Advertisement

Ad Code

Jurnal Khusus untuk Transaksi Berulang

Jurnal khusus untuk transaksi berulang

Jurnal khusus merupakan jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi perusahaan yang berulang dan sangat sering terjadi.

Beberapa transaksi di perusahaan dilakukan berulang-ulang, di mana jumlahnya bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan transaksi tiap bulannya. 

Untuk perusahaan yang pencatatannya sudah menggunakan software akuntansi tentu tidak akan mengalami kesulitan, karena sudah disediakan menu khusus untuk mencatat transaksi-transaksi yang berkaitan dengan pengeluaran dan penerimaan kas, penjualan, pembelian, aset tetap, maupun jurnal umum. 

Namun, untuk perusahaan yang masih mencatat secara manual, tentu akan mengurangi efisiensi apabila menjurnal transaksi berulang tersebut satu per satu.

Dalam akuntansi, dikenal yang namanya jurnal khusus, yang berfungsi untuk menjurnal secara terpisah transaksi-transaksi yang berulang seperti penjualan, pembelian, penerimaan kas, dan pengeluaran kas. 

Sedangkan pencatatan-pencatatan yang sifatnya tidak berulang seperti koreksi, penyesuaian, dan penutupan, akan dijurnal melalui jurnal umum.

Perusahaan yang dalam transaksi penjualan dan pembeliannya dilakukan secara kredit, akan memerlukan akun yang terpisah untuk tiap pelanggan dan pemasok, agar memudahkan control atas detail piutang dan utang. 

Disinilah dibutuhkan buku besar pembantu (subsidiary ledger) yang merinci detail utang ke pemasok dan juga piutang ke pelanggan. 

Jurnal Khusus Penjualan

Saat penjualan yang dilakukan secara kredit terjadi, perusahaan akan mendebit piutang dagang dan mengkredit penjualan. 

Pada jurnal khusus penjualan, informasi yang diinput berupa nama pelanggan saja. Kemudian, data tiap masing-masing pelanggan tersebut dipisahkan ke dalam buku besar pembantu yang berisi informasi mengenai debit kredit dari piutang pelanggan yang bersangkutan. 

Pada akhir bulan, total penjualan di jurnal khusus penjualan dipindahkan ke buku besar. 

Untuk lebih memudahkan pemahaman di atas, saya akan menjelaskannya dengan contoh transaksi penjualan kredit PT XYZ pada Januari 2020 berikut:

  • Tanggal 3, menjual barang ke H. Naim senilai 3 juta.
  • Tanggal 9, menjual barang ke Desta senilai 5 juta. 
  • Tanggal 18, menjual barang ke Vincent senilai 6 juta.
  • Tanggal 26, menjual barang ke H. Naim senilai 2 juta. 

Maka, jurnal khusus penjualannya adalah:

Jurnal Penjualan

Tanggal Akun yang Didebit Ref Jumlah
Jan 3 H. Naim 3,000,000
Jan 9 Desta 5,000,000
Jan 18 Vincent 6,000,000
Jan 26 H. Naim 2,000,000
16,000,000

Selanjutnya, dibuat buku besar pembantu piutang pelanggan:

Buku Besar Pembantu - Piutang Pelanggan

H. Naim

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 3 3,000,000
3,000,000
Jan 26 2,000,000 5,000,000

Desta

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 9 5,000,000
5,000,000

Vincent

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 18 6,000,000
6,000,000

Pada akhir bulan atau tanggal 31 Januari 2020, jumlah total pada jurnal penjualan, dipost ke buku besar piutang dagang sisi debit dan buku besar penjualan di sisi kredit:

Buku Besar Piutang Dagang

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo Akhir
Jan 31 Posting 16,000,000 - 16,000,000

Buku Besar Penjualan

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo Akhir
Jan 31 Posting - 16,000,000 16,000,000

Sebagai kontrol, jumlah saldo akhir di buku besar piutang dagang, harus sama dengan total piutang dagang di buku besar pembantu.

Jurnal Khusus Pembelian

Dalam suatu bisnis, kegiatan pembelian barang dagang sebagai persedian dilakukan secara reguler dan diakui oleh perusahaan saat pemasok menerbitkan invoice

Keterangan Debit Kredit
Pembelian XXX
Utang Dagang     
XXX

Pada perusahaan dagang, kebanyakan pembelian adalah untuk persediaan barang dagang dan juga perlengkapan pendukung. 

Namun, di luar itu, untuk menunjang operasionalnya, perusahaan mungkin saja membeli aset tetap berupa peralatan, tanah, ataupun kendaraan. 

