Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perlakuan Piutang Tak Tertagih dalam Akuntansi

Perlakuan Piutang Tak Tertagih dalam Akuntansi

Akuntansi atas piutang tak tertagih mengatur pencatatan atas penghapusan suatu piutang yang diperkirakan tak dibayar oleh pelanggannya di awal penjualan atau dalam jangka waktu tertentu.

Piutang usaha adalah jumlah klaim perusahaan atas sejumlah uang kepada pelanggan atau klien-nya atas penyediaan barang atau jasa. 

Piutang timbul karena perusahaan menjual secara kredit. Transaksi kredit merupakan transaksi yang biasa terjadi dalam transaksi business-to-business.

Jika bisnis sedang berjalan dengan baik, bisa dibayangkan betapa banyak jumlah pelanggan perusahaan. Hal ini secara otomatis juga akan meningkatkan jumlah piutang usaha. 

Oleh karena itu, untuk menangani transaksi yang sering terjadi dan juga berulang-ulang, dalam akuntansi dikenal yang namanya jurnal khusus (special journal) dan buku besar pembantu (subsidiary ledger). Terkait hal ini, saya sudah menjelaskannya pada tulisan yang berjudul "Jurnal Khusus untuk Transaksi Berulang".

Selanjutnya, apa yang terjadi bila pelanggan tidak membayar? 

Anggaplah pelanggan bangkrut atau tidak membayar dalam jangka waktu tiga tahun lebih karena suatu sebab. Cepat atau lambat, perusahaan harus menyadari bahwa piutang ini tidak akan pernah terbayar dan perlu segera mengeluarkannya dari neraca perusahaan. 

Ada dua metode dalam akuntansi untuk mengeluarkan atau menghapus piutang tak tertagih dari neraca perusahaan, yaitu metode penghapusan langsung (direct write off method) dan metode penyisihan (allowance method).

Metode penghapusan langsung piutang tak tertagih

Metode penghapusan langsung piutang tak tertagih (direct write off method), sesuai namanya, langsung menghapus piutang yang diperkirakan tak akan tertagih. 

Dengan metode ini, ketika perusahaan menghapus piutang usaha dari suatu akun atau pelanggan, maka, pada jurnal yang dibuat dapat dicantumkan nama pelanggan yang bersangkutan dan juga pada buku besar pembantu pelanggan tersebut perlu dilakukan penyesuaian.

Asumsikan pelanggan perusahaan yang bernama Indah Hapsari, karena suatu sebab yang cukup pelik, tidak membayar kewajibannya senilai 100 juta, selanjutnya, perusahaan memutuskan untuk menghapus piutang itu. 

Bila menggunakan metode penghapusan langsung, maka jurnal untuk menghapus piutang tersebut adalah:

xx/xx/xx Beban Piutang Tak Tertagih 100 juta
Piutang Usaha - Indah Hapsari 100 juta
Untuk menghapus saldo piutang usaha

Kekurangan dari metode ini adalah kamu perlu menunggu waktu yang lama untuk menyadari bahwa pelanggan merupakan pelanggan bermasalah. 

Intinya, kamu baru bisa menghapus piutang ketika pelanggan yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda tidak akan atau tidak sanggup membayar tagihannya. 

Hal ini menjadikan metode penghapusan langsung cenderung mengabaikan prinsip laporan yang baik, yaitu matching principle, dimana pada prinsip ini, beban penghapusan piutang seharusnya diakui pada periode yang sama dengan periode ketika penjualan tersebut terjadi. 

Inilah mengapa metode penyisihan piutang (allowance method) lebih bisa diterima dalam akuntansi. 

Metode penyisihan piutang tak tertagih

Pada metode penyisihan (allowance method), perusahaan mengakui piutang tak tertagih pada periode yang sama dengan periode ketika pendapatan terjadi. Artinya, perusahaan sebenarnya tidak mengetahui secara pasti pelanggan mana yang akan bermasalah. 

Loh, jadi gimana menghitung beban piutang tak tertagih kalau hal tersebut belum terjadi?

Jadi, ada dua metode untuk mencadangkan piutang yang diperkirakan tak tertagih atau biasa disebut dengan cadangan piutang ragu-ragu (allowance for doubtful account), yaitu dengan menggunakan persentase dari penjualan dan menggunakan umur piutang (aging for accounts receivable).

Penyisihan piutang tak tertagih berdasarkan persentase penjualan  

Pada cara ini, perusahaan menggunakan pengalamannya di masa lalu untuk mencadangkan piutang yang diperkirakan tak akan tertagih, dengan memperkirakan persentase piutang tak tertagih dari total penjualan kredit pada suatu periode. 

Misalnya, berdasarkan pengalaman perusahaan selama tiga tahun terakhir, perusahaan memperkirakan bahwa sekitar 1 persen dari total penjualan kredit pada periode ini akan tak tertagih. Maka, bila total penjualan kredit pada periode ini adalah sebesar 2 miliar, nilai yang perlu disisihkan sebagai cadangan piutang ragu-ragu adalah sebesar 20 juta (1% x 2 miliar). Entri jurnal atas pencadangan tersebut adalah:

xx/xx/xx Beban Piutang Tak Tertagih 20 juta
Cadangan Piutang Ragu -Ragu 20 juta
Untuk mencatat beban piutang tak tertagih pada periode laporan

Cadangan piutang ragu-ragu adalah aset lancar dan merupakan akun kontra dari piutang usaha. Di neraca perusahaan, akun cadangan piutang ragu-ragu ditempatkan tepat setelah akun piutang usaha dan berfungsi untuk mengurangi nilai piutang usaha. 

