Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perlakuan Akuntansi untuk Aset Tak Berwujud

Perlakuan Akuntansi untuk Aset Tak Berwujud

Aset tak berwujud adalah aset yang dimiliki perusahaan yang tidak memiliki substansi fisik. Sederhananya, aset ini tidak dapat disentuh, diraba, diterawang, dibanting, dipukul, ataupun dicium.

Secara manfaat di masa depan, aset tak berwujud juga lebih tidak pasti dibanding aset berwujud. Hal ini disebabkan oleh beberapa umur aset yang tak terbatas dan tingginya kemungkinan terjadinya fluktuasi penurunan nilai.

Contoh dari aset tak berwujud adalah paten, hak cipta, merek dagang, waralaba, dan goodwill.

Akuntansi untuk aset tak berwujud

Aset tak berwujud dilaporkan di neraca senilai harga pembelian plus biaya lainnya yang timbul atas akuisisi aset, seperti biaya broker, biaya legal, dan biaya-biaya pemerintah.

Aset tak berwujud diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu aset tak berwujud dengan umur tak terbatas dan dengan umur terbatas. 

Apabila aset tak berwujud memiliki umur yang terbatas, maka, perusahaan perlu mengalokasikan biaya perolehannya selama umur aset, menggunakan cara yang sama dengan depresiasi pada aset tetap berwujud.

Jadi, bila pada aset tetap berwujud proses alokasi biayanya disebut depresiasi, pada aset sumber daya alam (SDA) disebut deplesi, pada aset tak berwujud proses alokasi biayanya disebut amortisasi. 

Biasanya, aset tak berwujud diamortisasi menggunakan metode garis lurus (straight line method). 

Untuk aset tak berwujud yang memiliki umur tak terbatas, maka, biayanya tidak perlu diamortisasi.

1. Paten (patent)

Dikutip dari situs hki, paten adalah perlindungan bagi karya intelektual yang bersifat teknologi, atau dikenal juga dengan istilah invensi. Di Indonesia, masa berlaku paten adalah selama 20 tahun atau 10 tahun untuk paten sederhana. 

Aset tak berwujud dalam bentuk hak paten dapat dipindahtangankan kepada pihak lain.

Paten dapat diamortisasi sesuai umur legal atau sesuai estimasi umur ekonomisnya. 

Terkait pencatatan akuntansi, jangka waktu yang digunakan adalah yang paling pendek.

Untuk mengilustrasikan pencatatan akuntansi atas paten, asumsikan pada Januari 2021, PT XYZ membayar hak paten atas suatu penemuan berupa "zepelin wireless speaker" dengan total biaya sebesar 80 juta. Estimasi umur paten adalah 5 tahun.

Atas hal tersebut, PT XYZ mencatat perolehan hak paten sebagai berikut:

Paten 80 juta
Kas 80 juta

Karena estimasi umur ekonomisnya adalah 5 tahun, maka, beban amortisasi tahunannya adalah sebesar 16 juta (80 juta / 5 tahun).

Jadi, PT XYZ mencatat beban amortisasi paten untuk tahun 2021 sebagai berikut: 

Beban Amortisasi 16 juta
Paten 16 juta

2. Hak cipta (copyrights)

Aset tak berwujud berupa hak cipta diberikan kepada penulis, pelukis, pencipta lagu, dan artis-artis lainnya.

Nilai perolehan atas suatu hak cipta dihitung berdasarkan biaya untuk menciptakan suatu karya ditambah dengan biaya publikasi dan biaya legal untuk memperoleh hak cipta.

Selain itu, hak cipta juga dapat diperoleh dengan membelinya dari pihak lain. Bila demikian, maka nilai perolehan adalah sebesar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh hak cipta tersebut.

Berdasarkan UU nomor 28 tahun 2014, jangka waktu hak cipta adalah selama hidup pencipta ditambah 70 puluh tahun setelah pencipta meninggal dunia.

Namun, bila hak cipta dimiliki oleh badan hukum, maka, perlindungannya berlaku selama 50 tahun sejak tanggal pengumuman.