Hal ini menyebabkan perlunya penambahan kolom pada jurnal khusus pembelian, untuk memberi keterangan jenis barang yang dibeli di luar persediaan barang dagang.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan transaksi pembelian kredit PT XYZ pada Januari 2020 berikut:

  • Tanggal 4, membeli persediaan barang dagang dari PT Jouska senilai 20 juta.
  • Tanggal 9, membeli perlengkapan dari PT Luck senilai 4 juta.
  • Tanggal 11, membeli peralatan dari PT Mahesa senilai 35 juta.
  • Tanggal 18, membeli tanah dari H. Aakar senilai 120 juta.
  • Tanggal 23, membeli tambahan persediaan barang dagang dari PT Jouska senilai 8 juta.
  • Tanggal 27, membeli tambahan perlengkapan dari PT Luck senilai 2 juta.

Jurnal khusus pembeliannya adalah sebagai berikut:

Tanggal Akun yang Dikredit Ref Utang Dagang Persediaan Perlengkapan Lain-lain
Akun Jumlah
K D D D
Jan 4 PT Jouska 20,000,000 20,000,000
9 PT Luck 4,000,000 4,000,000
11 PT Mahesa 35,000,000 Peralatan 35,000,000
18 H. Aakar 120,000,000 Tanah 120,000,000
23 PT Jouska 8,000,000 8,000,000
27 PT Luck 2,000,000 2,000,000
189,000,000 28,000,000 6,000,000 155,000,000

Selanjutnya, dibuat buku besar pembantu utang:

PT Jouska

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 4 20,000,000 20,000,000
Jan 23 8,000,000 28,000,000

PT Luck

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 9 4,000,000 4,000,000
Jan 27 2,000,000 6,000,000

PT Mahesa

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 11 35,000,000 35,000,000

H. Aakar

Tanggal Debit Kredit Saldo
Jan 11 120,000,000 120,000,000

Pada akhir bulan, total dari utang dagang, persediaan, dan perlengkapan dipost ke buku besar, sedangkan untuk akun lain-lain dipost sesuai dengan akun yang dibeli, bukan totalnya.

Buku Besar Utang

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Jan 31 Posting 189,000,000 189,000,000

Buku Besar Persediaan

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Jan 31 Posting 28,000,000 28,000,000

Buku Besar Perlengkapan

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Jan 31 Posting  6,000,000  6,000,000

Buku Besar Peralatan

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Jan 31 Posting 35,000,000 35,000,000

Buku Besar Tanah

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Jan 31 Posting 120,000,000 120,000,000

Untuk memastikan bahwa buku besar utang sudah seimbang, maka, jumlah saldo akhir di buku besar utang harus sama dengan total utang dari empat perusahaan di buku besar pembantu.  

Jurnal Khusus Penerimaan Kas

Transaksi yang berkaitan dengan kas hanya melibatkan dua jenis jurnal, yaitu penerimaan dan pengeluaran kas. 

Kenaikan jumlah kas di neraca bisa bersumber dari penjualan tunai, penagihan piutang dari pelanggan, retur pembelian, investasi, penerimaan pinjaman dari penerbitan surat utang seperti obligasi, maupun setoran modal dari pemegang saham.  

Prosedur untuk mencatat dan memposting penerimaan kas pada jurnal khusus penerimaan kas yaitu dengan mendebit total kas yang diterima pada kolom kas. 

Setiap penerimaan kas yang berasal dari penagihan piutang pelanggan atau penjualan, diinput pada akun masing-masing pelanggan dengan mengkreditnya pada kolom piutang atau penjualan, sedangkan penerimaan kas yang bersumber dari selain penjualan, diinput pada kolom lain-lain. 

Terakhir, untuk memastikan bahwa jurnal sudah benar atau dengan kata lain debit dan kredit memiliki jumlah yang seimbang, tinggal menyamakan jumlah antara kolom kas (debit) dengan tiga kolom lainnya (kredit).

Untuk lebih jelasnya, perhatikan transaksi PT XYZ pada Februari 2020 berikut:

  • Tanggal 4, menerima pembayaran sebagian tagihan dari H. Naim senilai 3 juta.
  • Tanggal 7, mengembalikan persediaan barang yang cacat ke PT Jouska dan menerima kas senilai 1 juta.  
  • Tanggal 15, menerima kas dari penjualan tunai pada pertengahan bulan senilai 20 juta.
  • Tanggal 21, menerima cek dari Vincent untuk pembayaran penuh piutang senilai 6 juta.
  • Tanggal 28, menerima kas dari penjualan tunai pada pertengahan bulan ke-2 senilai 18 juta.

