Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebijakan Dividen dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Kebijakan Dividen

Dividen adalah laba bersih perusahaan yang didistribusikan langsung ke pemegang sahamnya. 

Dividen didistribusikan oleh perusahaan, biasanya setahun sekali, dalam bentuk kas ataupun saham. 

Dividen dibayarkan dari laba ditahan dan bukan dari modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham ataupun dari kelebihan pembayaran yang diterima saat penjualan saham.

Secara umum, semakin stabil pendapatan perusahaan, semakin teratur pula distribusi dividennya.

Kebijakan dividen

Kebijakan dividen sangat penting bagi perusahaan karena hal ini berkaitan dengan persepsi investor. Biasanya, investor menghubungkan pemotongan dividen dengan kesulitan perusahaan dalam hal keuangan.  

Oleh karena itu, dalam menetapkan kebijakan dividen, manajemen perusahaan harus benar-benar memahami karakteristik dan juga tujuan dari para pemegang saham perusahaan. Jika hal tersebut diabaikan, pemegang saham bisa saja menjual sahamnya, sehingga dapat menurunkan harga pasar saham.

Namun demikian, perlu dipahami bahwa dividen diambil dari laba ditahan, sehingga kebijakan pembayaran dividen yang tinggi, akan mengurangi nilai ekuitas pemegang saham di neraca dan juga aset berbentuk kas (apabila pembayaran dividen berupa kas).

Atas hal tersebut, kebijakan dividen memiliki dampak, setidaknya atas tiga hal, yaitu: 
  • Penganggaran dan pembiayaan. Pembayaran dividen menyebabkan perlunya perusahaan untuk mencari opsi pendanaan lain apabila membutuhkan modal besar untuk investasi.
  • Posisi kas. Dividen juga mempengaruhi arus kas perusahaan, sehingga perusahaan dengan posisi likuiditas yang kurang baik, perlu membatasi distribusi dividennya dan fokus untuk memaksimalkan laba ditahan untuk investasi perusahaan.
  • Struktur modal. Karena pembayaran dividen diambil dari laba ditahan di neraca, maka hal tersebut akan menurunkan nilai ekuitas perusahaan, sehingga meningkatkan rasio utang terhadap modal perusahaan.
Melihat dampak dividen terhadap posisi kas dan juga ekuitas perusahaan, maka sudah seharusnya perusahaan di tahap growth dan expansion, yang kebutuhan kas untuk investasinya masih besar, tidak jor-joran dalam mendistribusikan dividen ke pemegang saham.

Tanggal-tanggal penting dividen

Tanggal-tanggal yang perlu menjadi perhatian terkait dividen adalah sebagai berikut:
  • Tanggal pengumuman (declaration date). Ini adalah tanggal dimana jajaran direksi mengumumkan dividen. Pada tanggal ini, pembayaran dividen sudah menjadi kewajiban perusahaan yang memiliki konsekuensi hukum.
  • Tanggal pencatatan (record date). Ini adalah tanggal dimana pemegang saham berhak menerima dividen.
  • Tanggal ex dividen (ex-dividend date). Ini adalah tanggal dimana hak atas dividen meninggalkan saham. Artinya, pembeli yang membeli saham pada tanggal ex dividen, tidak berhak menerima pembayaran dividen, karena hak tersebut adalah milik penjual saham. Tanggal ex dividen sendiri adalah dua hari sebelum tanggal pencatatan. Harga saham pada tanggal ex dividen biasanya akan mengalami penurunan karena investor yang sudah tercatat namanya sebagai penerima dividen, umumnya akan menjual saham tersebut.
  • Tanggal pembayaran (payment date)Ini adalah tanggal dimana perusahaan mendistribusikan dividen ke para pemegang sahamnya. 

Contoh 1:

PT Tanggap Covid mengumumkan bahwa tanggal pencatatan dividen adalah tanggal 31 April 2020. Najwa menjual 100 lembar saham PT Tanggap Covid ke Terawan pada tanggal 28 April 2020. Atas hal tersebut, yang akan menerima dividen adalah Najwa dan bukan Terawan. 