Penampakan dari akun cadangan piutang ragu-ragu di neraca, kurang lebih adalah seperti berikut:

Piutang Usaha 2 miliar
Dikurang: Cadangan Piutang Ragu - ragu 20 juta
Piutang Usaha Bersih 1,98 miliar

Umur piutang tak tertagih

Dengan umur piutang (aging of account receivable), piutang dari masing-masing pelanggan diklasifikasikan berdasarkan umur dari piutangnya. Biasanya, umur piutang diklasifikasikan menjadi 1-30 hari, 31-60 hari, 61-90 hari, 91-120 hari, dan 120 hari lebih.

Semakin tua umur piutang, semakin tinggi persentase yang digunakan untuk pencadangannya. Seperti misalnya, 10 persen untuk umur piutang di atas 120 hari, 5 persen untuk umur piutang 91-120 hari, dan 1 persen untuk umur piutang 61-90 hari.

Untuk mempermudah pemahaman atas hal tersebut, asumsikan pada tanggal 31 Desember 2020, PT XYZ memiliki tiga pelanggan yang bertransaksi secara kredit, yaitu PT Jouska, H. Aakar, dan Indah Hapsari, dengan rincian umur piutang sebagai berikut:

PT   XYZ
Umur Piutang Usaha
31 Desember 2020
Pelanggan Total 1-30 31-60 61-90 91-120 120+
Jouska 130,000,000 30,000,000 30,000,000 30,000,000 40,000,000    -
H. Aakar 85,000,000    -    - 45,000,000 20,000,000 20,000,000
Indah Hapsari 35,000,000 35,000,000    -    -    -    -
Total 250,000,000 65,000,000 30,000,000 75,000,000 60,000,000 20,000,000
Cadangan % 1% 5% 10%
Cadangan 5,750,000 750,000 3,000,000 2,000,000

Dari umur piutang tersebut, cadangan piutang yang harus dibentuk adalah sebesar 5,75 juta dan saat ini, asumsikan nilai cadangan piutang ragu-ragu di buku besar adalah sebesar 3 juta. 

Atas hal tersebut, PT XYZ perlu mengkredit cadangan piutang ragu-ragu sebesar 2,75 juta agar nilainya menjadi 5,75 juta. Entri jurnalnya adalah sebagai berikut:

31/12/2020 Beban Piutang Tak Tertagih 2,75 juta
Cadangan Piutang Ragu - Ragu 2,75 juta
Untuk melakukan adjustment atas nilai cadangan piutang

Inilah yang terjadi di buku besar cadangan piutang ragu-ragu setelah dilakukan jurnal penyesuaian: 

Cadangan Piutang Ragu-Ragu
D K
Saldo saat ini 3 juta
Penyesuaian 2,75 juta
Saldo setelah penyesuaian 5,75 juta

Jika pada suatu waktu PT XYZ memutuskan salah satu dari pelanggannya sudah tidak bisa ditagih lagi, maka, dalam menghapu piutang tak tertagih pelanggan yang bersangkutan, PT XYZ cukup mendebit cadangan piutang tersebut dan bukan beban piutang tak tertagih yang sudah diakui pada periode yang sama dengan periode saat penjualan terjadi. 

Dengan demikian, metode penyisihan memenuhi matching concept

Adapun entri jurnal untuk penghapusannya adalah sebagai berikut:

xx/xx/xx Cadangan Piutang Ragu-Ragu xxx
Piutang Usaha xxx
Untuk menghapus saldo piutang usaha

Apa yang harus dilakukan bila ternyata pelanggan yang piutangnya sudah dihapus, membayar kewajibannya?

Pertama-tama adalah membalik jurnal yang telah dibuat saat penghapusan piutang:

xx/xx/xx Piutang Usaha xxx
Cadangan Piutang Ragu-Ragu xxx
Untuk mengembalikan piutang usaha yang telah dihapus

Selanjutnya, lakukan penjurnalan atas penerimaan kas seperti biasa:

xx/xx/xx Kas xxx
Piutang Usaha xxx
Penerimaan atas pembayaran piutang

Penutup

Dalam akuntansi, ada dua metode pencatatan atas piutang tak tertagih, yaitu dengan metode langsung dan penyisihan.

Metode langsung, sesuai dengan namanya, menghapus piutang yang tertagih ketika pelanggan memang sudah tidak membayar utangnya lagi.

Kelemahan metode langsung adalah pengakuan beban dapat terjadi pada periode yang tak sama dengan terjadinya penjualan sehingga metode iini cenderung mengabaikan prinsip penandingan.

Atas hal tersebut, akuntansi memperkenalkan metode penghapusan piutang tak tertagih lainnya, yaitu dengan metode penyisihan yang langsung membebankan piutang tak tertagih ketika pada periode yang sama dengan periode penjualan.

Nilai penyisihan dapat ditentukan dengan berdasarkan pengalaman perusahaan di masa lalu ataupun dengan menggunakan umur piutang.

Pada beberapa industri, seperti misalnya perbankan, pencadangan atas piutang diatur secara ketat, dimana tarif pencadangannya sendiri sudah diatur dalam peraturan OJK (POJK) dan tentu saja PSAK.

Sekian penjelasan saya mengenai piutang tak tertagih dalam akuntansi. 

Stay safe and stay healthy. Take care!