Advertisement

Ad Code

Kupas Tuntas Laporan Tahunan BCA 2023

Kupas Tuntas Laporan Tahunan BCA 2023

PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Pada Januari 2024, kapitalisasinya mencapai Rp1.165,50 triliun (dataindonesia.id)[1].

Pada tahun 2023, menurut laporan tahunannya, BCA berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp48,6 triliun, yang merupakan rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa BCA telah berhasil menjadi yang terdepan dalam persaingan melalui kinerja keuangan yang mengesankan, pertumbuhan kredit yang stabil, inovasi dalam teknologi informasi, serta peningkatan kualitas aset dan pengembangan sumber daya manusia.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai kinerja keuangan dan strategi pertumbuhan Bank Central Asia (BCA) berdasarkan laporan tahunannya pada tahun 2023[2].

Unleashing Potential, Delivering Value: Tinjauan Laporan Tahunan BCA 2023

Tahun 2023 menjadi momentum bagi Bank Central Asia (BCA) untuk melangkah maju dengan tema "Unleashing Potential, Delivering Value".

Di tengah tantangan ekonomi global, BCA menunjukkan keunggulannya melalui beberapa hal:

  • Pertumbuhan Solid: BCA mencatat pertumbuhan portofolio kredit dan dana pihak ketiga yang kokoh, mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang berfokus pada pasar.
  • Fokus pada Nasabah: Dengan menghadirkan inovasi produk dan layanan perbankan, BCA memanfaatkan teknologi secara optimal untuk meningkatkan pengalaman nasabah, yang pada gilirannya mempertahankan loyalitas mereka.
  • Komitmen pada Keberlanjutan: BCA menegaskan komitmennya terhadap aspek bisnis dan ESG (Environmental, Social, Governance), mencerminkan tanggung jawab sosial perusahaan yang kuat.
  • Investasi Strategis: BCA mengalokasikan investasi pada sumber daya manusia dan teknologi, mengoptimalkan potensi yang ada untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Dengan fondasi strategis yang kokoh ini, BCA tetap mampu bertahan menjadi pemain kunci dalam industri perbankan Indonesia, memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Dinamika Ekonomi Indonesia: Analisis Laporan Tahunan BCA 2023

Aspek Pertumbuhan/Nilai
Pertumbuhan Ekonomi Stabil
Surplus Neraca Perdagangan Menurun
PMI Manufaktur 52,0
Investasi PMA 10,2%
Investasi PMDN 22,1%
Konsumsi Rumah Tangga 4,82%
Inflasi 2,61%
Nilai Tukar Rupiah 1,11%
Suku Bunga Acuan BI 6,00%

Pada tahun 2023, perekonomian Indonesia menghadapi tantangan global yang signifikan, termasuk disrupsi pasokan energi di negara-negara barat, masalah sektor properti di Tiongkok, dan kenaikan suku bunga acuan the Fed hingga mencapai 5,50%, setelah mengalami kenaikan sebesar 425 bps di tahun sebelumnya. Namun, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Pemulihan permintaan komoditas oleh Tiongkok, meskipun harga komoditas masih mengalami penurunan, membantu menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia, meskipun tidak sebesar tahun sebelumnya. Industri manufaktur Indonesia juga mencatat kinerja yang kuat, dengan rata-rata PMI manufaktur mencapai 52,0, yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Investasi baik dari dalam maupun luar negeri terus mengalir, dengan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masing-masing tumbuh sebesar 10,2% dan 22,1%.

Konsumsi rumah tangga, yang menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi, juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 4,82% YoY, didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,61%. Pemerintah berhasil menjaga inflasi pangan yang disebabkan oleh El Nino dan mempertahankan daya beli konsumen melalui kebijakan intervensi dan pengeluaran fiskal.

Meskipun mengalami fluktuasi, nilai tukar Rupiah berhasil menguat secara keseluruhan, ditutup pada kurs Rp15.397/USD di akhir tahun, mengalami kenaikan sebesar 1,11% YoY. Bank Indonesia mengambil langkah-langkah yang tepat, termasuk peningkatan suku bunga acuan menjadi 6,00%, untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang.

Dengan demikian, melalui kebijakan yang tepat dan dukungan dari sektor-sektor kunci seperti industri manufaktur dan konsumsi rumah tangga, perekonomian Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan yang positif pada tahun 2023, meskipun dihadapkan pada tantangan global yang signifikan.

Evaluasi Kinerja Sektor Perbankan dan BCA dalam Laporan Tahunan 2023

Aspek Pertumbuhan/Nilai
Kredit Perbankan 10,3%
DPK Perbankan 3,8%
LDR 84,9%
Rasio Likuiditas 28,7%
KLM Rp163,3 triliun

Pada tahun 2023, sektor perbankan Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif, didorong oleh kebijakan pemerintah yang mendukung untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10,3% secara tahunan mencerminkan fungsi intermediasi yang kuat, dengan sektor perdagangan, jasa keuangan, dan industri pengolahan sebagai pendorong utama.

Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan juga tumbuh sebesar 3,8% YoY, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang moderat dan normalisasi harga komoditas ekspor. Likuiditas perbankan tetap terjaga dengan baik, dengan rasio Loan to Deposit (LDR) sebesar 84,9% dan rasio alat likuid terhadap DPK mencapai 28,7%. Kebijakan makroprudensial yang mendukung, termasuk Kebijakan Insentif Likuditas Makroprudensial (KLM), berhasil memberikan tambahan likuiditas sebesar Rp163,3 triliun pada akhir tahun.

