Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hubungan antara Persediaan dengan Biaya di dalam Akuntansi

Hubungan antara persediaan dan biaya

Di dalam akuntansi, apabila kamu atau perusahaanmu menjual produk berupa barang dan bukan jasa, kamu pasti akan memilki akun neraca yang namanya persediaan atau inventory

Persediaan tersebut akan selalu berada di neraca sisi aset, hingga barang tersebut terjual. Ketika barang tersebut akhirnya terjual, maka nilainya akan berpindah ke biaya pokok di laporan laba rugi. 

Perpindahan nilai persediaan menjadi harga pokok penjualan (HPP)

Seperti yang telah dijelaskan di atas, selama perusahaanmu tidak bergerak di bidang jasa, entah itu bergerak di bidang manufaktur ataupun retail, pada akhirnya kamu akan menjual produk berupa barang. 

Tentu, sebelum menjual, kamu harus membeli atau menciptakan barang tersebut terlebih dahulu. Persediaan barang dagang yang kamu miliki untuk dijual ke pelanggan dinamakan aset persediaan barang dagang. Persediaan tersebut dapat berupa barang jadi seperti lemari ataupun bahan baku seperti kayu atau plastik untuk membuat lemari, namun tidak menutup kemungkinan perusahaanmu juga menjual barang setengah jadi untuk kemudian diolah lebih lanjut oleh perusahaan lain, untuk dijadikan barang jadi. 

Kalau perusahaanmu memproduksi barang, artinya perusahaanmu adalah perusahaan manufaktur dan persediaan masih membutuhkan beberapa proses pengolahan untuk siap dijual ke pelanggan. 

Setelah persediaan barang terjual ke pelanggan, nilai perolehan dari persediaan yang terjual tidak lagi berada di neraca, tetapi berpindah ke laba rugi menjadi harga pokok penjualan (HPP). 

Meski demikian, perpindahan tersebut mungkin saja tidak terjadi secara langsung, tergantung dari apakah perusahaan menggunakan sistem pencatatan prepetual atau periodik. 

Untuk pemahaman yang lebih mendalam mengenai sistem prepetual dan periodik, kamu bisa membaca tulisan saya yang berjudul "Akuntansi Perusahaan Dagang". 

Transformasi persediaan ke harga pokok penjualan
Untuk kasus pada perusahaan manufaktur, perlakuan akuntansinya juga serupa dengan perusahaan dagang. Meskipun bahan baku masih belum selesai diproses dan belum siap untuk dijual, semuanya tetap diakui sebagai persediaan di neraca. 

Proses produksi pada perusahaan manufaktur tentu saja membutuhkan waktu dan terkadang waktu produksinya tidak sama dengan periode pelaporan akuntansi, sehingga untuk mengatasi hal ini perusahaan manufaktur mengklasifikasikan persediannya ke dalam tiga kategori, yaitu:
  • Bahan baku (raw materials).
  • Barang setengah jadi (work in process).
  • Barang jadi (finished goods).

Menentukan nilai dari persediaan

Tujuan utama dari penjualan adalah mendapatkan keuntungan. Untuk bisa menjual dengan harga yang menguntungkan, suatu perusahaan harus mampu menentukan nilai perolehan persediaannya dengan akurat. 

Untuk perusahaan retail, menentukan biaya perolehan barang dagangnya tidak cukup dengan menghitung harga barang itu saja, tetapi juga melibatkan faktor-faktor biaya lainnya. 

Pada perusahaan manufaktur lebih rumit lagi, karena lebih banyak melibatkan faktor-faktor biaya lainnya dan tidak bisa menentukan hanya berdasarkan harga bahan bakunya itu sendiri. 

a. Biaya perolehan pada perusahaan dagang

Pada perusahaan dagang, perusahaan mendapat persediaan barang dagang dari pemasok dan menjualnya ke pelanggan dengan kondisi barang yang sama persis dengan kondisi barang yang diterima dari pemasok. Artinya, tidak ada lagi proses pengolahan lebih lanjut atas barang tersebut.

Atas dasar itu, untuk menentukan harga perolehan diperlukan sedikit perhitungan tambahan, yaitu pajak yang harus dibayar untuk memperoleh barang dan biaya pengiriman. Selanjutnya, apabila dalam pembelian ke pemasok, mendapatkan diskon, maka total penjumlahan tersebut dikurangkan dengan diskon pembelian.