Jurnal penerimaan kasnya adalah sebagai berikut:

Tanggal Akun yang Dikredit Ref Kas Piutang Penjualan Lain-lain
D K K K
Feb 4 H. Naim 3,000,000 3,000,000
7 Retur Pembelian 1,000,000 1,000,000
15 Penjualan 20,000,000    20,000,000
21 Vincent 6,000,000 6,000,000
28 Penjualan 18,000,000    18,000,000
48,000,000 9,000,000    38,000,000 1,000,000

Selanjutnya, atas pembayaran piutang oleh pelanggan, buku besar pembantu piutang diupdate dengan transaksi terbaru:

H. Naim

Tanggal Debit Kredit Saldo
Feb Bal 5,000,000 5,000,000
Feb 4 3,000,000.00 2,000,000

Vincent

Tanggal Debit Kredit Saldo
Feb Bal 6,000,000 6,000,000
Feb 21 6,000,000.00 0

Kemudian, pencatatan pada jurnal khusus penerimaan kas dipost ke buku besar:

Buku Besar Kas

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 29 Posting 48,000,000 48,000,000

Buku Besar Piutang

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 1 Bal 16,000,000 16,000,000
Feb 29 Posting 9,000,000 7,000,000

Buku Besar Penjualan

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 29 Posting 38,000,000 38,000,000

Buku Besar Retur Pembelian

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 29 Posting 1,000,000 1,000,000

Jurnal Khusus Pengeluaran Kas

Jurnal khusus pengeluaran kas digunakan untuk mencatat seluruh transaksi yang mengurangi jumlah kas di neraca

Transaksi ini bisa berupa pembayaran utang ke kreditur, pengeluaran kas untuk membeli persediaan barang dagang, perlengkapan, dan peralatan, pembayaran beban-beban, seperti beban gaji, beban sewa, beban asuransi, maupun pengeluaran untuk mengompensasi retur penjualan. 

Prosedur untuk mencatat dan memposting pengeluaran kas pada jurnal khusus pengeluaran kas yaitu dengan mengkredit total kas yang dikeluarkan pada kolom kas. 

Setiap pengeluaran kas yang digunakan untuk pembayaran utang, diinput pada akun masing-masing pemasok dengan mengkreditnya pada kolom utang, sedangkan pengeluaran kas untuk pembelian persediaan secara tunai ataupun untuk pembayaran beban-beban, diinput pada kolom lain-lain.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan transaksi PT XYZ pada Februari 2020 berikut:

  • Tanggal 3, membayar utang ke PT Luck senilai 4 juta.
  • Tanggal 10, membayar beban sewa senilai 17 juta.
  • Tanggal 16, membeli persediaan secara tunai senilai 5 juta.
  • Tanggal 25, membayar gaji karyawan senilai 18 juta.

Jurnal khusus pengeluaran kasnya adalah sebagai berikut:

Tanggal Akun yang Didebit Ref Kas Utang Lain-lain
K D D
Feb 3 PT Luck 4,000,000 4,000,000
10 Beban Sewa 17,000,000 17,000,000
16 Pembelian 5,000,000 5,000,000
25 Beban Gaji 18,000,000 18,000,000
44,000,000 4,000,000 40,000,000

Selanjutnya, atas pembayaran utang ke PT Luck, maka, buku besar pembantu utang diupdate dengan transaksi terbaru:

PT Luck

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 1 Bal 6,000,000 6,000,000
Feb 3
4,000,000 2,000,000

Kemudian, pencatatan pada jurnal khusus pengeluaran kas dipost ke buku besar:

Buku Besar Kas

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 1 Bal 48,000,000 48,000,000
Feb 29 Posting 44,000,000 4,000,000

Buku Besar Utang

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 1 Bal 189,000,000 189,000,000
Feb 29 Posting 4,000,000 185,000,000

Buku Besar Pembelian

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 16 Posting 5,000,000 5,000,000

Buku Besar Beban Sewa

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 10 Posting 17,000,000 17,000,000

Buku Besar Beban Gaji

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
Feb 25 Posting 18,000,000 18,000,000

Itulah jurnal-jurnal khusus yang digunakan untuk mencatat transaksi berulang seperti penjualan, pembelian, penerimaan kas, dan pengeluaran kas. 