Aspek Pertumbuhan/Nilai    
Total Aset BCA 7,1%
Kredit BCA 13,9%
LAR BCA 6,9%
Rasio NPL BCA  1,9%

PT Bank Central Asia Tbk (BCA), sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, memainkan peran kunci dalam mendukung pertumbuhan industri perbankan. Total aset konsolidasi BCA tumbuh sebesar 7,1% secara tahunan, dengan kredit sebagai komponen terbesar mencapai pertumbuhan 13,9% YoY. Kualitas kredit tetap terjaga dengan baik, dengan Loan at Risk (LAR) turun menjadi 6,9% dan rasio NPL (bruto) sebesar 1,9%.

Aspek Pertumbuhan/Nilai
Pembiayaan Berkelanjutan BCA 10,6%
Investasi Green Bond BCA Rp1,6 triliun

BCA juga aktif dalam pembiayaan berkelanjutan, dengan pertumbuhan pembiayaan ke sektor-sektor berkelanjutan sebesar 10,6%. Pembiayaan ramah lingkungan, termasuk pembiayaan kendaraan listrik, meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 2019. Selain itu, BCA berpartisipasi dalam perdagangan pertukaran karbon pertama di Indonesia dan melakukan investasi pada green bond senilai Rp1,6 triliun.

Aspek Pertumbuhan/Nilai
DPK BCA 6,0%
Rasio CASA BCA 80,3%
CAR BCA 29,4%
Laba Bersih BCA Rp48,6 triliun

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga BCA tumbuh sebesar 6,0%, dengan rasio CASA mencapai 80,3%. Pertumbuhan CASA didorong oleh peningkatan basis nasabah dan volume transaksi yang tinggi. Permodalan BCA tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 29,4%.

Dengan pertumbuhan kredit yang solid, perbaikan kualitas pinjaman yang konsisten, dan peningkatan pendanaan, BCA berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp48,6 triliun pada tahun 2023, naik 19,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan kinerja yang kuat dan posisi yang solid dalam industri perbankan Indonesia.

Segmentasi Kinerja Bisnis: Tinjauan Laporan Tahunan BCA 2023

Segmen Bisnis Data
Transaksi Perbankan Volume Transaksi: 30 miliar
Pertumbuhan Transaksi: 25,1%

Di segmen transaksi perbankan, BCA mempertahankan keunggulannya dengan mencatat volume transaksi yang tinggi, yang berdampak positif pada pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (CASA). Pada Desember 2023, CASA BCA mencapai 884,6 triliun Rupiah. Dukungan yang kuat dari dana CASA, interaksi yang solid antara nasabah, basis nasabah yang luas, dan kemampuan multi-channel dalam perbankan transaksi menjadi pendorong utama dalam meningkatkan pendanaan yang solid dan berbiaya rendah. Pada tahun 2023, BCA berhasil memproses lebih dari 30 miliar transaksi, menunjukkan peningkatan sebesar 25,1% dibanding tahun sebelumnya.

Segmen Bisnis Data
Perbankan Korporasi Portofolio Kredit: 368,7 triliun Rupiah

Di segmen perbankan korporasi, BCA menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan infrastruktur di Indonesia. Melalui penyaluran kredit sindikasi, BCA mendukung refinancing, akuisisi, dan pengembangan bisnis di berbagai sektor, termasuk infrastruktur, telekomunikasi, pertanian, dan industri. Portofolio kredit korporasi BCA pada tahun 2023 mencapai 368,7 triliun Rupiah.

Segmen Bisnis Data
Perbankan UKM RPIM: 21,3%
Portofolio Kredit UKM: 233,7 triliun Rupiah

Pertumbuhan portofolio UKM yang solid menjadi fokus dalam segmen perbankan komersial dan UKM. Investasi yang signifikan dalam pengembangan kapasitas dan manajemen kredit UKM telah menghasilkan peningkatan portofolio kredit. Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) BCA mencapai 21,3% pada Desember 2023, menunjukkan komitmen BCA dalam mendukung program pemerintah terkait penyaluran kredit UKM. Portofolio kredit UKM BCA pada tahun 2023 mencapai 233,7 triliun Rupiah.

Segmen Bisnis Data
Perbankan Individu Total Penyaluran Kredit Konsumer: 198,8 triliun Rupiah
Pertumbuhan Penyaluran Kredit Konsumer: 14,8%

Di segmen perbankan individu, BCA melakukan berbagai inisiatif untuk memperkuat portofolio. Melalui program-program yang bertujuan meningkatkan kualitas nasabah, redefinisi kriteria nasabah potensial, dan kampanye digital, BCA berhasil meningkatkan kredit konsumen. Pada tahun 2023, BCA mengadakan dua acara besar, BCA Expoversary 2023 dan BCA Expo 2023, yang memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan kredit konsumen.

Dalam penyaluran kredit konsumer, BCA mencatat pertumbuhan yang baik pada semua produk, termasuk KPR, KKB, dan Personal Loan. Total penyaluran kredit konsumer pada tahun 2023 mencapai 198,8 triliun Rupiah, meningkat sebesar 14,8% dari tahun sebelumnya.

Segmen Bisnis Data
Perbankan Tresuri Total Transaksi: 30 miliar
Investasi: 453,9 triliun Rupiah
Perbankan Internasional Pertumbuhan Transaksi Digital: >40%

Di Perbankan Tresuri, BCA menunjukkan pencapaian yang mengesankan. Pada tahun 2023, lebih dari 30 miliar transaksi berhasil diproses, menunjukkan kenaikan sebesar 25,1% dari tahun sebelumnya. Investasi yang dikelola oleh Perbankan Tresuri BCA mencapai Rp453,9 triliun per Desember 2023, atau setara dengan 32,2% dari total aset BCA.

Dalam layanan Perbankan Internasional, respons positif terhadap layanan remittance tercermin dari pertumbuhan transaksi melalui kanal digital yang mencapai lebih dari 40% pada tahun yang sama. Kerja sama dengan berbagai bank dan lembaga keuangan non-bank, baik di dalam maupun di luar negeri, juga terus berkembang. Melalui kerja sama ini, BCA memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Application Programming Interface (API) untuk memfasilitasi transaksi pengiriman uang yang cepat dan aman bagi nasabah.

