Advertisement

Ad Code

Pengakuan Pendapatan Metode Persentase Penyelesaian dalam Akuntansi

Pengakuan Pendapatan Metode Persentase Penyelesaian

Pengakuan pendapatan metode persentase penyelesaian (percentage of completion method) merupakan suatu metode dalam akuntansi yang mengakui pendapatan secara bertahap.

Pada metode ini, pembeli memiliki hak terkait kemajuan atas proyek yang dikerjakan, di sisi lain, penjual berhak atas pembayaran kemajuan proyek tersebut.

Metode persentase penyelesaian tidak melanggar prinsip akuntansi akrual, karena pada dasarnya, kontraktor mengakui pendapatan yang dapat direalisasi secara wajar.

Kapan Metode Persentase Penyelesaian Digunakan?

Metode persentase penyelesaian digunakan ketika tahapan atas kemajuan suatu proyek dapat diperkirakan secara wajar, termasuk pendapatan dan biaya terkait.

Atas hal tersebut, kesemuanya perlu dituangkan dalam kontrak yang dengan jelas menetapkan jasa atau produk yang akan diberikan, beserta pembayaran atas jasa atau produk tersebut.

Ini artinya, pembeli menyanggupi untuk memenuhi kewajiban kontrak atas pembayaran dari kemajuan (progress) jasa yang diberikan.

Dari pihak penjual (kontraktor), ada suatu pernyataan mengenai kesanggupan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah dituangkan pada kontrak.

Bila semua kondisi di atas tidak dapat dipenuhi, maka, metode kontrak selesai yang harus digunakan.

Pencatatan atas Metode Persentase Penyelesaian

Metode ini mengakui porsi laba yang dapat diakui tiap tahunnya berdasarkan formula berikut:

Laba yang diakui \(= \frac{\text{Biaya yang telah dikeluarkan}}{\text{Total Biaya yang diproyeksikan}} \times (\text{Laba yang diestimasi}\)

\( - \text{Laba tahun sebelumnya})\)

Untuk memudahkan perbandingan antara metode persentase penyelesaian dengan metode kontrak selesai, saya akan menggunakan contoh kasus yang sama pada tulisan sebelumnya mengenai metode kontrak selesai.

Asumsikan PT XYZ mendapatkan kontrak senilai 30 miliar untuk membangun sebuah gedung pada tanggal 1 Januari 2019. Proyek ini membutuhkan waktu 3 tahun untuk penyelesaiannya. 

Berikut informasi terkait transaksi tersebut:

Keterangan 2019 2020 2021 Total
Biaya konstruksi 7 M 8,5 M 8,5 M 24 M
Tagihan 7,5 M 10,5 M 12 M 30 M
Penerimaan kas 7 M 9 M 14 M 30 M
Perkiraan biaya penyelesaian pada 31 Des 12,5 M 7 M - -

Entri atas transaksi tersebut, tiap tahunnya, sama dengan entri pada metode kontrak selesai, yaitu:

Year Akun Debit Kredit
2019 Konstruksi dalam Proses 7 miliar
Beban - Beban 7 miliar
Piutang Usaha 7,5 miliar
Tagihan Jasa Konstruksi 7,5 miliar
Kas 7 miliar
Piutang Usaha 7 miliar
2020 Konstruksi dalam Proses 8,5 miliar
Beban - Beban 8,5 miliar
Piutang Usaha 10,5 miliar
Tagihan Jasa Konstruksi 10,5 miliar
Kas 9 miliar
Piutang Usaha 9 miliar
2021 Konstruksi dalam Proses 8,5 miliar
Beban - Beban 8,5 miliar
Piutang Usaha 12 miliar
Tagihan Jasa Konstruksi 12 miliar
Kas 14 miliar
Piutang Usaha 14 miliar

Perbedaannya dengan metode kontrak selesai, pada metode persentase penyelesaian, ada entri penyesuaian akhir tahun yang perlu dibuat untuk mengakui pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan.

Entri tersebut tidak ada pada metode kontrak selesai, yang mengakui seluruh pendapatan di akhir atau pada saat proyek selesai.

Entri pada akhir tahun 2019 adalah:

Akun Debit Kredit
Konstruksi dalam Proses 3,77 miliar
Pendapatan Konstruksi 3,77 miliar

Entri ini mengakui adanya pendapatan yang sudah menjadi hak PT XYZ di tahun 2019 atas kemajuan proyek yang telah dikerjakan.

Bagaimana cara menghitung nilai dari pendapatan yang dapat diakui?

Caranya yaitu dengan memasukan data-data proyek PT XYZ pada formula yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu:

\(\frac{7 \, \text{miliar}}{7 \, \text{miliar} + 12,5 \, \text{miliar}} \times 10,5 \, \text{miliar} - 0 = 3,77 \, \text{miliar}\)

Dari mana angka 10,5 miliar?