Jadi, total harga perolehan persedian barang dagang pada perusahaan dagang bisa diformulasikan sebagai berikut:

Nilai persediaan = harga barang + pajak + biaya pengiriman - diskon

Setelah mendapatkan harga totalnya, selanjutnya bagi dengan kuantitas barang yang dibeli, untuk menentukan harga per satuan dari barang tersebut.

Asumsikan kamu membeli 200 smartphone dengan harga  per unitnya 1 juta, jadi totalnya 200 juta. Kamu membayar pajak 10% atau sebesar 20 juta. Biaya kirim barang tersebut hingga sampai ke gudangmu adalah sebesar 3 juta. Kemudian, kamu membayarnya 15 hari setelah barang diterima, sehingga kamu memperoleh diskon sebesar 2% atau sebesar 1 juta. Jadi total biaya perolehan untuk 200 smartphone ini adalah sebesar 222 juta (200 juta + 20 juta + 3 juta - 1 juta). Dengan demikian, biaya perolehan per unitnya adalah sebesar 1,11 juta (222 juta / 200 unit).

b. Biaya perolehan pada perusahaan manufaktur

Pada perusahaan manufaktur, untuk menentukan harga perolehan persediaan membutuhkan langkah-langkah lebih lanjut dibandingkan pada perusahaan dagang. 

Selain itu, juga jangan lupakan pada perusahaan manufaktur, persediaan diklafikasikan menjadi tiga kategori, yaitu bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. 

Bahan baku merupakan kepingan awal suatu produk yang masih dalam keadaan mentah dan belum dilakukan proses apapun terkait produksi. 

Barang setengah jadi adalah barang yang sedang dalam tahap awal proses produksi dan juga tahap akhir produksi, namun belum menjadi barang jadi atau belum siap dijual. 

Barang jadi adalah barang yang sudah siap untuk dijual. 

Setiap kategori persediaan ini akan dinilai berdasarkan beberapa metode yang akan saya bahas selanjutnya. Adapun metode tersebut adalah FIFO, LIFO, dan average

Langkah selanjutnya untuk penilaian persediaan pada perusahaan manufaktur adalah termasuk menambahkan komponen-komponen biaya lainnya, yaitu biaya tenaga kerja yang terlibat pada proses produksi dan biaya-biaya tidak langsung atau overhead.


Tiga metode untuk menilai persediaan

Ada tiga metode untuk menilai persediaan, yaitu 
  • First in, first out (FIFO)
  • Last in, first out (LIFO)
  • Average
Metode-metode ini memberikan hasil yang berbeda-beda untuk nilai HPP perusahaan pada suatu periode. Tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain. 

Penggunaan metode ini akan tepat untuk diterapkan, tergantung tipe persediaan perusahaan. 

Ketika kamu sudah memilih menggunakan salah satu metode, kamu tidak bisa seenaknya mengganti dengan metode lain, namun bila kamu memutuskan untuk mengubahnya karena suatu alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka kamu juga perlu mengubah metode penilaian persediaan pada laporan periode-periode sebelumnya.

Oh ya, sebenarnya ada beberapa metode di luar tiga metode tersebut, yang juga bisa digunakan untuk menentukan nilai persediaan. Kamu bisa membacanya pada tulisan saya yang berjudul "5 Metode Alternatif untuk Menghitung Nilai Persediaan

a. FIFO

Pada metode FIFO, setiap kali kamu menjual suatu produk, maka untuk penentuan HPP-nya kamu menggunakan biaya paling awal dari biaya perolehan persediaan. 

Metode ini biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang persediaanya tidak tahan lama, seperti perusahaan yang menjual makanan segar. 

Keunggulan dari metode ini adalah persediaan akan dinilai selaras dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperolehnya dan juga dibanding LIFO, perusahaanmu akan memiliki nilai akhir persediaan yang sama, apapun sistem persediaan yang kamu gunakan, baik itu prepetual ataupun periodik.