Perspektif Keuangan: Tinjauan Analitis Laporan Tahunan BCA 2023

Berikut Analisis dan Pembahasan Manajemen mengenai kinerja keuangan BCA selama tahun 2023. Laporan ini merujuk pada Laporan Keuangan Konsolidasi PT Bank Central Asia Tbk dan Entitas Anak untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2023 dan 31 Desember 2022 yang telah diaudit oleh KAP Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan, firma anggota jaringan global PwC.

Analisis Aset dan Kredit BCA Tahun 2023

Berikut adalah gambaran komprehensif tentang kinerja BCA pada tahun 2023, terutama dalam hal aset, penempatan dana, kredit yang diberikan, dan kualitas kredit:

Akun 2023 Nominal 2023 % terhadap Total Aset Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Kas, Giro pada Bank Indonesia dan Bank Lain 119.934 8,5% (10.288) -7,9%
Penempatan pada Bank Indonesia & Bank Lain dan Efek-efek 410.351 29,1% (23.886) -5,5%
Total Kredit - bruto 810.392 57,6% 99.130 13,9%
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) (-/-) (34.899) -2,5% (563) -1,6%
Aset Lainnya 102.329 7,3% 27.856 37,4%
Total Aset 1.408.107 100,0% 93.375 7,1%
Total Aset Produktif 1.266.223 89,9% 93.079 7,9%

Total Aset dan Aset Produktif: Total aset BCA tumbuh sebesar 7,1% secara tahunan, mencapai Rp1.408,1 triliun pada tahun 2023. Sekitar 90% dari total aset ini merupakan aset produktif, yang terdiri dari portofolio kredit dan efek-efek berisiko rendah, terutama obligasi pemerintah.

Penempatan 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Penempatan pada Bank Indonesia & Bank Lain 5,202 (26,175) -83.4%
Efek-efek 405,150 2,290 0.6%
Efek-efek untuk Tujuan Investasi 312,054 63,159 25.4%
SBI, SBBI, SBI Syariah & SRBI 31,053 30,960 33290.7%
Obligasi Pemerintah 234,585 25,467 12.2%
Efek-efek Lainnya 46,416 6,732 17.0%
Efek-efek yang Dibeli dengan Janji Dijual Kembali 93,096 (60,869) -39.5%
Total Penempatan pada Bank Indonesia & Bank Lain dan Efek-efek 410,351 (23,886) -5.5%

Penempatan Dana: Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank lain turun secara signifikan sebesar 83,4% YoY menjadi Rp5,2 triliun pada tahun 2023, sementara penempatan pada surat berharga atau efek-efek sedikit meningkat sebesar 0,6% secara tahunan. Ini menunjukkan kebijakan manajemen untuk menempatkan dana pada instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, terutama pada kredit dan obligasi pemerintah.

Jenis Kredit 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Korporasi 368.660 48.201 15,0%
Komersial 126.822 8.797 7,5%
UKM 107.877 14.857 16,0%
Konsumer 198.846 25.610 14,8%
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) 121.849 12.788 11,7%
Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) 56.906 9.784 20,8%
Personal Loan 16.741 2.983 21,7%
Pinjaman Karyawan 3.350 54 1,6%
Syariah 9.014 1.437 19,0%
Total Kredit 810.392 99.130 13,9%

Kredit yang Diberikan: Total kredit yang diberikan oleh BCA meningkat sebesar 13,9% YoY, mencapai Rp810,4 triliun pada tahun 2023. Pertumbuhan ini didukung oleh semua segmen, mulai dari korporasi, komersial, UKM, hingga konsumer. Kredit konsumer mencatat pertumbuhan yang signifikan sebesar 14,8% YoY.

Segmen Nominal LAR Persentase LAR Perubahan LAR % Perubahan LAR
Korporasi 21.143 6,2% (6.184) -22,6%
Komersial 11.750 9,4% (5.237) -30,8%
UKM 6.455 6,0% (1.025) -13,7%
Konsumer 12.908 6,9% (4.671) -26,6%
Total LAR 52.256 6,9% (17.117) -24,7%

Kualitas Kredit: Meskipun permintaan kredit meningkat, kualitas kredit BCA terus membaik, dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang menurun menjadi 6,9% pada tahun 2023 dari 10,0% di tahun sebelumnya. 

Kategori 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Performing Loan 795.889 96.681 13,8%
Lancar 778.124 91.442 13,3%
Dalam Perhatian Khusus 17.765 5.239 41,8%
NPL 14.503 2.449 20,3%
Kurang Lancar 2.450 746 43,8%
Diragukan 1.298 (3.399) -72,4%
Macet 10.755 5.102 90,3%
Total Kredit 810.392 99.130 13,9%
Rasio NPL - bruto 1,9% 0,2% -0,5%
Rasio NPL - bersih 0,6% 0,0% -0,2%
Cadangan / NPL** 234,1% -52,8% 46,9%

Rasio NPL (Non-Performing Loans): Rasio NPL - bruto juga relatif rendah, yaitu sebesar 1,9%, lebih rendah dari rata-rata industri.

Segmen 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Korporasi 110 (620) -84,9%
Komersial 901 42 4,6%
UKM 216 (161) -42,7%
Konsumer 1.263 105 9,8%
KPR 187 (31) -10,5%
KKB Mobil 18 (7) -28,0%
KKB Motor 789 146 22,5%
Kartu Kredit 269 (3) -1,1%
Total 2.488 (636) -21,5%
Pemulihan dari Hapus Buku 1.063 2 0,2%

Penghapusbukuan dan Pemulihan dari Hapus Buku: BCA mencatat penghapusbukuan kredit sebesar Rp2,5 triliun, dengan pemulihan dari hapus buku mencapai 43% dari kredit yang dihapusbukukan pada tahun 2023. Ini menunjukkan upaya BCA dalam mengelola risiko kredit dengan efektif.

Secara keseluruhan, kinerja BCA pada tahun 2023 menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam hal aset, penempatan dana, dan kredit yang diberikan, sambil tetap memperhatikan kualitas kredit yang baik. Hal ini menunjukkan strategi yang kuat dalam mengelola risiko dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di pasar.

Analisis Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga BCA Tahun 2023

Berikut adalah gambaran tentang struktur dan pertumbuhan liabilitas serta dana pihak ketiga BCA pada tahun 2023:

DPK 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Giro 348.457 24.533 7,6%
Rupiah 312.110 26.768 9,4%
Valuta Asing 36.347 (2.235) -5,8%
Tabungan 536.184 12.170 2,3%
Rupiah 518.068 13.708 2,7%
Valuta Asing 18.116 (1.538) -7,8%
Jumlah Dana Giro dan Tabungan (CASA) 884.641 36.703 4,3%
Deposito 217.032 25.251 13,2%
Rupiah 203.011 29.909 17,3%
Valuta Asing 14.020 (4.657) -24,9%
Total Dana Pihak Ketiga 1.101.673 61.955 6,0%
Rupiah 1.033.189 70.385 7,3%
Valuta Asing 68.483 (8.430) -11,0%

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga: Dana pihak ketiga BCA tumbuh sebesar 6,0% menjadi Rp1.101,7 triliun pada akhir 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan penempatan deposito sebesar 13,2% dan dana berbiaya rendah CASA sebesar 4,3%.

Giro dan Tabungan (CASA): Volume transaksi BCA mencapai rekor tertinggi sekitar 30 miliar. Pertumbuhan CASA sebesar 4,3% menjadi Rp884,6 triliun, yang menyumbang 80,3% dari total dana pihak ketiga. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 2,9%.

Deposito: Dana deposito berjangka BCA mencatat pertumbuhan sebesar 13,2% secara tahunan menjadi Rp217,0 triliun. Suku bunga deposito berjangka waktu 1 bulan naik sebesar 150 bps, mencapai level 3,5% di akhir tahun, seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Struktur Deposito Berjangka: Deposito berjangka BCA didominasi oleh jangka waktu 1 bulan, yang menyumbang 62,9% dari total deposito berjangka pada tahun 2023. Jumlah akun mencapai 38,3 juta, dengan sebagian besar transaksi dilakukan melalui kanal digital.

Peran Teknologi: BCA memperkuat bisnis inti perbankan transaksi melalui jaringan cabang, perbankan digital, ATM/CRM, APOS/EDC, dan contact center. Sekitar 99,7% dari total transaksi dilakukan melalui kanal digital, dengan aplikasi online myBCA yang terus dikembangkan dengan fitur-fitur baru.

Secara keseluruhan, data-data ini menunjukkan bahwa BCA berhasil mengalami pertumbuhan yang sehat dalam dana pihak ketiga, terutama pada sektor CASA dan deposito berjangka, serta memanfaatkan teknologi untuk memperkuat bisnisnya dalam perbankan transaksi.

Analisis Pertumbuhan dan Kinerja Ekuitas BCA Tahun 2023

Berikut gambaran tentang struktur dan pertumbuhan ekuitas BCA pada tahun 2023:

Akun 2023 Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Modal ditempatkan dan disetor penuh 1.541 - 0,0%
Tambahan modal disetor 5.549 0 0,0%
Surplus revaluasi aset tetap 10.936 223 2,1%
Saldo Laba 222.957 21.998 10,9%
Telah ditentukan penggunaannya 3.234 407 14,4%
Belum ditentukan penggunaannya 219.723 21.591 10,9%
Lainnya 1.374 (883) -39,1%
Kepentingan Non Pengendali 181 18 11,2%
Total Ekuitas 242.538 21.356 9,7%

Pertumbuhan Ekuitas: Ekuitas BCA meningkat sebesar 9,7% menjadi Rp242,5 triliun pada tahun 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan laba pada tahun berjalan.

Kontribusi Laba: Laba pada tahun berjalan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekuitas. Meskipun bank membagikan dividen dengan nominal yang cukup tinggi, laba tahun berjalan yang tumbuh positif memungkinkan saldo laba tetap meningkat.

Struktur Ekuitas: Komposisi ekuitas terdiri dari modal ditempatkan dan disetor penuh, tambahan modal disetor, surplus revaluasi aset tetap, saldo laba, serta elemen lainnya seperti saldo laba yang telah ditentukan penggunaannya, belum ditentukan penggunaannya, dan lain-lain.

ROE (Return on Equity): ROE pada tahun 2023 mencapai 23,5%, meningkat dari 21,7% pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa bank menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan dengan ekuitas yang dimilikinya, yang merupakan indikator yang baik bagi kinerja keuangan perusahaan.

Secara keseluruhan data-data tersebut menunjukkan bahwa BCA berhasil mencatat pertumbuhan yang sehat dalam ekuitasnya pada tahun 2023, didorong oleh kinerja keuangan yang kuat dan kenaikan laba yang signifikan.

Analisis Laporan Laba Rugi BCA Tahun 2023

Analisis laporan laba rugi BCA pada tahun 2023 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dan sejumlah faktor penting:

Akun 2023 Nominal Perubahan 2023 % Perubahan 2023
Pendapatan Operasional 99.945 12.469 14,3%
  Pendapatan Bunga dan Syariah - Bersih 75.129 11.140 17,4%
     Pendapatan Bunga dan Syariah 87.398 15.157 21,0%
     Beban Bunga dan Syariah (12.269) (4.017) 48,7%
  Pendapatan Operasional lainnya 24.817 1.330 5,7%
Beban Operasional (37.503) (5.020) 15,5%
Laba usaha sebelum beban pencadangan dan pajak (PPOP) 62.443 7.450 13,5%
Beban Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai Aset* (2.263) 2.263 -50,0%
Laba Sebelum Pajak Penghasilan 60.180 9.713 19,2%
Laba Bersih 48.658 7.903 19,4%
Pendapatan/(Beban) Komprehensif Lainnya (1.106) 2.217 -66,7%
Total Laba Komprehensif 47.552 10.119 27,0%

Pendapatan Operasional: Pendapatan operasional meningkat 14,3% menjadi Rp99,9 triliun, didorong terutama oleh pendapatan bunga dan syariah bersih yang naik 17,4% menjadi Rp75,1 triliun.

Pendapatan Bunga dan Syariah: Pendapatan bunga dan syariah naik 21,0%, terutama dari kenaikan pendapatan bunga yang berasal dari kredit, efek, dan pembiayaan konsumen.

Beban Bunga: Beban bunga meningkat 48,7% akibat kenaikan suku bunga deposito. Namun, margin bunga bersih (NIM) naik menjadi 5,5%, didukung oleh pertumbuhan volume aset produktif dan kenaikan suku bunga.

Pendapatan Operasional Lainnya: Pendapatan operasional lainnya naik 5,7%, terutama didorong oleh pendapatan provisi dan komisi bersih yang naik 0,4% menjadi Rp16,7 triliun.

Beban Operasional: Beban operasional naik 15,5%, utamanya dari beban karyawan dan beban umum dan administrasi. Namun, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (CIR) turun menjadi 33,8%.

Beban Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai Aset: Beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset turun 50,0% karena membaiknya kualitas kredit.

Laba Sebelum Pajak Penghasilan: Laba sebelum pajak penghasilan naik 19,2% menjadi Rp60,2 triliun, didukung oleh pertumbuhan pendapatan operasional yang kuat.

Laba Bersih: Laba bersih mencapai Rp48,6 triliun, naik 19,4% dari tahun sebelumnya, mendorong peningkatan laba bersih per saham menjadi Rp395.

Pendapatan Komprehensif Lain: BCA mencatat kerugian atas aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain sebesar Rp1,1 triliun, turun signifikan dari tahun sebelumnya.

Analisis ini menunjukkan kinerja keuangan yang kuat dari BCA pada tahun 2023, dengan pertumbuhan pendapatan yang solid, pengelolaan biaya yang efisien, dan peningkatan laba yang signifikan.

Arus Kas BCA 2023: Lonjakan dan Implikasi

Aktivitas 2023 2022 Nominal Kenaikan 2023 Persentase Kenaikan 2023
Arus Kas dari Aktivitas Operasi 58.115 miliar 33.779 miliar 24.336 miliar 72,0%
Arus Kas dari Aktivitas Investasi (69.796) miliar (32.383) miliar 37.413 miliar 115,5%
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan (25.071) miliar (19.116) miliar 5.955 miliar 31,2%
(Penurunan) / Kenaikan Kas dan Setara Kas Bersih (36.752) miliar (17.720) miliar 19.032 miliar 107,4%

Analisis Arus Kas BCA pada tahun 2023 menunjukkan beberapa poin penting:

Arus Kas dari Aktivitas Operasi: Terjadi lonjakan signifikan sebesar 72,0% dalam arus kas dari aktivitas operasional, yang terutama didorong oleh penurunan saldo efek yang dibeli dengan janji dijual kembali dan peningkatan pendapatan bunga dan syariah serta pendapatan dari provisi dan komisi. Ini menunjukkan peningkatan dalam generasi arus kas dari operasi inti bank.

Arus Kas dari Aktivitas Investasi: Terjadi peningkatan besar sebesar 115,5% dalam arus kas dari aktivitas investasi, yang sebagian besar disebabkan oleh pembelian efek-efek untuk tujuan investasi. Namun, penurunan penerimaan atas efek-efek yang jatuh tempo juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan aktivitas investasi tersebut.

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan: Pengeluaran arus kas untuk aktivitas pendanaan meningkat menjadi Rp25,1 triliun, yang didorong oleh pembayaran pinjaman yang diterima dan pembayaran dividen yang signifikan. Ini menunjukkan komitmen bank dalam mengelola struktur modalnya dan memberikan pengembalian kepada para pemegang saham.
Pengaruh Fluktuasi Kurs Valuta Asing: Meskipun tidak signifikan, perubahan nilai arus kas akibat fluktuasi kurs valuta asing mempengaruhi posisi kas dan setara kas bank.

Meskipun terjadi penurunan yang signifikan dalam kas dan setara kas pada akhir tahun 2023, pertumbuhan arus kas dari aktivitas operasional yang kuat menunjukkan kinerja yang positif dalam menghasilkan arus kas dari operasi inti bank.

Namun, penting untuk terus memperhatikan manajemen arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan untuk menjaga keseimbangan keuangan yang sehat dan mendukung pertumbuhan bank di masa depan.

Kinerja Rasio Utama BCA 2023

Analisis rasio keuangan utama BCA selama tahun 2023 memberikan gambaran yang komprehensif tentang kinerja dan kondisi keuangan bank tersebut.

Rasio Keuangan      2023 2022
NIM 5,5% 5,3%
CIR 33,8% 33,9%
BOPO 43,8% 46,5%
ROA 3,6% 3,2%
ROE 23,5% 21,7%
CAR 29,4% 25,8%
LDR 70,2% 65,2%
NPL-Bruto 1,9% 1,7%
LAR 6,9% 10,0%

Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat disimpulkan dari analisis tersebut:

Net Interest Margin (NIM): Meskipun NIM naik sedikit menjadi 5,5% dari 5,3% pada tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan margin yang kuat dari aset produktif bank. Namun, peningkatan ini dapat mengindikasikan adanya tekanan dari peningkatan biaya pendanaan atau penurunan imbal hasil aset.