Contoh 2:

Asumsikan tanggal pencatatan dividen adalah pada tanggal 21 Mei 2020, maka tanggal ex dividen adalah pada tanggal 19 Mei 2020.
Tanggal pencatatan dividen
Apabila kamu membeli saham pada tanggal 19 Mei 2020, maka kamu tidak akan menerima dividen, karena namamu tidak akan muncul di perusahaan sebelum hari Jum'at tanggal 22 Mei 2020. 

Kalau kamu ingin membeli saham dan menerima dividen, maka kamu harus membelinya pada tanggal 18 Mei 2020, sedangkan bila kamu ingin menjual saham dan tetap menerima dividen, maka kamu harus menjualnya pada tanggal 19 Mei 2020.

Tipe-Tipe kebijakan Dividen

Tujuan perusahaan dalam menetapkan kebijakan dividen adalah untuk memaksimalkan kemakmuran pemegang sahamnya dan juga menyediakan dana yang cukup untuk pembiayaan investasi perusahaan.

Saat pendapatan perusahaan meningkat, tidak berarti manajemen harus meningkatkan distribusi dividennya. Wajarnya, perusahaan meningkatkan dividen pada saat manajemen yakin akan dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan labanya.

Beberapa tipe kebijakan dividen adalah kebijakan dividen per lembar saham yang stabil, kebijakan rasio pembayaran dividen yang konstan, kebijakan kompromi, dan kebijakan dividen sisa.

Kebijakan dividen per lembar saham yang stabil

Perusahaan yang menggunakan kebijakan dividen per lembar saham yang stabil, dapat memberikan sinyal positif ke investor, yaitu berupa persepsi atas rendahnya risiko investasi pada perusahaan yang bersangkutan.

Stabilitas dividen berarti bahwa perusahaan harus membayar dividen secara stabil atau terus menerus, bahkan di tahun-tahun ketika perusahaan mengalami kerugian. Hal ini bertujuan untuk menjaga citra perusahaan di mata investor.

Kebijakan dividen yang stabil juga biasanya dijadikan prasyarat bagi suatu perusahaan untuk dimasukkan ke dalam daftar tempat lembaga keuangan (dana pensiun dan asuransi) berinvestasi. 

Kebijakan rasio pembayaran dividen yang konstan

Pada kebijakan ini, yang kostan bukan jumlah rupiah dividennya, namun yang konstan adalah rasio atau persentase distribusi dari laba bersih untuk dividen ke pemegang saham. Rasio ini dikenal juga dengan dividend payout ratio.

Karena laba bersih perusahaan bervariasi, maka otomatis dividen yang didistribusikannya pun bervariasi. 

Artinya, ketika laba bersih perusahaan turun, maka jumlah rupiah dividen yang dibayarkan pun ikut turun. Ketika perusahaan mengalami kerugian, maka tidak ada dividen yang dibayarkan.

Secara teoritis, kebijakan demikian cenderung kurang memaksimalkan harga pasar saham, karena sebagian besar pemegang saham tidak menginginkan adanya variabilitas dalam penerimaan dividennya.

Kebijakan kompromi

Kebijakan ini merupakan gabungan kebijakan antara kebijakan dividen per lembar saham yang stabil dengan kebijakan rasio pembayaran dividen yang konstan.

Atas hal ini, perusahaan menetapkan jumlah pembayaran rupiah dividen yang rendah, namun pada tahun-tahun dimana perusahaan mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan, maka dividen yang didistribusikan akan ditambah sebesar persentase yang telah ditentukan.

Lagi-lagi, secara teoritis, investor cenderung tidak menyukai ketidakstabilan dividen dari kebijakan seperti ini, karena sifatnya yang tidak pasti.

Namun, kebijakan ini mungkin akan tepat untuk diterapkan pada perusahaan yang memang nilai pendapatannya sangat bervariasi selama bertahun-tahun. 

Kebijakan dividen sisa

Ketika peluang investasi perusahaan tidak stabil, manajemen tentu akan mempertimbangkan kebijakan yang berfluktuasi.

