Advertisement

Ad Code

Kas dan Bank: Rekonsiliasi Bank, Cerukan, dan Kas Kecil

Rekonsiliasi Bank, Cerukan, dan Kas Kecil

Pada neraca suatu perusahaan, ada akun yang namanya kas dan setara kas. 

Setiap bisnis sangat membutuhkan kas dalam jumlah yang cukup, untuk membayar kewajiban-kewajibannya. 

Semakin tinggi rasio kas (rasio kas dan setara kas dibandingkan dengan kewajiban lancarnya) semakin likuid pula perusahaan atau dengan kata lain semakin kecil peluang perusahaan tersebut untuk mengalami kesulitan dalam membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya.

Suatu perusahaan menghasilkan kas dengan menjual barang atau jasa, menjual aset, meminjam uang dari kreditur, dan dari setoran modal pemegang sahamnya. Kas tersebut nantinya digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan belanja modal perusahaan, membayar kewajiban ke kreditur, serta membayar dividen ke pemegang sahamnya. 

Untuk membiayai kegiatan operasional hariannya, perusahaan menyiapkan kas kecil (petty cash) yang disimpan di brankas dan sebagian besar kas yang disimpan di rekening bank perusahaan. 

Pengendalian atas kas sangat penting bagi suatu perusahaan agar dapat beroperasional dengan menguntungkan dan efisien. Inilah mengapa perusahaan perlu melakukan rekonsiliasi bank secara berkala. 

Rekonsiliasi Kas dan Bank: Analisis Perbedaan

Jumlah kas perusahaan pada rekening koran perusahaan sering kali tidak sama dengan jumlah kas yang dilaporkan pada laporan keuangan perusahaan. 

Hal ini biasanya disebabkan cek yang dikeluarkan perusahaan masih beredar atau mungkin juga perusahaan sudah menyetorkan uang ke bank, namun pihak bank belum mencatatnya. 

Penyebab lainnya, bisa juga disebabkan oleh biaya buku cek, materai, administrasi, bunga, dan pajak yang jumlahnya tidak diketahui perusahaan, sebelum pihak bank menerbitkan rekening koran.  

Dalam rekonsiliasi bank, dikenal juga yang namanya not-sufficient fund atau yang biasa disebut dengan cek kosong. Cek kosong ini terjadi ketika pelanggan yang membayar barang atau jasa dengan cek, ternyata tidak memiliki cukup dana. 

Inilah yang menyebabkan perusahaan perlu melakukan rekonsiliasi bank, untuk memastikan bahwa perbedaan yang terjadi, benar disebabkan oleh hal-hal yang telah disebutkan di atas, dan bukan karena human error atau fraud yang dapat merugikan perusahaan.

Untuk lebih jelasnya, saya akan menjelaskan contoh kasus atas sebuah peristiwa yang menunjukkan perlunya rekonsiliasi bank.

Rekening koran PT XYZ pada tanggal 31 Desember 2019 menunjukkan saldo sebesar 290 juta dan laporan kas perusahaan di neraca pada tanggal yang sama menunjukkan saldo sebesar 286 juta 90 ribu. Berikut informasi tambahan atas transaksi yang dapat menyebabkan perbedaan tersebut: 

  • Cek yang diterbitkan perusahaan ke pemasoknya yang masih beredar:
    1. Cek no. 696 diterbitkan tanggal 25 November sebesar 5 juta.
    2. Cek no. 710 diterbitkan tanggal 21 Desember sebesar 16 juta.
    3. Cek no. 715 diterbitkan tanggal 24 Desember sebesar 12 juta.
  • Pada tanggal 31 Desember 2019, perusahaan menyetorkan uang ke bank sebesar 20 juta, namun belum tercatat di rekening koran bank perusahaan.
  • Cek kosong senilai 10 juta dikembalikan oleh bank.
  • Bank mengenakan biaya administrasi atas pelayanannya sebesar 25 ribu.
  • Pendapatan bunga atas simpanan perusahaan di bank sebesar 35 ribu.
  • Penyetoran sebesar 5,4 juta ke bank oleh perusahaan, dicatat salah oleh akuntan perusahaan dengan nilai 4,5 juta.

Atas hal tersebut, berikut rekonsiliasi bank dari PT XYZ pada tanggal 31 Desember 2019:

PT XYZ
Rekonsiliasi Bank
31 Desember 2019
Saldo rekening koran, 31 Des 290,000,000
Add: Setoran dalam perjalanan 20,000,000
Dikurang: Cek yang beredar
No. 696 5,000,000
No. 710 16,000,000
No. 715 12,000,000
33,000,000
Saldo rekening koran disesuaikan 277,000,000
Saldo menurut pembukuan perusahaan 286,090,000
Add: Bunga bank 35,000
Selisih salah saji setoran 900,000
935,000
287,025,000
Dikurang:
Cek kosong 10,000,000
Biaya administrasi bank 25,000
10,025,000
Saldo pembukuan perusahaan disesuaikan 277,000,000

Dana Cerukan: Kas dan Bank dalam Laporan

Ketika rekening bank suatu perusahaan memiliki saldo negatif, artinya, perusahaan memiliki fasilitas dana cerukan atau yang biasa disebut dengan bank overdraft

Ini terjadi ketika cek yang diterbitkan perusahaan, jumlahnya, melebihi kas yang disimpan perusahaan di rekening bank. 

Perlakuan dana cerukan pada laporan neraca terbagi menjadi dua. 

Pada bank, di mana perusahaan mendapatkan fasilitas dana cerukan dan memiliki dua rekening, maka, rekening yang memiliki saldo negatif tersebut akan di-offset dengan rekening yang memiliki saldo positif dan selisih bersihnya dilaporkan oleh perusahaan pada akun kas dan setara kas. 

Namun, bila selisih bersihnya negatif atau bank tidak melakukan offsetting atas saldo negatif tersebut, maka, oleh perusahaan, dana cerukan dilaporkan sebagai kewajiban. 

Untuk perlakuan dana cerukan pada laporan arus kas, berdasarkan PSAK 2 mengenai laporan kas, cerukan adalah termasuk dalam kas dan setara kas dan dilaporkan sebagai arus kas dari aktivitas pendanaan.

Sebagai contoh, asumsikan PT XYZ memiliki dua rekening pada Bank DBS dan dua rekening pada Bank Mandiri. Rekening 1 dan 2 ada di Bank DBS, sedangkan rekening 3 dan 4 ada di Bank Mandiri. Rekening 1 memiliki saldo sebesar 200 juta, rekening 2 memiliki saldo -50 juta, rekening 3 memiliki saldo sebesar -30 juta, dan rekening 4 memiliki saldo sebesar 50 juta. Pada rekening koran Bank DBS, saldo negatif di-offset dengan saldo positif, sehingga saldo negatif tidak tampil. Namun, di rekening koran Bank Mandiri, saldo negatif dan saldo positif, masing-masing, ditampilkan di rekening koran yang terpisah atau tidak di-offset

Bagaimanakah perlakuan akuntansi atas peristiwa tersebut?

Pada neraca PT XYZ, kas dan setara kas dilaporkan sebesar 200 juta (200 juta pada rekening 1 dikurang dengan 50 juta pada rekening 2 dan ditambah dengan 50 juta pada rekening 4). Sementara saldo minus di rekening 3 tidak menjadi pengurang kas dan setara kas, melainkan diakui sebagai kewajiban sebesar 30 juta.

Pada laporan arus kas PT XYZ, dana cerukan pada rekening 3 sebesar 30 juta, dilaporkan sebagai arus kas masuk dari kegiatan pendanaan.

Manajemen Kas Kecil: Penggunaan dan Reimbursement

Kas kecil adalah sejumlah kecil kas yang ada di brankas perusahaan yang digunakan untuk membayar transaksi-transaksi kecil, seperti kembalian ke pelanggan, ongkos kirim, konsumsi rapat, menjamu tamu, ataupun membayar tol.

Umumnya, orang yang dipercaya memegang kas kecil atau biasa disebut dengan kasir, bertugas untuk mencatat segala beban yang dibayar dengan kas kecil, dengan mencatat rincian jumlah kas kecil yang keluar, nama orang yang menggunakan dana kas kecil, dan kegiatan yang didanai dari kas kecil tersebut.

Pembentukan kas kecil di perusahaan biasanya dilakukan dengan mentransfer atau memberikan cek dari bendahara ke kasir. Entri jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Akun Debit Kredit
Kas Kecil               XXX
Bank XXX

Pembayaran atas transaksi yang didanai dengan kas kecil tidak dijurnal secara langsung. Namun, jurnal dibuat pada saat pengisian ulang kas kecil senilai beban-beban yang dibayar.

Pada saat pengisian kas kecil (ini terjadi ketika saldo kas kecil sudah mencapai tingkat minimal yang ditentukan), maka kasir akan mengajukan reimbursement  ke bendahara. 

Transaksi reimbursement ini akan dicatat oleh akuntan perusahaan dengan mendebit beban-beban yang dibiayai dengan kas kecil dan mengkredit kas / bank.

Untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai pemaparan kas kecil di atas, perhatikan contoh berikut.

PT XYZ membentuk dana kas kecil pada tanggal 1 Januari 2020 sebesar 10 juta, jurnalnya adalah:

Akun Debit Kredit
Kas Kecil 10,000,000
Bank 10,000,000

Hingga tanggal 15 Januari 2020, dana kas kecil terpakai untuk keperluan-keperluan berikut:

Biaya Jumlah
Perlengkapan 3,000,000
Pengiriman barang                    2,000,000
Biaya rapat 1,500,000
Listrik 1,700,000
Telepon 1,100,000

Pada tanggal 15 Januari 2020, kasir PT XYZ mengajukan reimbursement ke bendahara atas penggunaan kas kecil dari tanggal 1 hingga tanggal 15. Jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah sebagai berikut:

Akun Debit Kredit
Perlengkapan 3,000,000
Pengiriman barang 2,000,000
Biaya rapat 1,500,000
Listrik 1,700,000
Telepon 1,100,000
Kas / Bank 9,300,000.00

Perhatikan jurnal di atas, jurnal reimbursement atas penggunaan kas kecil, tidak mempengaruhi saldo pada akun kas kecil. Pada saat pengisian ulang, biaya-biaya yang dibiayai dengan kas kecil dari tanggal 1 hingga tanggal 15, dicatat dengan menggunakan akun kas atau bank perusahaan.

Penutup

Dalam akuntansi, kas dan setara kas memiliki topik bahasan yang cukup luas dan tidak hanya sebatas mengenai rekonsiliasi bank, cerukan, maupun kas kecil.

Beberapa topik bahasan lainnya mengenai kas dan setara kas adalah perlakuan akuntansi atas surat berharga, instrumen keuangan, derivatif, hingga transaksi lindung nilai atau hedging.

Sekian tulisan saya mengenai rekonsiliasi bank, cerukan, dan kas kecil. 

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment

0 Comments

Comments