Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kapitalisasi Bunga Pembiayaan Aset Tetap

Kapitalisasi Bunga Pembiayaan Aset Tetap

Dalam mengakuisi aset tetap, tak jarang perusahaan mencari pendanaan dari pinjaman berbunga, baik itu dari pinjaman bank maupun dari penerbitan obligasi.

Seluruh biaya untuk mengakuisisi aset tetap tidak dibebankan sekaligus pada periode perolehan, namun dikapitalisasi terlebih dahulu, barulah kemudian dibebankan secara berkala melalui penyusutan.

Namun demikian, beban bunga yang timbul atas pinjaman untuk memperoleh aset tetap tidaklah dikapitalisasi, kecuali aset tetap tersebut diperoleh melalui proses konstruksi dan bukan melalui pembelian.

Kualifikasi bunga yang bisa dikapitalisasi

Bunga pinjaman yang dapat dikapitalisasi hanyalah bunga atas pinjaman untuk memperoleh aset tetap melalui proses konstruksi.

Artinya, bunga atas pinjaman yang digunakan untuk memproduksi aset lancar seperti persediaan, maka bunganya tidak dapat dikapitalisasi.  

Cara menentukan jumlah bunga yang dapat dikapitalisasi adalah dengan mengalikan rata-rata tertimbang akumulasi pengeluaran aktiva (weighted-average accumulated expenditures) dengan tingkat suku bunga yang tepat.

Hasil dari pengalian tersebut disebut bunga yang dapat dihindarkan (avoidable interest).

Nilai bunga yang dikapitalisasi adalah nilai terendah antara bunga yang dapat dihindarkan dan bunga aktual.

Misalkan nilai bunga yang dapat dihindarkan adalah sebesar 1 juta dan nilai bunga aktual adalah 1,2 juta, maka nilai bunga yang dikapitalisasi adalah sebesar 1 juta, sedangkan 200 ribu sisanya menjadi beban bunga.

Namun, jika, nilai bunga yang dapat dihindarkan adalah sebesar 1 juta dan nilai bunga aktual adalah 900 ribu, maka yang dikapitalisasi adalah sebesar 900 ribu.

Rata-rata tertimbang akumulasi pengeluaran

Apabila pengeluaran untuk konstruksi aset tetap terjadi secara merata sepanjang tahun, maka kamu hanya perlu menambah akumulasi pengeluaran di awal tahun dengan akumulasi pengeluaran di akhir tahun. Kemudian hasil penjumlahan tersebut dibagi 2.

Namun, perhitungannya akan menjadi berbeda apabila pengeluaran untuk konstruksinya terjadi secara tidak merata sepanjang tahun, maka kamu harus mengambil rata-rata tertimbang. 

Pengeluaran merata sepanjang tahun

Asumsikan PT XYZ memulai konstruksi pembangunan gedung kantor pada tanggal 1 Januari 2020. Per tanggal 31 Desember 2020, PT XYZ telah mengeluarkan 20 miliar.

Atas hal tersebut, maka rata-rata pengeluaran adalah (0 + 20 miliar) / 2 = 10 miliar.

Nilai  0 adalah karena konstruksi baru dimulai pada awal tahun 2020, sehingga akumulasi pengeluaran di awal tahun masih bernilai 0.

Selanjutnya, per tanggal 31 Desember 2021, total akumulasi pengeluaran adalah 30 miliar.

Sehingga, rata-rata pengeluaran untuk tahun 2021 adalah (20 miliar + 30 miliar) / 2 = 25 miliar.

Ingat!! 

Perhitungan ini hanya bisa dilakukan bila pengeluaran yang terjadi sepanjang tahun, jumlahnya merata.

Pengeluaran tidak merata sepanjang tahun

Asumsikan pengeluaran PT ABC untuk konstruksi pembangunan gedung kantor untuk tahun 2020 adalah sebagai berikut: 1 Januari sebesar 10 miliar, 1 Juli sebesar 20 miliar, dan 1 November sebesar 5 milar.

Perhatikan, pada kasus kali ini, pengeluaran PT ABC untuk konstruksi gedungnya tidak terjadi secara merata, maka perlu dihitung rata-rata tertimbangnya:

1 Jan - 30 Jun 10 miliar x 6 60 miliar
1 Jul - 31 Okt 30 miliar* x 4 120 miliar
1 Nov - 31 Des 35 miliar** x 2 70 miliar
250 miliar
* (10 miliar + 20 miliar)
** (30 miliar + 5 miliar)

Selanjutnya, barulah kamu bisa menghitung rata-rata tertimbang, yaitu:
 
Rata-rata tertimbang = 250 miliar / 12
= 20,8 miliar

Setelah nilai rata-rata tertimbang akumulasi pengeluaran didapat, kamu bisa menentukan bunga yang dapat dikapitalisasi dengan mengalikan nilai rata-rata tertimbang dengan bunga yang tepat.

Nah, pada tahun 2020, jumlah utang PT ABC adalah:


Utang untuk konstruksi gedung 15 miliar dengan bunga 10% = 1,5 miliar
Utang obligasi umum 8 miliar dengan bunga 8% = 640 juta
Total bunga aktual = 2,14 miliar

Sekarang, kamu bisa menghitung bunga yang dapat dihindarkan. Untuk rata-rata tertimbang akumulasi pengeluaran sebesar 15 miliar dari 20,8 miliar, kamu bisa menggunakan tingkat suku bunga sebesar 10% dari utang yang memang ditujukan untuk konstruksi ini.

Sedangkan, sisanya sebesar 5,8 miliar, kamu bisa menggunakan tingkat suku bunga sebesar 8% dari utang obligasi umum PT ABC.

15 miliar x 10 % = 1,5 miliar
5,8 miliar x 8% = 464 juta
Suku bunga yang dapat dihindarkan = 1,964 miliar

Karena nilai bunga yang dapat dihindarkan lebih kecil dari nilai bunga aktual, maka nilai bunga yang dikapitalisasi adalah nilai bunga yang dapat dihindarkan. Jurnalnya adalah sebagai berikut:

Bangunan 1,964 miliar
Beban Bunga 176 juta
Kas 2,14 miliar

***

Dalam beberapa kasus, sangat mungkin suatu perusahaan memiliki beberapa jenis pinjaman di luar pinjaman yang digunakan secara spesifik untuk konstruksi aset tetapnya.

Misalnya pada contoh kasus pada PT ABC di atas, di mana seandainya perusahaan memiliki pinjaman lainnya berupa wesel bayar dengan tingkat bunga sebesar 11%. 

Atas hal tersebut, perusahaan perlu menghitung rata-rata tingkat suku bunga dari utang non-konstruksinya:
   
Rata-rata tingkat bunga = Total bunga
Total pokok

Rincian utang PT ABC:

Utang untuk konstruksi gedung 15 miliar @ 10% = 1,5 miliar
Utang obligasi umum 8 miliar @ 8% = 640 juta
Wesel bayar 1 miliar @ 11% = 110 juta
Total pokok dan bunga non-konstruksi 9 miliar = 750 juta

Maka, rata-rata suku bunga utang non-konstruksinya adalah sebagai berikut:

750 juta / 9 miliar = 8,33%

Selanjutnya, untuk menghitung bunga yang dikapitalisasi adalah sama dengan langkah yang telah saya jelaskan pada contoh PT ABC sebelumnya.


Sekian tulisan saya mengenai kapitalisasi bunga pembiayaan aset tetap.

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment for "Kapitalisasi Bunga Pembiayaan Aset Tetap"