Dengan kebijakan dividen sisa, maka besarnya laba ditahan bergantung pada peluang investasi yang ada. Lebih lanjut, hal ini menyebabkan pembayaran dividen hanyalah merupakan sisa dari laba bersih setelah pembiayaan perusahaan atas investasinya telah terpenuhi. 

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen

Perusahaan tidak bisa seenaknya menetapkan kebijakan pembayaran dividennya. Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan dan juga dijadikan pertimbangan.

Beberapa faktor tersebut adalah tingkat pertumbuhan perusahaan, kontrak dengan pihak pembeli obligasi perusahaan, stabilitas laba, dan beberapa faktor yang akan saya jelaskan berikut.

Tingkat pertumbuhan perusahaan

Perusahaan yang sedang dalam fase pertumbuhan, meskipun memiliki laba yang besar, perlu membatasi distribusi dividennya agar kebutuhan dana dalam rangka menunjang investasi perusahaan dapat terpenuhi.

Kontrak obligasi

Terkadang, ketika perusahaan menerbitkan obligasi, ada suatu kontrak obligasi yang menyaratkan perusahaan untuk membatasi pembayaran dividennya.

Stabilitas laba

Perusahaan-perusahaan dengan tingkat pertumbuhan laba yang stabil, secara persentase, cenderung mendistribusikan laba bersih yang lebih besar ketimbang perusahaan dengan tingkat pertumbuhan laba yang tidak stabil.

Kendali perusahaan

Beberapa manajemen terkadang enggan memiliki tingkat pendanaan eksternal yang tinggi, karena tidak ingin mengurangi pengendaliannya atas perusahaan.

Tipe manajemen yang demikian, cenderung mempertahankan pendanaan internal yang tinggi atau dengan kata lain mempertahankan proporsi laba ditahan yang besar, sehingga mengecilkan proporsi pembayaran dividen.

Tingkat utang perusahaan 

Perusahaan dengan rasio utang terhadap ekuitas yang tinggi, akan mempertimbangkan untuk meninggikan proporsi laba ditahan, untuk menyiapkan dana untuk membayar cicilan bunga dan juga pokok pinjaman pada saat jatuh tempo.

Kemampuan untuk mendapatkan pendanaan eksternal

Perusahaan yang dengan mudah mengakses pasar modal untuk mendapatkan sumber pembiayaan eksternal, baik dengan penerbitan surat utang ataupun penerbitan saham, cenderung memiliki rasio pembayaran dividen yang tinggi.

Begitu juga sebaliknya, bila perusahaan kesulitan mengakses pasar modal dalam rangka mencari pendanaan, perusahaan tersebut akan menahan laba untuk keperluan investasinya. Hal ini akan mengecilkan rasio pembayaran dividennya.

Citra di mata investor

Pembayaran dividen dapat meningkatkan citra perusahaan di mata investor, karena mengurangi ketidakpastian atas risiko dan imbal hasil, serta memudahkan investor untuk menghitung valuasi atas nilai wajar sahamnya.

Selain itu, dengan dividen, perusahaan juga mengirimkan sinyal kepada investor bahwa kesehatan keuangan perusahaan dalam kondisi yang baik.


Sekian tulisan saya mengenai kebijakan dividen dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengaruh kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan merupakan topik yang cukup kontroversial dalam ilmu keuangan, karena beberapa ahli memiliki pendapat yang bertentangan atas hal ini.

Seperti misalnya, Gordon menyatakan bahwa perusahaan yang menahan laba dan memiliki rasio pembayaran dividen yang rendah, guna meningkatkan capital gain di masa depan, kurang disukai investor. Alasannya, dividen diterima saat ini, sedangkan capital gain diterima di masa depan dan masih belum pasti.

Di sisi yang berseberangan, Miller dan Modigliani menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak ada pengaruhnya atas nilai saham, karena yang menjadi concern investor hanyalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, bukan kebijakan perusahaan atas distribusi laba tersebut.

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment for "Kebijakan Dividen dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya"