Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menjaminkan Piutang dan Anjak Piutang dalam Akuntansi

Menjaminkan Piutang dan Anjak Piutang dalam Akuntansi

Saat membutuhkan dana, perusahaan dapat meminjam uang ke bank dengan menjaminkan piutang usahanya. 

Hal ini dikenal dengan account receivable assignment. Jadi, di sini dilakukan pengikatan piutang sebagai jaminan fidusia. 

Namun, pada tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai teknis pengikatannya, karena minimnya pengetahuan saya, tetapi yang akan saya bahas adalah perlakuan akuntansi atas transaksi tersebut.

Selain dijaminkan, piutang juga dapat dijual ke bank ataupun lembaga keuangan lainnya. Hal ini biasa disebut dengan anjak piutang (factoring)

Berbeda dengan penjaminan piutang, ketika suatu piutang dijual, maka hak tagih berpindah ke pihak factor, sehingga pihak factor dapat langsung menagih piutang tersebut ke pelanggan.

Menjaminkan piutang (account receivable assignment)

Seperti telah disinggung sebelumnya, suatu perusahaan dapat meminjam uang ke bank dengan menjaminkan piutangnya. Sebagai kompensasinya, perusahaan akan dikenakan biaya administrasi dan bunga atas pinjaman tersebut. 

Ketika perusahaan menerima pembayaran atas piutang dari pelanggannya, selanjutnya perusahaan akan membayar utangnya ke bank, proporsional dengan penerimaan kas atas piutangnya.

Asumsikan pada tanggal 5 September 2020, PT Sembilan Pilar meminjam 1 miliar ke bank dan menyepakati promes dengan bunga sebesar 10 persen, yang akan dibayar secara bertahap, sesuai dengan proporsi pembayaran piutang perusahaan oleh pelanggannya. Nilai piutang yang dijaminkan adalah sebesar 1,2 miliar. Bank juga mengenakan biaya administrasi sebesar 1 persen atas pinjaman tersebut. Jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Kas 990 juta
Biaya Administrasi Bank 10 juta
Utang Bank 1 miliar

Selanjutnya, di neraca, perlu dilakukan penyesuaian atas piutang usaha yang dijaminkan tersebut:

Piutang Usaha Dijaminkan 1,2 miliar
Piutang Usaha 1,2 miliar

Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2020, PT Sembilan Pilar menerima pembayaran atas piutang usahanya, sebesar 800 juta. Jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Kas 800 juta
Piutang Usaha Dijaminkan 800 juta

Pada saat menerima pembayaran atas piutangnya, PT Sembilan Pilar membayar utang ke bank sebesar penerimaan kas atas pembayaran piutang yang diterima dari pelanggannya. Jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Utang Bank 800 juta
Beban Bunga 8,33 juta
Kas 808,33 juta
Beban bunga: 1 miliar x 10% x 1/12

Pada tanggal 5 November 2020, PT Sembilan Pilar menerima pembayaran atas piutang usahanya sebesar 300 juta. Jurnal atas transaksi tersebut adalah:
 
Kas 300 juta
Piutang Usaha Dijaminkan 300 juta

Kemudian, setelah menerima pembayaran atas piutangnya tersebut, PT Sembilan Pilar melunasi sisa tagihannya ke bank sebesar 200 juta. Jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Utang Bank 200 juta
Beban Bunga 1,67 juta
Kas 201,67 juta
Beban bunga: 200 juta x 10% x 1/12

Setelah utang ke bank dilunasi, maka status piutang usaha yang dijaminkan itu, sudah bukan lagi piutang usaha yang dijaminkan. Atas hal ini, PT Sembilan Pilar perlu melakukan penyesuaian atas sisa piutang sebesar 100 juta (1,2 miliar - 1,1 miliar) tersebut. Jurnalnya adalah:

Piutang Usaha 100 juta
Piutang Usaha Dijaminkan 100 juta



Anjak piutang (factoring)

Yang disebut dengan factor adalah bank atau perusahaan keuangan yang membeli piutang suatu perusahaan. 

Ada dua kondisi dalam anjak piutang. 

Yang pertama adalah without recourse, dimana perusahaan tidak memilki kewajiban pada bank atas piutang yang tak tertagih. 

Kemudian yang kedua adalah with recourse, dimana perusahaan memiliki kewajiban pada bank atas piutang yang tak tertagih.  

Anjak piutang / factoring

a. Penjualan piutang tanpa recourse

Untuk piutang yang dijual tanpa recourse, perusahaan penjual piutang tidak memiliki kewajiban ke bank apabila pelanggan tidak membayar tagihannya. 

Jadi, bank yang akan langsung menagih ke pelanggan, dan juga atas piutang yang tak tertagih, menjadi kerugian pihak bank.