Cost to Income Ratio (CIR): BCA berhasil mempertahankan CIR pada level 33,8%, menunjukkan efisiensi yang baik dalam mengelola biaya operasionalnya dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. Ini menandakan konsistensi bank dalam menjaga biaya operasionalnya relatif rendah.

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): BOPO menurun menjadi 43,8% dari 46,5% pada tahun sebelumnya, menunjukkan peningkatan efisiensi operasional bank. Penurunan ini mengindikasikan bahwa bank berhasil mengendalikan biaya operasionalnya lebih baik pada tahun 2023.

Return on Assets (ROA): ROA meningkat menjadi 3,6% dari 3,2% pada tahun sebelumnya, menandakan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari setiap unit asetnya. Ini menunjukkan kinerja yang baik dalam mengelola aset secara efisien.

Return on Equity (ROE): ROE juga meningkat menjadi 23,5% dari 21,7% pada tahun sebelumnya, menunjukkan efektivitas bank dalam menghasilkan keuntungan bagi para pemegang sahamnya. Hal ini dapat mengindikasikan peningkatan profitabilitas dan efisiensi penggunaan modal.

Capital Adequacy Ratio (CAR): CAR naik menjadi 29,4% dari 25,8% pada tahun sebelumnya, menunjukkan kekuatan modal yang solid dan kemampuan bank untuk memenuhi persyaratan permodalan yang diperlukan untuk mengatasi risiko-risiko yang mungkin dihadapi.

Loan to Deposit Ratio (LDR): LDR naik menjadi 70,2% dari 65,2% pada tahun sebelumnya, menandakan pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga. Ini bisa menjadi sinyal pertumbuhan bisnis yang sehat, tetapi juga menunjukkan peningkatan risiko likuiditas.

Non-Performing Loan (NPL) Ratio: NPL-Bruto stabil pada 1,9%, menunjukkan kualitas aset yang relatif baik dan kemampuan bank dalam mengelola risiko kreditnya. Ini menandakan bahwa bank berhasil mengendalikan risiko kreditnya dengan baik.

Loan to Asset Ratio (LAR): LAR menurun menjadi 6,9% dari 10,0% pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa bank mengurangi proporsi kredit terhadap total asetnya, yang bisa menjadi strategi untuk mengelola risiko kredit dan meningkatkan efisiensi penggunaan aset.

Dengan demikian, analisis rasio keuangan ini memberikan gambaran yang menyeluruh tentang kinerja dan kondisi keuangan BCA pada tahun 2023, serta menyoroti area-area di mana bank dapat memperkuat atau mempertahankan kinerjanya di masa depan.

Pencapaian dan Arah: Refleksi Laporan Direksi BCA 2023

Laporan tahunan BCA tahun 2023 menggambarkan pencapaian yang mengesankan dalam berbagai aspek, dari kinerja keuangan hingga komitmen pada praktik keberlanjutan.

Berikut adalah beberapa poin penting yang disampaikan oleh direksi:

  • Kinerja Keuangan yang Mengesankan: BCA mencatatkan laba bersih rekor sebesar Rp48,6 triliun pada tahun 2023, menandai pertumbuhan yang konsisten dan kuat dari tahun sebelumnya. Ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga dan non-bunga yang signifikan serta manajemen biaya yang efisien.
  • Pertumbuhan Kredit yang Solid: BCA berhasil mencatat pertumbuhan kredit sebesar 13,9%, melebihi ekspektasi pasar. Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan bank dalam memanfaatkan basis pendanaan yang kuat dan membangun hubungan yang berkelanjutan dengan nasabah.
  • Inovasi Teknologi Informasi: BCA terus berinovasi dalam menyediakan pengalaman perbankan yang lebih baik melalui berbagai kanal transaksi. Investasi dalam teknologi informasi memperkuat infrastruktur TI perusahaan dan memungkinkan pengembangan layanan yang lebih baik.
  • Komitmen terhadap Keberlanjutan: BCA menunjukkan komitmen pada praktik keberlanjutan melalui peningkatan portofolio keuangan berkelanjutan serta langkah-langkah proaktif dalam menerapkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola.
  • Pemantapan Kualitas Aset dan Pengembangan SDM: Meskipun pertumbuhan kredit yang signifikan, BCA berhasil mempertahankan kualitas aset yang baik dengan menurunkan rasio Loan at Risk (LAR) menjadi satu digit. Investasi pada sumber daya manusia juga menjadi prioritas, menunjukkan keseriusan perusahaan dalam mengembangkan SDM yang relevan dengan kebutuhan bisnis.

Dengan strategi yang kokoh dan inisiatif yang terarah, BCA berpotensi untuk terus memimpin industri perbankan Indonesia di masa depan.

Dengan mempertahankan fokusnya pada inovasi, keberlanjutan, dan pengembangan sumber daya manusia, BCA dapat menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.

Stabilitas Keuangan dan Kolektibilitas Piutang: Telaah Laporan BCA 2023

Aspek Informasi
Likuiditas
  • NSFR: 168,6%
  • LCR: 357,8%
  • LDR: 70,2%
Rentabilitas
  • Laba Usaha Sebelum Beban Pencadangan: Rp62,4 triliun
Kualitas Aset
  • Cadangan aset keuangan yang mencukupi
  • Corporate Rating idAAA/Stable dari Pefindo
  • Outlook Positive dari Fitch Ratings

Kemampuan BCA untuk memenuhi kewajiban finansialnya, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, tetap terjaga dengan baik. Hal ini terutama tercermin dari posisi likuiditas yang kuat yang dipegang oleh bank tersebut. Pada tahun 2023, BCA menunjukkan likuiditas yang memadai dengan rasio NSFR sebesar 168,6%, LCR sebesar 357,8%, dan LDR sebesar 70,2%. Rasio-rasio ini memberikan gambaran bahwa BCA memiliki cadangan dana yang cukup untuk menutupi kewajiban finansialnya serta memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kondisi likuiditas yang beragam.

Selain itu, dari segi rentabilitas, BCA mencatatkan kinerja keuangan yang solid, terutama dalam aktivitas operasionalnya. Laba Usaha Sebelum Beban Pencadangan yang meningkat sebesar 13,5% menjadi Rp62,4 triliun menunjukkan bahwa BCA dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya operasionalnya serta memberikan keuntungan yang cukup untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan.

Selanjutnya, dalam menjaga kualitas asetnya, BCA telah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap aspek operasionalnya. Hal ini tercermin dari cadangan aset keuangan yang mencukupi, yang menandakan bahwa BCA memiliki strategi yang efektif untuk mengelola risiko dan menjaga kualitas portofolio asetnya.

Pengakuan yang baik dari lembaga pemeringkat eksternal seperti Fitch Ratings dan Pefindo juga memberikan indikasi positif tentang stabilitas dan kredibilitas BCA dalam mengelola kewajiban finansialnya. Rating yang diberikan oleh lembaga-lembaga tersebut, seperti Corporate Rating idAAA/Stable dari Pefindo dan Outlook Positive dari Fitch Ratings, menunjukkan bahwa BCA dinilai memiliki kemampuan yang kuat dalam mengelola risiko serta memiliki prospek yang cerah dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, berdasarkan data yang ada, BCA menunjukkan kinerja finansial yang kuat dan konsisten, dengan likuiditas yang memadai, rentabilitas yang solid, serta kemampuan untuk menjaga kualitas asetnya. Hal ini memberikan keyakinan bahwa BCA memiliki kemampuan yang baik dalam membayar hutangnya dan mengelola piutangnya dengan baik dalam jangka waktu yang akan datang.

Struktur Modal dan Kebijakan Dividen: Sorotan atas Laporan Tahunan BCA 2023

Berdasarkan analisis atas struktur modal dan kebijakan manajemen yang diterapkan oleh BCA, dapat disimpulkan bahwa BCA mempertahankan posisi permodalan yang solid dan memperlihatkan komitmen yang kuat dalam menjaga kecukupan modalnya serta memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham.

Aspek Nilai
Modal inti (Tier 1) Rp233,7 triliun (96,3%)
Modal pelengkap (Tier 2) Rp9,0 triliun (3,7%)
Total modal Rp242,7 triliun
Rasio kecukupan modal (CAR) 29,4%
Dividen tunai Rp25,3 triliun (Rp205/saham)
Dividend payout ratio 62,1% atas laba bersih tahun 2022

Dalam hal struktur modal, BCA menunjukkan konsistensi dalam meningkatkan modal inti utamanya (Tier 1), yang pada tahun 2023 mencapai 96,3% dari total modal atau sebesar Rp233,7 triliun. Hal ini merupakan peningkatan sebesar 10,0% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, modal pelengkap (Tier 2) sebesar 3,7% dari total modal atau sebesar Rp9,0 triliun, dengan sebagian besar merupakan cadangan umum Penyisihan Penilaian Kualitas Aset (PPKA). Rasio kecukupan modal (CAR) yang mencapai 29,4% pada tahun 2023 menunjukkan bahwa BCA memiliki modal yang cukup untuk menopang risiko kredit, pasar, dan operasional.

Kebijakan manajemen atas struktur modal BCA tercermin dari pendekatan yang proaktif dalam memenuhi ketentuan regulator dan menjaga keunggulan kompetitif dalam jangka panjang, terutama terkait penyaluran kredit. BCA memastikan kepatuhan terhadap berbagai ketentuan permodalan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta secara terintegrasi melakukan stress test untuk mengantisipasi potensi risiko.

Dalam hal kebijakan dividen, BCA menunjukkan konsistensi dalam memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham. Pembayaran dividen diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS Tahunan), dengan mempertimbangkan posisi permodalan yang solid, pertumbuhan bisnis, dan investasi. Pada tahun 2023, BCA menyetujui pembayaran dividen tunai sebesar Rp25,3 triliun atau Rp205 per lembar saham, yang setara dengan dividend payout ratio sebesar 62,1% atas laba bersih tahun 2022. Hal ini menunjukkan komitmen BCA dalam memberikan imbal hasil kepada para pemegang saham secara berkelanjutan.

Tren dividend payout ratio BCA dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan keseriusan BCA dalam meningkatkan kepercayaan pemegang saham melalui pembayaran dividen yang konsisten dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, BCA memperlihatkan komitmen yang kuat dalam menjaga struktur modal yang solid, memenuhi ketentuan regulator, serta memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham melalui pembayaran dividen yang konsisten. Hal ini mencerminkan kinerja keuangan yang solid dan strategi manajemen yang baik dari BCA dalam mengelola permodalan dan hubungannya dengan pemegang saham.

Pertumbuhan Karyawan dan Pengembangan Kompetensi dalam Laporan Tahunan BCA 2023

Aspek Informasi
Jumlah Karyawan 26.917 (Naik 9,83% dari tahun sebelumnya: 24.508)
Biaya Pelatihan Rp372.815 juta

Pada akhir tahun 2023, Bank Central Asia (BCA) berhasil meningkatkan jumlah karyawan menjadi 26.917 orang, naik sebesar 9,83% dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 24.508 karyawan. Pertumbuhan ini terjadi di setiap jenjang jabatan, usia, tingkat pendidikan, status ketenagakerjaan, dan masa kerja, menunjukkan komitmen BCA dalam pengembangan sumber daya manusia.