10,5 miliar merupakan laba yang diharapkan oleh PT XYZ di tahun 2019 pada saat proyek ini selesai.

Angka tersebut didapat dengan mengurangkan nilai kontrak sebesar 30 miliar dengan biaya yang telah dikeluarkan pada tahun 2019 sebesar 7 miliar, kemudian dikurangkan lagi dengan perkiraan di tahun 2019 atas biaya yang diperlukan hingga proyek selesai sebesar 12,5 miliar. 

Pada tahun 2020, pendapatan yang diakui adalah sebesar:

\(\frac{{7 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar}}}{{7 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar} + 7 \, \text{miliar}}} \times (7,5 \, \text{miliar} - 3,77 \, \text{miliar}) = 1,39 \, \text{miliar}\)

Perhatikan!

Laba yang diharapkan turun sebesar 3 miliar, dari 10,5 miliar pada tahun 2019 menjadi 7,5 miliar pada tahun 2020.

Meskipun penurunan laba pada contoh ini cukup ekstrim, yaitu sebesar 3 miliar, namun pada kenyataannya penurunan laba yang diharapkan seiring berjalannya proyek adalah hal yang wajar.

7,5 miliar didapat dengan mengurangkan nilai proyek sebesar 30 miliar dengan biaya yang telah dikeluarkan pada tahun 2019 dan 2020, yang masing-masing adalah sebesar 7 miliar dan 8,5 miliar, kemudian dikurangkan lagi dengan estimasi pada tahun 2020 atas biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek, yaitu sebesar 7 miliar.

Entri jurnal atas pengakuan pendapatan proyek PT XYZ pada 2020 adalah:

Akun Debit Kredit
Konstruksi dalam Proses 1,39 miliar
Pendapatan Konstruksi 1,39 miliar

Selanjutnya, pada tahun 2021, pendapatan yang diakui adalah sebesar:

\(\frac{{7 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar}}}{{7 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar} + 8,5 \, \text{miliar}}} \times 6 \, \text{miliar}\)

- 1,39 miliar - 3,77 miliar = 0,84 miliar

Ini artinya, pendapatan yang diakui pada tahun 2021 adalah senilai 0,84 miliar.

Entrinya adalah sebagai berikut:

Akun Debit Kredit
Konstruksi dalam Proses 0,84 miliar
Pendapatan Konstruksi 0,84 miliar

Menutup Akun Konstruksi dalam Proses dan Tagihan Jasa Konstruksi

Tiap tahun, selama masa pengerjaan proyek, beberapa entri dibuat dan mempengaruhi beberapa akun.

Pada metode persentase penyelesaian, untuk akun konstruksi dalam proses dan juga tagihan jasa konstruksi, perusahaan kontraktor perlu menutup pada tahun di mana proyek tersebut selesai dikerjakan.

Atas entri yang dilakukan PT XYZ dari tahun 2019 hingga tahun 2021, maka, saldo buku besar atas kedua akun tersebut adalah sebagai berikut:

Metode Persentase Penyelesaian

Perhatikan!

Saldo kedua akun tersebut, pada saat proyek telah selesai dikerjakan, adalah sama, yaitu senilai 30 miliar.

Penyebab hal tersebut adalah karena penggunaan akun Konstruksi dalam Proses pada saat pengakuan pendapatan dan beban.

Atas hal tersebut, maka, satu entri terakhir atas proyek ini perlu dibuat, dengan tujuan menutup kedua akun tersebut.

Entrinya adalah sebagai berikut:

Akun Debit Kredit
Tagihan Jasa Konstruksi 30 miliar
Konstruksi dalam proses 30 miliar

Pencatatan (Bila) Proyek Rugi pada Metode Persentase Penyelesaian

Bila selama masa konstruksi proyek, perusahaan memperkirakan akan mengalami kerugian karena ternyata biaya aktual jauh lebih tinggi dari biaya yang diestimasi, maka entrinya adalah:

Akun Debit Kredit
Kerugian Jasa Konstruksi xxx
Konstruksi dalam Proses xxx

Jika pada tahun-tahun sebelumnya perusahaan sudah mengakui laba atas proyek yang ternyata rugi, maka, laba tersebut harus dibatalkan dengan menggunakan jurnal pembalik.

Penutup

Pada metode persentase penyelesaian, pengakuan pendapatan adalah berdasarkan evaluasi atas kemajuan pekerjaan selama kontrak proyek.

Pendapatan, beban, dan laba yang dilaporkan pada tiap periodenya, berdasarkan pada persentase pekerjaan yang diselesaikan ataupun biaya aktual pekerjaan. 

Terkait pengakuan pendapatan, metode akuntansi tak sebatas metode persentase penyelesaian dan metode kontrak selesai. Namun, ada juga metode lainnya, seperti metode penangguhan laba kotor.

Sekian tulisan saya mengenai pengakuan pendapatan menggunakan metode persentase penyelesaian.

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment

0 Comments

Comments