Contoh penggunaan metode FIFO adalah sebagai berikut. Asumsikan perusahaanmu menggunakan sistem persediaan periodik. Pada tanggal 11 Januari 2020, perusahaanmu  membeli 30 unit barang dengan harga per unitnya 1 juta, pada akhir bulan tersisa 15 unit. Kemudian pada tanggal 13 Februari 2020, perusahaanmu kembali membeli 20 unit barang, namun kali ini harga per unitnya naik menjadi 1,2 juta. Pada akhir Maret 2020, kamu menghitung bahwa persediaan hanya tersisa 10 unit, berarti persediaan yang terjual selama kuartaltersebut adalah 40 unit. Berdasarkan metode FIFO, HPP untuk kuartal ke-1 (Januari-Maret) menjadi sebesar 42 juta (30 unit pada harga @1 juta dan 10 unit pada harga @1,2 juta). Nilai akhir persediaan di neraca adalah sebesar 12 juta (10 unit pada harga @1,2 juta).

Sistem persediaan FIFO

b. LIFO

Pada metode LIFO, setiap kali kamu menjual suatu produk, maka untuk penentuan HPP-nya kamu menggunakan biaya paling akhir dari biaya perolehan persediaan. 

Metode ini biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang persediaan terbarunya memilki kemungkinan terjual paling cepat, seperti perusahaan fashion.

Berebeda dengan FIFO, pada metode LIFO nilai akhir persediaan bisa berebeda ketika kamu menggunakan sistem persediaan periodik atau prepetual. 

Ketika menggunakan sistem persediaan prepetual, kamu secara langsung menggunakan harga perolehan tiap persediaan terakhir yang kamu beli untuk penentuan HPP, sedangkan pada sistem persediaan periodik, harga perolehan persediaan yang digunakan sebagai penentuan HPP adalah benar-benar yang paling terakhir pada saat periode pelaporan.

Untuk lebih memahami penjelasan di atas. Asumsikan pada tanggal 3 Januari 2020 perusahaanmu membeli 10 pasang sepatu dengan harga 500 ribu per pasangnya. Pada tanggal 10 Januari 2020 perusahaanmu berhasil menjual 6 pasang. Pada tanggal 16 Januari 2020 perusahaanmu kembali membeli 10 pasang, tetapi kali ini dengan harga 550 ribu per pasangnya. Pada tanggal 22 Januari 2020, perusahaanmu berhasil menjual 8 pasang. Pada tanggal 25 Januari 2020, perusahaanmu kembali membeli 10 pasang, kali ini dengan harga 600 ribu. Akhirnya, pada akhir bulan di tanggal 31 Januari 2020, perusahaan kembali menjual 9 pasang sepatu, sehingga sisa sepatu yang ada di gudang tersisa tinggal 7 pasang. Berapakah nilai persediaan dan HPP pada akhir periode tersebut?

Sistem persediaan periodik

Nilai persediaan akhir adalah sebesar 3,5 juta (7 x 500 ribu) dan HPP-nya adalah sebesar 13 juta ( (10x600 ribu) + (10x550 ribu) + (3x500 ribu) ). 
 
Sistem persediaan prepetual

Pada sistem persedian prepetual akan menghasilkan nilai persediaan dan HPP yang berbeda. Pada penjualan ke-1, HPP-nya adalah sebesar 3 juta (6 x 500 ribu). Pada penjualan ke-2, HPP-nya sebesar 4,4 juta (8x550 ribu). Pada penjualan ke-3, HPP-nya adalah sebesar 5,4 juta (9 x 600 ribu). Jadi, total HPP pada akhir periode adalah sebesar 12,8 juta dan nilai persediaan akhir periode adalah sebesar 4,2 juta.

Sistem persediaan LIFO prepetual

C. Average atau biaya rata-rata

Biaya rata-rata biasanya digunakan pada perusahaan yang menjual barang sejenis dan dalam jumlah besar, seperti misalnya perusahaan perkakas dengan persediaan barang dagang seperti mur, baut, paku, dan sekrup. Tentu akan sangat ruwet bila menggunakan metode persediaan seperti FIFO ataupun LIFO.

Perhitungan biaya rata-rata sendiri tidak sesulit bila menggunakan FIFO atau LIFO, cukup dengan menggunakan matematika sederhana. Setiap kali kamu membeli persediaan barang dagang, kamu hanya perlu menghitung ulang biaya rata-ratanya.



Sekian penjelasan saya mengenai hubungan antara persediaan barang dagang serta cara menentukan harga perolehan dan juga metode-metode penilaiaannya yang dapat mempengaruhi harga pokok penjualan di laba rugi.

Stay safe and stay healthy. Take care!