Investasi besar dilakukan dalam pengembangan kompetensi karyawan. BCA menawarkan berbagai program pelatihan dengan total biaya pelatihan mencapai Rp372.815 juta pada tahun 2023. Ini mencerminkan fokus yang kuat pada peningkatan keterampilan dan pengetahuan karyawan.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat peningkatan yang signifikan dalam jumlah karyawan, jumlah hari pelatihan, dan jumlah peserta pelatihan. Ini menunjukkan keseriusan BCA dalam memperkuat kapasitas organisasi dan meningkatkan keahlian karyawan untuk mencapai kinerja optimal.

Pertumbuhan karyawan yang solid dan investasi besar dalam pengembangan kompetensi menempatkan BCA dalam posisi yang kuat untuk menghadapi tantangan pasar yang kompleks. Dengan sumber daya manusia yang terampil dan terlatih dengan baik, BCA dapat mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam industri perbankan Indonesia.

Pemegang Saham BCA: Struktur & Komposisi 2023

Analisis kepemilikan saham BCA mengungkapkan struktur yang cukup terkonsentrasi, dengan beberapa entitas besar memiliki porsi signifikan dalam kepemilikan perusahaan.

Pemegang saham terbesar adalah PT Dwimuria Investama Andalan, yang memiliki 54,94% saham. Kepemilikan ini didistribusikan antara Robert Budi Hartono (51%) dan Bambang Hartono (49%). Di antara 20 pemegang saham terbesar, entitas-ini memiliki porsi yang signifikan.

Kemudian, institusi keuangan seperti Citibank, Bank Julius Baer, dan berbagai dana investasi besar juga memiliki kepemilikan yang substansial.

Total kepemilikan dari 20 pemegang saham terbesar mencapai 64,59%, menunjukkan dominasi yang signifikan dalam struktur kepemilikan perusahaan.

Selanjutnya, komposisi pemegang saham BCA dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama: individu dan institusi.

Dalam kategori individu, pemodal lokal memiliki kepemilikan sebesar 3,65%, sedangkan pemodal asing memiliki kepemilikan hanya sebesar 0,03%. Sementara itu, dalam kategori institusi, pemodal lokal memiliki porsi kepemilikan sebesar 5,53%, sedangkan pemodal asing memiliki kepemilikan yang jauh lebih besar, mencapai 35,86%. Ini menunjukkan dominasi institusi asing dalam kepemilikan saham BCA.

Dari sisi komposisi pemodal nasional, mayoritasnya adalah perusahaan terbatas, asuransi, dan Dana Reksa, dengan masing-masing memiliki porsi kepemilikan yang cukup signifikan. Sedangkan dari sisi pemodal asing, mayoritasnya adalah badan usaha asing, dengan hanya sebagian kecil dimiliki oleh perorangan.

Dengan demikian, struktur kepemilikan saham BCA pada akhir tahun 2023 menunjukkan dominasi institusi asing, dengan kontribusi signifikan dari pemodal nasional dalam kategori perusahaan terbatas, asuransi, dan Dana Reksa.

Portofolio Anak Perusahaan: Eksplorasi Laporan Tahunan BCA 2023

Terkait kepemilikan saham BCA pada anak perusahaan, PT BCA Finance, menjadi salah satu entitas terpenting dengan BCA memiliki 99,576% kepemilikan. Sementara itu, melalui BCA Finance Limited, BCA juga memiliki 0,424% kepemilikan saham.

Dalam ranah perbankan syariah, PT Bank BCA Syariah menjadi bagian penting, dengan BCA memiliki mayoritas hampir mutlak sebesar 99,99995%, sementara PT BCA Finance memiliki 0,00005% kepemilikan.

BCA juga turut aktif dalam bisnis asuransi melalui PT Asuransi Umum BCA (BCA Insurance), dengan BCA memiliki 75% saham dan PT BCA Finance memiliki 25% sisanya.

Di sektor pembiayaan kendaraan dan multiguna, PT BCA Multi Finance menjadi perusahaan di mana BCA memiliki 75% saham, sementara PT BCA Finance memiliki 25% sisanya.

Dalam modal ventura, BCA memiliki 99,9997% kepemilikan saham di PT Central Capital Ventura (CCV), sementara PT BCA Finance memiliki 0,0003%.

Dalam perantara perdagangan efek, BCA memiliki 90% saham di PT BCA Sekuritas, sedangkan 10% sisanya dimiliki oleh Chandra Adisusanto.

Dalam asuransi jiwa, BCA memiliki 90% saham di PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life), dengan 10% sisanya dimiliki oleh Chandra Adisusanto.

Terakhir, dalam perbankan digital, BCA memiliki 99,999997% saham di PT Bank Digital BCA, sedangkan PT BCA Finance memiliki 0,000003% sisanya. Dengan kepemilikan mayoritas atau mayoritas mutlak pada beberapa perusahaan anaknya, BCA memegang kendali signifikan atas operasi mereka.

Penutup

Dalam laporan tahunan 2023 ini, telah terungkap bagaimana BCA memimpin dengan inovasi, fokus pada nasabah, dan komitmen terhadap keberlanjutan. Melalui kinerja yang kuat dan strategi yang tepat, BCA telah mengukuhkan posisinya sebagai pilar ekonomi Indonesia. Namun, tantangan akan terus ada, dan BCA harus tetap beradaptasi dan berinovasi untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.

ARTICLE SOURCES

  1. Winarni. (2024, Februari 1). Data 8 Saham dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar (Big Caps) di BEI per Januari 2024. Data Indonesia. Diakses dari https://dataindonesia.id/pasar-saham/detail/data-8-saham-dengan-kapitalisasi-pasar-terbesar-big-caps-di-bei-per-januari-2024.
  2. PT Bank Central Asia Tbk. (2023). Laporan Tahunan PT Bank Central Asia Tbk. Bursa Efek Indonesia. Diakses dari https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan.

Comments