan kamu ke kesalahan-kesalahan pengelolaan keuangan lainnya.

Dalam merencanakan keuangan, kamu harus memiliki gol. Gol ini haruslah terukur dan memiliki jangka waktu, sehingga memungkinkan untuk melakukan evaluasi.

Contoh dari gol yang terukur yaitu seperti "memiliki tabungan 100 juta pada akhir Desember 2020" atau "melunasi utang kartu kredit sebesar 50 juta selama 12 bulan ke depan".  

“Failing to plan is planning to fail.” – Alan Lakein

Pengeluaran keuangan berlebih

Secara matematis, tabungan adalah selisih antara uang yang kamu peroleh dengan uang yang kamu belanjakan.

Tentu saja kamu tidak akan bisa menabung kalau uang yang kamu belanjakan sama dengan atau bahkan lebih dari uang yang kamu hasilkan.

Jadi, untuk meningkatkan tabungan, kamu harus bekerja lebih banyak, mengejar karir yang lebih baik atau meningkatkan pendidikan untuk meningkatkan penghasilan, mendapatkan warisan dalam jumlah yang cukup besar, atau bisa juga dengan membelanjakan lebih sedikit atau mengurangi konsumsi yang tidak perlu.

Secara sederhana, dalam jangka pendek, memiliki pola hidup yang hemat adalah cara terbaik mengelola keuangan untuk memperbanyak tabungan dan memupuk kekayaan.

"Too many people spend money they haven't earned to buy things they don't want to impress people they don't like."  – Will Rogers

Membuat keputusan emosional

Sering kali kesalahan dalam mengambil keputusan finansial terjadi saat ada masalah besar yang datang dalam kehidupan.

Masalah seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, kematian anggota keluarga tercinta, ataupun dahaga atas gengsi, sering kali mendorong seseorang untuk mengelola keuangannya dengan berinvestasi pada produk yang cenderung tidak pasti, bahkan tidak masuk akal, yang menawarkan  risiko rendah dengan imbal hasil sangat tinggi.

Selain itu, problema kehidupan juga sering kali menuntut sesorang untuk mengobati lukanya dengan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk konsumsi yang tidak diperlukannya.

"Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah, jangan pernah membuat janji ketika sedang senang." – Ali bin Abi Thalib  

Pengelolaan keuangan tanpa mitigasi risiko atas bencana

Bencana terjadi dalam berbagai bentuk. Bisa saja rumah yang kamu tinggali terbakar, mobil yang kamu miliki hilang, atau anak atau istrimu menderita sakit parah yang membutuhkan biaya pengobatan dalam jumlah yang besar.

Kamu akan rentan mengalami kehancuran finansial apabila tidak menyiapkan perlindungan atas hal-hal tersebut. 

Dalam hal ini, pengelolaan keuangan dengan menyisihkan dana untuk membeli asuransi adalah salah satu cara terbaik untuk membayar pengeluaran tak terduga atas bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Di Indonesia sendiri, masih banyak orang yang tidak memiliki perlindungan asuransi yang memadai untuk menggantikan penghasilan mereka saat suatu bencana besar menghantam kehidupannya.

Jadi, jangan menunggu tragedi itu datang untuk menyadari pentingnya asuransi untuk kehidupanmu.

Untuk kamu yang tidak memiliki dana berlebih, paling tidak, jadilah peserta BPJS kesehatan untuk kamu dan keluargamu. Seburuk-buruknya pelayanan BPJS, kamu masih bisa mengklaim hak-mu saat terjadi masalah kesehatan di masa depan.

"I seek as much as I can to mitigate risk." – John R. Allen

Membeli dengan kredit konsumer

Tahukah kamu bahwa dengan dengan menggunakan kredit untuk keperluan konsumtif, maka, kamu akan menggunakan penghasilanmu di masa depan untuk membayar tagihan pokok dan bunga atas kredit tersebut.

Bahkan, untuk penggunaan kartu kredit yang tidak dikenakan bunga bila kamu membayarnya tepat waktu, suatu saat, kamu pasti akan tersandung untuk membayar tagihan minimal atau paling tidak terlambat membayar tagihan sehingga kamu akan terkena denda dan bunga.

Lebih buruknya lagi, membeli secara kredit, khususnya dengan kartu kredit, akan mendorong kamu untuk membelanjakan lebih dari yang sebenarnya mampu kamu bayarkan.

Semakin lancar kamu dalam membayar tagihan kartu kredit, pihak bank akan terus menambah limit kartu kreditmu hingga suatu saat kamu berurusan dengan debt collector mereka. 

Pada akhirnya, pengelolaan keuangan yang kamu lakukan akan semakin tak menentu dan berfokus pada pelunasan tagihan saja.

Haha, been there, done that!