Bank mengenakan biaya atas transaksi ini dan juga mengenakan retensi atas kemungkinan terjadinya penyesuaian, seperti retur penjualan dan diskon, sebelum piutang jatuh tempo. Dana retensi ini, nantinya akan dikembalikan ke penjual, setelah dikurangi retur penjualan dan diskon.

Asumsikan PT Awan Rusuh menjual piutang sebesar 1 miliar tanpa recourse ke Bank Mandera. Bank Mandera mengenakan biaya pelayanan sebesar 4% dan retensi sebesar 5% untuk mengcover retur penjualan dan diskon. 

Jurnal PT Awan Rusuh atas transaksi tersebut adalah:

Kas 910 juta
Piutang Retensi 50 juta
Kerugian Penjualan Piutang 40 juta
Piutang Usaha 1 miliar

Sedangkan Bank Mandera menjurnal sebagai berikut:

Piutang Usaha 1 miliar
Utang Retensi 50 juta
Pendapatan Bunga 40 juta
Kas 910 juta

Karena PT Awan Rusuh menjual piutang senilai 1 miliar dengan harga 960 juta, maka PT Awan Rusuh mengakui selisihnya sebagai kerugian penjualan piutang.

Selanjutnya, ada retur penjualan sebesar 10 juta. Maka PT Awan Rusuh menjurnalnya sebagai berikut:

Retur Penjualan 10 juta
Piutang Retensi 10 juta

Bila hingga jatuh tempo tidak ada lagi retur penjualan maupun diskon, maka Bank Mandera akan mengembalikan dana retensi sebesar 40 juta (50 juta - 10 juta) ke PT Awan Rusuh. Jurnal PT Awan Rusuh atas transaksi tersebut adalah:

Kas 40 juta
Piutang Retensi 40 juta

b. Penjualan piutang dengan recourse

Ketika perusahaan menjual piutang usahanya dengan recourse, perusahaan menanggung segala risiko atas piutang yang tak tertagih. 

Jadi, perusahaan memberikan garansi kepada pihak bank, bahwa pelanggan pasti akan membayar seluruh piutang yang dijaminkan tersebut, meskipun pada kenyataannya pelanggan tidak membayarnya. 

Untuk memperjelas mengenai penjualan piutang dengan recourse, saya ambil contoh pada kasus sebelumnya, dimana PT Awan Rusuh menjual piutangnya ke Bank Mandera, tapi kali ini dengan recourse

Perlakuan akuntansinya berbeda pada kasus ini. 

Bila penjualan dilakukan dengan recourse, maka PT Awan Rusuh perlu mengestimasi nilai dari recourse untuk diakui sebagai kewajiban. 

Kewajiban recourse adalah estimasi atas kemungkinan uang yang dikeluarkan oleh PT Awan Rusuh untuk menomboki pembayaran ke pihak bank atas piutang yang tak tertagih.

Asumsikan PT Awan Rusuh telah menghitung estimasi atas kemungkinan piutang tak tertagih sebesar 20 juta, maka kerugian atas penjualan piutang tersebut adalah:

Kas yang diterima 910 juta
Retensi 50 juta 960 juta
Dikurang: Kewajiban recourse 20 juta
Nilai Bersih 940 juta

Nilai bersih merupakan nilai dari kas yang diterima dikurang dengan kewajiban yang timbul. Maka, kerugian atas penjualan piutang tersebut adalah:

Piutang yang dijual 1 miliar
Nilai bersih 940 juta
Kerugian penjualan piutang 60 juta

Jadi, jurnal yang dibuat oleh PT Awan Rusuh adalah sebagai berikut:
 
Kas 910 juta
Piutang Retensi 50 juta
Kerugian Penjualan Piutang 60 juta
Piutang Usaha 1 miliar
Kewajiban Recourse 20 juta

Sedangkan jurnal yang dibuat oleh pihak factor atau Bank Mandera sama saja antara penjualan piutang dengan recourse maupun tanpa recourse

Bila di kemudian hari, pihak Bank Mandera berhasil menagih seluruh piutang yang dijual tersebut, maka PT Awan Rusuh dapat mengeliminasi kewajiban recourse-nya dan mengakuinya sebagai kenaikan pendapatan. 

Sekian tulisan saya mengenai penjaminan dan penjualan piutang. Topik ini merupakan topik yang cukup sulit dikuasai bila kamu tidak benar-benar memahami dasar-dasar akuntansi

Saya sendiri menguasai teori terkait hal ini, karena pernah mengerjakan laporan yang di dalamnya ada transaksi penjaminan dan anjak piutang.

Stay safe and stay healthy. Take care!