Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Akuntansi untuk Aset Sumber Daya Alam

Aset Sumber Daya Alam di Akuntansi

Akuntansi untuk sumber daya alam (SDA) mencatat biaya perolehan dengan mengkapitalisasinya di neraca kemudian pembebanannya dilakukan secara bertahap melalui deplesi.

Dalam akuntansi, SDA terdiri dari kayu atau pohon yang ditanam untuk tujuan komersil dan juga SDA yang berada di endapan bawah tanah seperti minyak, gas, dan mineral.

Di neraca sendiri, aset SDA diklasifikasikan sebagai aset jangka panjang (long-lived assets) dan berbeda dari aset tetap lainnya yang dapat didepresiasi karena secara fisik aset SDA diambil selama operasi perusahaan dan hanya dapat diganti melalui proses alami.

Pencatatan harga perolehan sumber daya alam (SDA)

Perhitungan nilai perolehan dari aset sumber daya alam sama dengan perhitungan nilai perolehan aset tetap lainnya, yaitu harga pembelian plus seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan aset tersebut untuk bisa digunakan.

Beberapa tipe biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam mengakuisi dan menyiapkan aset SDA adalah:

  • Harga pembelian, yaitu jumlah yang dibayarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) atau hak atas tanah.
  • Biaya eksplorasi, yaitu jumlah yang dibayarkan oleh perusahaan untuk menemukan aset sumber daya alam.
  • Biaya pengembangan, yaitu biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mempersiapkan fasilitas pendukung pada lokasi SDA. Ini termasuk biaya pengeboran, biaya ekstraksi, dan pembangunan terowongan dan sumur.

Perhitungan deplesi aset sumber daya alam

Deplesi merupakan alokasi sumber daya alam secara sistematis selama masa manfaat sumber daya tersebut.

Jadi, kalau pada aset tetap berwujud selain SDA pengalokasian biayanya disebut depresiasi, maka, pada aset SDA pengalokasian biayanya disebut deplesi.

Untuk menghitung deplesi, biasanya, perusahaan menggunakan metode unit produksi, karena deplesi timbul karena adanya proses ekstrak dari unit-unit yang diambil sepanjang tahun.

Biaya Deplesi per Unit = (Biaya Total - Nilai Sisa) / Estimasi Unit yang Tersedia

Setiap tahun perusahaan akan menjurnal beban deplesi sebagai berikut:

Beban Deplesi xxx
Akumulasi Deplesi xxx

Contoh kasus pencatatan aset sumber daya alam

Berikut akan saya sajikan beberapa contoh kasus terkait perhitungan nilai perolehan dan beban deplesi aset sumber daya alam (SDA) beserta penjurnalan dan juga perlakuannya di neraca dan laba rugi.

Akuisisi aset SDA

PT Bukit Manis membeli tambang batu bara senilai 5 miliar. Biaya eksplorasi adalah sebesar 1 miliar dan biaya pengembangan adalah sebesar 3 miliar. Entri jurnal atas transaksi ini adalah:

Tambang Batu Bara 9 miliar
Kas 9 miliar

Apabila PT Bukit Manis membeli peralatan untuk kegiatan penambangan, maka, harga perolehan atas peralatan tersebut tidak dikapitalisasi ke dalam aset sumber daya alam, namun, akan didebit ke akun peralatan, bukannya ke akun tambang batu bara.

Nilai sisa aset sumber daya alam

Tanah yang dibeli PT Bukit Manis tersebut memiliki kandungan batu bara di dalamnya. Kandungan tersebut makin lama makin berkurang seiring dengan kegiatan penambangan yang dilakukan perusahaan.

Sekarang, PT Bukit Manis ingin menjual tanah tersebut seharga 1 miliar, namun, tidak ada satupun yang bersedia membelinya pada harga tersebut kecuali tambang tersebut direhabilitasi.

Proses rehabilitasi membutuhkan biaya 200 juta, sehingga hal tersebut menyebabkan nilai sisa (salvage value) dari tanah tersebut adalah sebesar 800 juta.

Menghitung rate deplesi

PT Indo Tambang Mini membeli tanah yang memiliki kandungan batu bara senilai 3 miliar. Biaya eksplorasi dan pengembangannya, masing-masing, adalah sebesar 1 miliar dan 2 miliar. Nilai sisa tanah tersebut adalah sebesar 300 juta, namun, sebesar 50 juta perlu dianggarkan untuk rehabilitasi. 

Apabila geologiwan memperkirakan tanah tersebut mengandung 10 ribu ton batu bara, maka, rate deplesi adalah senilai:

(3 miliar + 1 miliar + 2miliar - (300 juta - 50 juta)) / 10 ribu ton = 575 ribu per ton

Beban deplesi di laporan keuangan

Pada contoh PT Indo Tambang Mini di atas, apabila perusahaan tersebut menambang dan menjual batu bara di tahun pertama sebesar 3 ribu ton, maka, beban deplesi pada tahun yang bersangkutan adalah sebesar 3 ribu ton x 575 ribu = 1,725 miliar.

Entri jurnal atas hal tersebut adalah:

Beban Deplesi 1,725 miliar
Akumulasi Deplesi 1,725 miliar

Pada neraca perusahaan, aset tersebut akan disajikan sebagai berikut:

Tambang Batu Bara 6 miliar
- Akumulasi Deplesi 1,725 miliar
Aset Bersih 4.275 miliar

Pada laporan laba rugi, beban deplesi merupakan biaya produksi, sehingga otomatis juga merupakan bagian dari harga pokok penjualan (HPP). 

Penutup

Akuntansi atas aset sumber daya alam (SDA), pada dasarnya, sama saja dengan akuntansi atas aset tetap lainnya, hanya saja, aset SDA memiliki karakteristik tersendiri yang menyebabkan adanya perbedaan perlakuan.

Salah satu karakteristik dari aset SDA yang tak dimiliki aset tetap berwujud maupun aset tetap tak berwujud adalah aset SDA diambil atau dieksploitasi selama operasi perusahaan dan hanya dapat diganti melalui proses alami.  

Ini tentu berbeda dengan aset tetap berwujud lainnya, seperti mesin pabrik atau kendaraan, yang bisa dirawat secara berkala ataupun dilakukan perbaikan besar (overhaul) untuk meningkatkan umur ekonomis dan masa pakainya.

Karakteristik khas aset SDA tersebut menyebabkan tidak cocoknya penggunaan metode garis lurus dalam menentukan beban deplesi per periodenya. Pada aset yang nilainya berkurang seiring kegiatan eksploitasi, metode unit produksi adalah yang paling tepat digunakan.  

Untuk memahami lebih lanjut mengenai akuntansi SDA, khususnya atas standar yang berlaku di Indonesia, kamu dapat mempelajari PSAK 64 mengenai pertambangan SDA mineral atau PSAK 69 mengenai agrikultur.

Sekian tulisan saya mengenai perlakuan aset sumber daya alam (SDA) di akuntansi. 

Stay safe and stay healthy. Take care!