"Semakin lancar kamu membayar tagihan kartu kredit-mu, semakin tinggi bank akan memberikan limit pada kartu kredit-mu, hingga akhirnya kamu berurusan dengan debt collector." – Ardya

Menjadi mangsa pengelola keuangan abal-abal

Saat ini, banyak orang atau pihak yang mengandalkan desain yang memanjakan mata di instagram atau media-media sosial lainnya untuk menjebak kamu dalam mengelola keuangan pribadimu.

Yang terbaru adalah Jouska, perusahaan yang desain feed instagramnya keren, yang founder-nya mengaku-ngaku lulusan sarjana, yang izin perusahaannya adalah edukasi, namun, malah menawarkan pengelolaan keuangan kepada konsumennya.

Hasilnya? Banyak nasabahnya yang kehilangan uang yang sudah susah payah dikumpulkannya. 

Hal tersebut makin diperparah oleh pihak-pihak yang menawarkan investasi dengan imbal hasil super tinggi, namun minim risiko. Padahal yang dilakukan bukanlah pengelolaan investasi, namun, skema piramida keuangan atau yang biasa dikenal dengan skema ponzi.

Untuk menghindari para pengelola keuangan abal-abal ini, kamu perlu melakukan pekerjaan rumahmu, yaitu dengan memeriksa rekam jejak, referensi, dan izin usaha dari otoritas jasa keuangan (OJK) dari para pengelola keuangan tersebut.

Selain itu, tahukah kamu siapa pengelola keuangan terbaik untuk kamu? 

Orang itu adalah kamu sendiri. 

So educate and trust yourself!

"There are no bad business and investment opportunities, but there are bad entrepreneurs and investors." – Robert Kiyosaki

Pengelolaan keuangan yang terlalu fokus pada uang

Memberi tekanan mengenai jumlah uang yang dihasilkan dan ditabung tentu tidak sepenuhnya salah, namun, hal tersebut dapat memberikan pergeseran mengenai apa yang terpenting dalam hidup sehingga hal ini sama berbahayanya dengan tidak memiliki perencanaan pengelolaan keuangan.

Uang dapat menjadi prioritas utama dalam hidup pada saat kamu mengumpulkan uang bukan semata-mata karena ingin memiliki kekayaan dalam jumlah tertentu, tapi juga karena untuk membiayai kesehatan dan pemenuhan kebutuhan keluargamu, menghindarkan diri dari utang, berjaga-jaga akan kesulitan di masa depan, keperluan pendidikan, dan beberapa alasan penting lainnya.   

Dengan begitu, kamu akan lebih memiliki kesadaran mengenai batas-batas yang diperbolehkan dalam menghasilkan uang, serta tahu kapan waktunya untuk bekerja dan memberi waktu untuk keluargamu. 

Hal-hal tersebut, meskipun terkesan remeh, namun, dapat menghindarkan kamu dari kesalahan-kesalahan fatal yang dapat menjerumuskanmu ke dalam pelanggaran hukum, investasi yang buruk, konsumsi yang berlebih, maupun penyakit yang dapat timbul karena kurangnya waktu berkualitas untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. 

“Instead of loving people and using money, people often love money and use people.” – Wayne Gerard Trotman

Penutup

Tujuh kesalahan pengelolaan keuangan yang terkesan sepele namun dapat menggiringmu ke masalah keuangan yang besar diawali dengan tidak adanya rencana atas pengelolaan keuangan itu sendiri. 

Hal tersebut akan dengan mudah menggiringmu ke kesalahan-kesalahan berikutnya yaitu pengeluaran berlebih dan mudahnya mengambil keputusan keuangan secara emosional.

Rencana pengelolaan keuangan yang baik juga perlu memasukkan unsur mitigasi atas bencana yang mungkin terjadi di masa depan. Cara terbaiknya adalah dengan membeli asuransi, baik itu asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa.

Selanjutnya, kamu perlu mewaspadai teknik pemasaran dari lembaga keuangan formal maupun yang abal-abal. Tak jarang uang yang telah dikumpukan dengan susah payah sirna dalam seketika karena berurusan dengan bunga kredit maupun sindikat penipuan investasi.

Kesalahan pengelolaan keuangan yang terakhir adalah terlalu berfokus pada akumulasi jumlah nilai uang tanpa memiliki tujuan yang berfokus pada kualitas hidup. Ini dapat dengan mudah menggiringmu ke dalam pelanggaran hukum, masalah kesehatan yang serius, dan bahkan terjebak pada produk investasi yang sangat berisiko.

Sekian tulisan saya mengenai 7 kesalahan pengelolaan keuangan yang sering terjadi. Semoga bermanfaat dan dapat memberikan wawasan mengenai hal-hal yang harus dihindari agar tidak terjerumus ke dalam masalah keuangan yang besar.

Stay safe and stay healthy. Take care!