Transaksi yang Biasa Muncul atas Penjualan dan Pembelian

Kalau kamu memperhatikan transaksi-transaksi di atas, maka kamu akan menemukan transaksi bernama retur. Retur, bersama dengan diskon menjadi bagian yang tak terpisahkan dari transaksi penjualan dan pembelian.

Retur Penjualan dan Pembelian

Beberapa faktor seperti barang yang rusak ataupun ketidaksesuaian antara spesifikasi barang yang dipesan dengan yang dikirim seringkali menyebabkan terjadinya retur. 

Apabila kamu dalam posisi sebagai pembeli, maka retur tersebut disebut dengan retur pembelian, sedangkan bila kamu di posisi penjual, maka retur tersebut disebut dengan retur penjualan.

Dalam hal di perusahaan sering terjadi transaksi yang melibatkan retur pembelian atau retur penjualan, maka, jurnal khusus atas transaksi retur tersebut perlu dibuat. Namun, pada tulisan ini, asumsikan retur tidak sering terjadi, sehingga cukup dicatat dengan menggunakan jurnal umum.

Untuk retur pembelian, entri jurnalnya adalah sebagai berikut:

Keterangan Debit Kredit
Utang Dagang XXX
Retur Pembelian, PT Jouska XXX

Jumlah utang pada buku besar dan buku besar pembantu PT Jouska, harus diupdate. Pada kasus lain, di mana retur berupa penerimaan kas, maka, jurnal khusus penerimaan kas yang digunakan.

Sedangkan untuk retur penjualan, jurnalnya adalah sebagai berikut:

Keterangan Debit Kredit
Retur Penjualan, H.Naim XXX
Piutang Dagang XXX

Jumlah piutang pada buku besar dan buku besar pembantu H.Naim, harus diupdate. 

Pada kasus lain, di mana retur berupa pengembalian kas, maka, jurnal khusus pengeluaran kas yang digunakan.

Diskon

Untuk memicu pembeli agar melakukan pembayaran lebih cepat, penjual biasanya memberikan insentif berupa diskon tunai

Seandainya jatuh tempo pembayaran adalah 30 hari setelah invoice terbit, maka, dalam akuntansi akan disimbolkan dengan n/30. 

Nah, penjual biasanya memberi insentif diskon apabila pembayaran dilakukan dalam jangka waktu tertentu, misal bila membayar dalam jangka waktu 10 hari setelah invoice terbit, akan mendapat diskon sebesar 2%, yang dalam akuntansi disimbolkan dengan 2/10.

Jadi, bila term pembayaran adalah 2/10, n/30, artinya adalah pembeli akan mendapatkan diskon sebesar 2% apabila membayar dalam waktu 10 hari setelah invoice terbit dan jangka waktu jatuh temponya adalah 30 hari setelah invoice terbit.

Meski biasanya jangka waktu diskon dihitung sejak invoice terbit, ada juga term yang menyebutkan bahwa jangka waktu diskon dihitung sejak barang diterima atau receipt of the goods (ROG) dan sejak akhir bulan atau end of the month (EOM).

Bila invoice terbit pada tanggal 5 Agustus dan barang diterima pada tanggal 15 Agustus, term pembayaran 2/10, n/30 ROG, maka tanggal terakhir untuk mendapatkan diskon adalah pada tanggal 25 Agustus atau sepuluh hari sejak barang diterima. 

Untuk kasus yang sama, namun term-nya adalah 2/10, n/30 EOM, maka, tanggal terakhir untuk mendapatkan diskon adalah pada tanggal 10 September atau sepuluh hari setelah akhir bulan Agustus.

Penutup

Beberapa operator software akuntansi yang saya temui di perusahaan-perusahaan yang pernah saya tangani laporan keuangannya banyak yang tidak memahami jurnal khusus-jurnal khusus di atas karena tingkat ketergantungannya yang sangat tinggi pada software akuntansi.

Software-software tersebut memang sudah menyediakan menu-menu khusus untuk menginput transaksi berulang dan secara otomatis menghasilkan laporan keuangan tanpa perlu repot membuat entri jurnal manual, buku besar, buku besar pembantu, dan neraca saldo.

Kenyataannya, pemahaman akan jurnal khusus tersebut memang lebih dibutuhkan bila perusahaan menggunakan pembukuan manual. Pada perusahaan-perusahaan tersebut, jurnal khusus dapat mengurangi tugas yang menjemukan dalam hal membuat entri jurnal umum atas transaksi berulang.

Sekian tulisan saya mengenai jurnal khusus untuk transaksi berulang. 

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment

0 Comments

Comments