Advertisement

Ad Code

Metode Persentase Penjualan untuk Peramalan Keuangan

Metode Persentase Penjualan

Metode persentase penjualan (percentage of sales method) merupakan suatu metode yang menggunakan target penjualan sebagai perkiraaan kebutuhan aset, kewajiban, dan berbagai beban di masa depan.

Jadi, aset, kewajiban, dan beban untuk periode yang akan datang, diestimasi sebagai persentase dari penjualan. Persentase tersebut, nantinya, digunakan untuk menyusun laporan laba rugi dan neraca pro forma.

Laporan keuangan pro forma, sama dengan laporan common-size, adalah laporan keuangan yang diperuntukkan untuk penggunaan internal perusahaan. 

Tujuan dari penyusunan laporan keuangan pro forma adalah untuk menghitung pembiayaan eksternal yang dibutuhkan perusahaan untuk mencapai target penjualannya.

Laba Rugi Pro Forma pada Metode Persentase Penjualan

Untuk mempermudah pemahaman mengenai metode persentase penjualan, saya akan mengilustrasikannya dengan contoh kasus pada PT XYZ.

Berikut adalah laporan laba rugi terbaru PT XYZ pada tahun 2020:

PT XYZ
Laporan Laba Rugi
2020
Penjualan 1 miliar
HPP 700 juta
Pendapatan Sebelum Pajak 300 juta
Pajak (25%) 75 juta
Laba Bersih 225 juta
     Dividen 45 juta
     Laba Ditahan 180 juta

Pada akhir 2020, PT XYZ memproyeksikan peningkatan penjualan sebesar 20 persen untuk tahun berikutnya, sehingga target penjualan pada tahun 2021 adalah sebesar 1 miliar x 1,20 = 1,2 miliar.

Untuk meng-generate laba rugi pro forma, asumsikan HPP pada 2021 tetap sebesar 700 juta / 1 miliar = 70 persen dari penjualan.

Maka, laporan laba rugi pro forma PT XYZ untuk tahun 2021 adalah sebagai berikut:

PT XYZ
Laporan Laba Rugi Pro Forma
Penjualan 1,2 miliar
HPP 840 juta
Pendapatan Sebelum Pajak 360 juta
Pajak (25%) 90 juta
Laba Bersih 270 juta
Dividen 54 juta
Laba Ditahan 216 juta

Konsekuensi dari persentase HPP yang konstan adalah marjin laba bersih yang juga konstan, yaitu senilai 225 juta / 1 miliar = 270 juta / 1,2 miliar = 22,5 persen.

Selain itu, pada kasus PT XYZ, perusahaan memiliki kebijakan rasio pembayaran dividen yang konstan, di mana rasio pembayaran dividen selalu sama dari tahun ke tahun, yaitu:

Rasio Pembayaran Dividen \(= \frac{\text{Dividen}}{\text{Laba Bersih}}\)

\(= \frac{45 \, \text{juta}}{225 \, \text{juta}}\)

\(= 20\%\)

Selanjutnya, sisa dari laba bersih setelah didistribusikan untuk dividen, merupakan laba ditahan perusahaan.

Proporsinya adalah sebesar 1 dikurang rasio pembayaran dividen. Rasio ini biasa disebut dengan rasio retensi.

Rasio Retensi \(= 1 - \text{Rasio Pembayaran Dividen}\)

\(= 1 - 20\%\)

\(= 80\%\)

Atas hal tersebut, dividen serta laba bersih yang diproyeksikan pada 2021 oleh PT XYZ adalah sebesar:

Dividen yang Diproyeksikan \(= 270 \, \text{juta} \times 20\% = 54 \, \text{juta}\)

Laba Ditahan yang Diproyeksikan \(= 270 \, \text{juta} \times 80\% = 216 \, \text{juta}\)

Neraca Pro Forma pada Metode Persentase Penjualan

Untuk meng-generate neraca pro forma, terlebih dahulu kamu perlu mengetahui komposisi akun-akun di neraca terhadap penjualan.

Di neraca sendiri, ada beberapa akun yang terkait langsung dengan penjualan maupun yang tidak.Ketika suatu akun berkaitan langsung dengan penjualan, disajikan persentase komposisinya terhadap penjualan. Namun, bila tidak berkaitan, maka diberi tanda t/a atau tidak berlaku.

Berikut adalah laporan neraca terbaru PT XYZ pada tahun 2020:

PT XYZ
Neraca
2020
Aset

Rp % of Sales
Aset Lancar
Kas 100 juta 10%
Piutang 400 juta 40%
Persediaan 500 juta 50%
Total 1 miliar 100%
Aset Tetap
Peralatan & Pabrik (Net) 1,5 miliar 150%
Total Aset 2,5 miliar 250%
Kewajiban & Modal
Kewajiban Lancar
Utang Dagang 350 juta 350%
Wesel Bayar 50 juta t/a
Total 400 juta t/a
Kewajiban Jangka Panjang
Obligasi 800 juta t/a
Modal
Modal Disetor 1 miliar t/a
Laba Ditahan 300 juta t/a
Total 1,3 miliar t/a
Total Kewajiban dan Modal 2,5 miliar t/a

Pada sisi aset, di tahun 2020, nilai persediaan adalah sebesar 50 persen dari penjualan (500 juta / 1 miliar).

Kamu perlu mengasumsikan bahwa persentase ini juga berlaku untuk tahun yang akan datang. Ini artinya, untuk setiap kenaikan penjualan sebesar Rp 100, persediaan akan naik sebesar Rp 50.

Selanjutnya, rasio total aset terhadap penjualan adalah sebesar 250 persen. Rasio ini menginformasikan bahwa, pada PT XYZ, untuk menghasilkan penjualan sebesar Rp 100, total aset yang diperlukan adalah sebesar Rp 250.

Pada sisi kewajiban dan modal, tidak semua akun terkait langsung dengan penjualan.

Utang usaha merupakan satu-satunya akun, pada contoh ini, yang memiliki kaitan langsung dengan penjualan, karena saat perusahaan mengalami peningkatan penjualan, saat itu pula pesanan ke pemasok ikut meningkat, sehingga menyebabkan peningkatan utang usaha.

Akun-akun lainnya seperti wesel bayar, utang jangka panjang, dan modal disetor, tidak memiliki kaitan langsung dengan penjualan, sehingga ditandai dengan "t/a".

Untuk laba ditahan, sebenarnya, memiliki kaitan dengan penjualan, namun terkait hal tersebut, estimasi sudah dilakukan pada laba bersih dan dividen yang didistribusikan.  

Setelah mengetahui komposisi akun-akun neraca yang terkait langsung dengan penjualan terhadap penjualan, barulah neraca pro forma dapat dikonstruksi.

Seperti misalnya, kas adalah sebesar 10 persen dari penjualan, sehingga dengan target penjualan sebesar 1,2 miliar, maka kas akan menjadi sebesar 120 juta (0,10 x 1,2 miliar).

Piutang adalah sebesar 40 persen dari penjualan, sehingga nilai piutang di neraca pro forma akan menjadi sebesar 480 juta (0,40 x 1,2 miliar).

Begitu seterusnya. 

PT XYZ
Neraca Pro Forma
Aset

Proyeksi Change
Aset Lancar
Kas 120 juta 20 juta
Piutang 480 juta 80 juta
Persediaan 600 juta 100 juta
Total 1,2 miliar 200 juta
Aset Tetap
Peralatan & Pabrik (Net) 1,8 miliar 300 juta
Total Aset 3 miliar 500 juta
Kewajiban

Proyeksi Change
Kewajiban Lancar
Utang Dagang 420 juta 70 juta
Wesel Bayar 50 juta 0
Total 470 juta 70 juta
Kewajiban Jangka Panjang
Obligasi 800 juta 0
Modal
Modal Disetor 1 miliar 0
Laba Ditahan 516 juta 216 juta
Total 1,516 miliar 216 juta
Total Kewajiban dan Ekuitas 2,786 miliar 286 juta
Kebutuhan Pendanaan Eksternal 214 juta 214 juta

Dari neraca pro forma tersebut, total aset diproyeksikan meningkat sebesar 500 juta, sedangkan kewajiban dan ekuitas hanya meningkat sebesar 286 juta.

Artinya, ada kekurangan sebesar 214 juta (500 juta - 286 juta) yang tak dapat dipenuhi oleh pendanaan internal perusahaan (laba ditahan).

Selisih itulah yang disebut dengan pendanaan eksternal yang dibutuhkan (external financing needed).

Jadi, untuk mencapai target penjualan sebesar 1,2 miliar, PT XYZ membutuhkan tambahan aset sebesar 500 juta.

Namun, untuk meningkatkan aset sebesar 500 juta, PT XYZ masih kekurangan dana sebesar 214 juta.

Kekurangan ini bisa dipenuhi PT XYZ dengan mengajukan pinjaman jangka pendek ke bank, menerbitkan obligasi, ataupun dengan menerbitkan saham baru.

Dalam hal menentukan sumber pembiayaan eksternal, perusahaan perlu memperhatikan struktur modal yang optimal.

Penutup

Metode persentase penjualan merupakan metode yang menggunakan target penjualan di masa depan untuk menghitung pendanaan internal (laba ditahan) yang dihasilkan perusahaan di masa depan dengan merekonstruksi laba rugi pro forma.

Setelah itu, target penjualan, juga dijadikan sebagai dasar perhitungan nilai aset yang diperlukan untk mencapai target tersebut dengan merekonstruksi neraca pro forma.

Hasil akhirnya adalah selisih nilai aset dengan nilai kewajiban plus ekuitas. Selisih tersebut, merupakan kekurangan dana untuk mengakuisisi aset yang diperlukan. Kekurangannya dapat dipenuhi perusahaan dengan menerbitkan saham baru ataupun dengan pinjaman bank atau menerbitkan obligasi.

Sekian tulisan saya mengenai metode persentase penjualan untuk peramalan keuangan. 

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment

0 Comments

Comments