Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Beberapa Prinsip Ben Graham dalam Berinvestasi Saham

Prinsip Investasi Ben Graham

Saya baru saja selesai membaca salah satu buku terbaik mengenai investasi saham yang ditulis oleh Ben Graham yaitu "The Intelligent Investor".

Yang pertama terlintas di benak saya adalah mengenai teknik investasi dari seorang Ben Graham yang sangat sederhana dan tidak banyak kalkulasi rumit.

Berbeda dengan teknik investasi modern yang mengedepankan teknik, rumus, dan model, pendekatan dari Ben Graham justru lebih tentang sikap dalam berinvestasi.

Beberapa teknik dalam ilmu keuangan modern adalah Capital Asset Pricing Model (CAPM), model opsi harga black scholes, hingga model arus kas diskonto.

Meski pendekatan Ben Graham dalam berinvestasi tidak sekeren teknik modern tersebut, tidaklah perlu kita meragukan apa yang disampaikan oleh Ben Graham.

Seperti kita ketahui, Warren Buffett, salah satu investor saham tersukses sepanjang masa, dalam berbagai kesempatan seringkali mengatakan "The Intelligent Investor" adalah buku investasi terbaik yang pernah dibacanya.

Berikut akan saya jelaskan beberapa prinsip investasi yang saya dapatkan dari buku tersebut.

Membeli saham sama dengan membeli bisnis

Pendekatan ini merupakan hal paling krusial yang perlu dimiliki oleh seorang investor saham.

Jadi, ketika kamu membeli saham, yang kamu beli bukanlah sekedar lembaran saham saja, tetapi juga klaim atas aset dan pendapatan perusahaan.

Di era modern, dimana membeli saham dapat dilakukan dengan mudah melalui smartphone ataupun laptop, pikiranmu dapat dengan mudah teralihkan dari prinsip investasi Ben Graham ini.

Penganut paham pasar efisien membeli lembaran saham untuk membentuk portofolionya tanpa melakukan investigasi bisnis.

Trader harian membeli simbol ticker perusahaan berdasarkan formasi di chart-nya.

Para pemburu saham bertumbuh (growth stock) membeli saham berdasarkan opininya dengan harga yang jauh di atas nilainya.

Namun, para pengikut ajaran Ben Graham yang sering disebut investor fundamental, tetap membeli bisnis.

Ketika membeli bisnis, pahami bisnisnya!

Untuk melakukan valuasi dari suatu bisnis, logisnya, seseorang perlu memahami bisnis tersebut.

Ini artinya, seorang investor perlu memahami ide di balik suatu bisnis dan juga eksekusi dari pihak manajemen atas ide tersebut melalui operasi bisnis.

Selanjutnya, operasi bisnis itulah yang menjadikan suatu bisnis memiliki harga.

Nah, valuasi menentukan berapa harga wajar dari bisnis tersebut.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara melakukan valuasi dari suatu bisnis di mana banyak kegiatan operasional dan pihak yang terlibat?

Disinilah akuntansi berperan!

Beberapa orang bekerja memastikan kegiatan operasional di pabrik atau tambang berjalan dengan baik, beberapa lainnya menangani pelanggan, pemasok, pesaing, hingga beberapa transaksi lainnya.

Akuntansi menggabungkan seluruh kegiatan perusahaan tersebut untuk diterjemahkan ke dalam angka-angka yang nantinya dapat dianalisis oleh investor.

Namun demikian, laporan keuangan sangatlah mudah untuk "didandani", sehingga perlu bagi investor untuk memahami bisnisnya dalam melakukan valuasi.

Harga adalah yang kamu bayar, nilai adalah yang kamu dapat

Para penganut pasar efisien menyatakan bahwa harga saham telah merefleksikan segalanya, yang berarti harga tersebut adalah wajar adanya.

Di sisi lain, investor fundamental menyatakan bahwa bahwa harga saham tidaklah sama dengan nilainya.

Bagi fundamentalis, harga adalah apa yang diminta pasar untuk dibayar oleh pembeli, sedangkan nilai adalah berapa nilai wajar saham tersebut.

Jadi intinya, investor fundamental memiliki ide bahwa pada satu waktu harga saham dapat menyimpang dari nilainya.

Risiko terbesar investasi adalah membayar terlalu mahal

Ketika saya mengenyam pendidikan sarjana dan pasca sarjana, saya selalu diajarkan bahwa "beta" merupakan risiko utama dalam berinvestasi.

"Beta" adalah kerentanan suatu investasi terhadap pergerakan atau fluktuasi harga.

Model keuangan modern seperti CAPM sangat mengandalkan beta dalam menentukan tingkat pengembalian yang diperlukan.

Di sisi lain, investor fundamental melihat risiko secara berbeda.

Bagi fundamentalis, risiko utama adalah membayar suatu saham pada harga yang terlalu mahal dibandingkan menahan saham pada saat harga jatuh terlalu dalam.

Karena itulah mereka lebih berfokus pada hal yang mempengaruhi nilai perusahaan, seperti risiko yang timbul dari pesaing, manajemen yang buruk, hingga struktur modal yang terlalu dibebani dengan utang.

Terkait fluktuasi, fundamentalis lebih melihat penurunan harga sebagai peluang dibandingkan bencana.

Salah satu prinsip Ben Graham yaitu membeli saham dengan harga yang berada di bawah nilainya, sehingga memberikan "marjin keamanan".

Jangan mencampur yang kamu ketahui dengan spekulasi

Ketika berinvestasi, seringkali akal sehat dibutakan oleh prospek-prospek investasi yang mungkin terjadi di masa depan.

Inilah mengapa dalam berinvestasi, kamu cukup berpegang teguh pada apa yang kamu ketahui dan jangan mencemarinya dengan opini.

Hal ini sangatlah penting dilakukan untuk menghindari tindakan spekulatif dan impulsif yang sangat membagongkan.

Jadi intinya, ketika kamu mengetahui suatu perusahaan berhasil membukukan penjualan sebesar 10 miliar di 2020, hal tersebut sangatlah berbeda dengan perkiraan bahwa dalam tiga tahun ke depan, perusahaan tersebut akan membukukan penjualan sebesar 30 miliar.

Fokuslah pada fakta, bukan spekulasi!

Dengan demikian kamu dapat berpikir jernih dan mempertanyakan penyebab kenaikan penjualan hingga tiga kali lipat hanya dalam tiga tahun.

Terkait laporan keuangan, pada kenyataannya juga tidak terlepas dari spekulasi para penyusunnya.

Seperti misalnya, dalam memenuhi prinsip konservatisme, akuntan membuat penyisihan atas piutang tak tertagih.

Namun, hal ini justru disukai oleh para fundamentalis karena semakin meningkatkan kehati-hatian.

Pada akhirnya, analisis fundamental adalah masalah memilah apa yang diketahui dan mengaplikasinnya untuk menentang spekulasi.

Waspada dengan saham bertumbuh

Saham bertumbuh (growth stock) sangat disukai oleh para pelaku pasar saham, terutama pada saat iklim investasi sedang bullish.

Kata "pertumbuhan" memacu adrenalin para trader dan investor labil untuk membuat berbagai macam ramalan dengan seringkali mengabaikan fakta yang ada.

Di sisi lain, fundamentalis menyadari pertumbuhan adalah hal yang paling spekulatif dari suatu valuasi.

Yang namanya saham bertumbuh, karena prospeknya, tentu saja memiliki harga yang berkali-kali lipat di atas nilainya.

Bagi Ben Graham, sebagus apapun prospek pertumbuhan suatu investasi, kalau harganya tidak memberikan marjin keamanan, maka investasi tersebut tidaklah layak.

Jangan menyertakan harga dalam valuasi

Para investor fundamental adalah mereka yang mencoba menantang harga dengan menandingkannya dengan nilai.

Jadi, ketika kamu memutuskan menjadi seorang fundamentalis, jangan pernah menerapkan rasio laba terhadap harga (PER) yang diamati dari masa lalu ataupun dari perusahaan pada industri yang sama untuk menghitung harga wajar.

Sebagai analis fundamental, gunakanlah informasi akuntansi yang bebas dari harga, seperti return on equity (ROE), debt to equity ratio (DER), dan lainnya, untuk memberikan wawasan mengenai nilai untuk menantang harga.

Harga, pada akhirnya, akan mengikuti fundamentalnya

Investasi fundamental bersandar pada satu ide utama yaitu meskipun harga saham dapat menyimpang dari fundamentalnya, namun pada akhirnya akan kembali ke nilai fundamentalnya.

Jadi, ide ini didasari oleh kondisi akhir bahwa nilai fundamental akan terungkap dan menyadarkan pasar melalui informasi yang kredibel.

Bila akuntansi tidak spekulatif, maka informasi untuk koreksi tersebut akan datang melalui laporan keuangan perusahaan.

Kekuatan pendapatan pada jangka panjang mendorong harga saham dan harga akan menyesuaikan ke nilainya saat informasi tersebut sampai ke pasar.

Pada akhirnya, analisis fundamental tak terlepas dari tindakan spekulatif karena memperkirakan kekuatan suatu perusahaan dalam menghasilkan pendapatan pada jangka panjang.

Namun perlu dipahami, "spekulasi" tersebut difokuskan pada laporan keuangan di masa depan dengan mendisiplinkan analisis melalui pengukuran kinerja perusahaan pada laporan keuangan beberapa periode yang telah berlalu.


Sekian tulisan saya mengenai beberapa prinsip dari Ben Graham dalam berinvestasi saham.

Stay safe and stay healthy. Take care!