Terkait hak cipta, seringnya, umur ekonomisnya jauh lebih pendek dari umur legalnya. Oleh karena itu, hak cipta diamortisasi pada waktu yang relatif pendek.

Asumsikan pada tanggal 10 Januari 2021 PT ABC membeli putus hak cipta atas suatu lagu dengan total biaya sebesar 100 juta. Estimasi umur ekonomisnya adalah selama 10 tahun.

Atas hal tersebut, PT ABC melakukan pencatatan sebagai berikut:

Hak Cipta 100 juta
Kas 100 juta

Dalam hal jual beli hak cipta, berdasarkan UU nomor 28 tahun 2014, hak cipta yang dibeli oleh pihak ketiga, setelah melewati 25 tahun, maka, secara otomatis akan kembali ke pemiliknya.

Ini artinya, umur legal dari hak cipta adalah selama 25 tahun, namun, karena estimasi umur ekonomis adalah selama 10 tahun, maka, amortisasi atas hak cipta yang dibeli oleh PT ABC adalah selama 10 tahun (menggunakan yang terpendek).

Beban amortisasi per tahun atas hak cipta tersebut adalah sebesar 10 juta (100 juta : 10 tahun).

Beban Amortisasi 10 juta
Hak Cipta 10 juta

3. Merek dagang (trademark)

Merek dagang merupaka aset tak berwujud perusahaan berupa nama dan simbol yang digunakan untuk mengidentifikasi produk atau perusahaan.

Berdasarkan pasal 28 UU nomor 15 tahun 2001, perlindungan atas merek dagang adalah selama 10 tahun sejak tanggal penerimaan dan dapat diperpanjang lagi.

Apabila merek dagang dibeli dari pihak lain, maka, nilai perolehan adalah sebesar biaya pembelian untuk mengakuisisi merek dagang tersebut.

Namun, bila merek dagang dikembangkan sendiri, maka, nilai perolehan adalah sebesar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan merek tersebut.

Asumsikan PT Raja Boga mengembangkan sendiri merek dagang untuk produk tepung terbarunya dengan biaya pengembangan sebagai berikut:

Biaya desain 3 juta Biaya pendaftaran 4 juta
Biaya legal 4 juta Biaya konsultan 2 juta

Entri jurnal atas perolehan merek dagang dari produk tepung tersebut adalah:

Merek Dagang 13 juta
Kas 13 juta

Merek dagang tidak diamortisasi karena umur merek dagang tidak terbatas (indefinite) sehingga tidak memerlukan entri atas amortisasi tahunan merek dagang.

4. Waralaba (franchise)

Waralaba merupakan kontrak kerja yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk menjual produk dan jasa dari si pemilik hak waralaba.

Pemilik yang memberikan hak waralaba disebut franchisor, sedangkan pembeli hak waralaba disebut franchisee.

Contoh bisnis dengan sistem waralaba adalah Alfamart, KFC, Es Teler 77, Kebab Turki Baba Rafa, Sabana Fried Chicken, dll.

Aset tak berwujud berupa waralaba diperoleh dengan membayar sejumlah uang secara lump-sum kepada franchisor.

Apabila umur waralaba terbatas, maka, akun waralaba tersebut perlu diamortisasi, namun, bila tidak terbatas, maka tidak perlu diamortisasi. 

Asumsikan pada bulan Januari 2021 PT Cepat Saji membeli waralaba untuk menjual produk dari Sahara Fried Chicken selama 5 tahun. Biaya lump-sum yang dikeluarkan di awal adalah sebesar 40 juta dan biaya tahunan sebesar 2 juta.

Jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Waralaba 40 juta
Kas 40 juta

Tiap tahun, hingga umur ekonomisnya habis, untuk mencatat amortisasi dan biaya tahunan waralaba, entri jurnal yang perlu dilakukan PT Cepat Saji adalah sebagai berikut:

Beban Amortisasi 8 juta
Waralaba 8 juta
(40 juta : 5)
Beban Waralaba 2 juta
Kas 2 juta

5. Goodwill

Aset tak berwujud dengan nilai terbesar pada neraca perusahaan biasanya adalah berupa goodwill.

Apa yang dimaksud dengan goodwill?

Untuk mempermudah penjelasan mengenai goodwill, perhatikan contoh kasus berikut.

Ada toko grosir yang sudah lama berdiri dan sangat sukses. Tenaga penjual yang dimiliki sangat profesional dan berdedikasi, reputasinya baik dan tak tercela, serta lokasinya sangat strategis.  

Toko tersebut memiliki nilai pasar sebesar 5 miliar dan kewajiban sebesar 1 miliar. Ini artinya, secara sederhana, nilai pasar bersihnya adalah sebesar 4 miliar.

Melihat peluang bisnis yang menjanjikan, kamu mencoba untuk membeli toko grosir tersebut senilai dengan nilai pasar bersihnya, yaitu sebesar 4 miliar.

Akankah pemilik toko menerima tawaran yang kamu berikan?

Jawabannya hampir pasti tidak!

Mengapa?

Karena pemilik toko tahu pasti, bahwa toko yang dimiliknya tidak hanya sekedar aset dan kewajiban, tetapi jauh lebih bernilai dari sekedar hal tersebut. 

Toko yang dimiliknya merupakan bisnis yang sangat sukses dan merupakan mesin pencetak laba yang handal. Perlu waktu bertahun-tahun untuk membangun reputasinya, sehingga apabila dijual, maka, harga penjualannya bukan hanya sekedar harga fisik aset, namun juga termasuk faktor tak berwujud, seperti reputasi dan bisnis yang mapan.

Faktor tak berwujud inilah yang dimaksud dengan goodwill.

Jadi, taruhlah pemilik toko tersebut sepakat untuk menjual tokonya dengan harga 7 miliar, ini artinya, 4 miliar (5 miliar - 1 miliar) merupakan aset berwujud, sedangkan sisanya sebesar 3 miliar merupakan aset tak berwujud atau goodwill. 

Goodwill = Harga yang dibayar - Nilai pasar wajar dari aset bersih

Untuk mengilustrasikan pencatatan akuntansi atas goodwill, asumsikan PT XYZ membeli aset bersih PT ABC. Nilai buku dan nilai pasar dari aset PT ABC adalah sebagai berikut:

Nilai Pasar Nilai Buku
Piutang (Bersih) 90 juta 100 juta
Persediaan Barang Dagang 300 juta 250 juta
Bangunan 900 juta 600 juta
Utang Obligasi (200 juta) (200 juta)
Aset Bersih 1,09 miliar 750 juta

Yang dimaksud dengan piutang bersih adalah piutang dikurang dengan penyisihan piutang

Dari hasil negosiasi, PT XYZ dan PT ABC sepakat pada harga pembelian sebesar 1,3 miliar.

Karena nilai pasar dari aset bersih PT ABC adalah sebesar 1,09 miliar, maka, selisih sebesar 210 juta adalah merupakan goodwill.

Atas hal tersebut, untuk mencatat pembelian aset PT ABC, PT XYZ melakukan penjurnalan sebagai berikut:

Piutang 90 juta
Persediaan   Barang Dagang 300 juta
Bangunan 900 juta
Goodwill 210 juta
Utang Obligasi 200 juta
Kas 1,3 miliar

Goodwill tidak perlu diamortisasi karena memiliki umur yang tak terbatas.

Penutup

Perlakuan akuntansi atas aset tak berwujud hampir sama dengan aset berwujud, yaitu terkait kapitalisasi nilai perolehan senilai dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengakuisisi aset dan juga adanya proses alokasi atas biaya perolehan.

Bila pada aset berwujud alokasi biayanya disebut dengan depresiasi / penyusutan, maka, pada aset tak berwujud alokasi biayanya disebut dengan amortisasi.

Terkait nilai perolehan, bila pembelian menggunakan dana pinjaman berbunga, maka, bunga dari pinjaman tersebut tidak dapat dikapitalisasi karena kapitalisasi bunga hanya diperkenankan untuk aset tetap berwujud yang dibangun sendiri.

Sekian tulisan saya mengenai akuntansi untuk aset tak berwujud. 

Stay safe and stay healthy. Take care!