Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengukur Kinerja Keuangan dengan Analisis Rasio Menggunakan Excel

Analisis rasio dengan excel

Pada tulisan sebelumnya mengenai excel, saya sudah menjelaskan mengenai analisis vertikal, yaitu analisis yang mengukur proporsi akun-akun di laba rugi terhadap pendapatan dan proporsi akun-akun di neraca terhadap total aset.

Output dari analisis vertikal tersebut adalah laporan laba rugi dan neraca common-size.

Nah, pada tulisan ini, saya akan mencoba untuk menjelaskan mengenai analisis rasio dari PT XYZ, yang proses penyusunan laporan laba rugi dan neracanya telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya.

Namun, sebelum masuk ke pembahasan mengenai analisis rasio, saya akan sedikit menyinggung mengenai analisis horisontal, yaitu analisis yang membandingkan kinerja keuangan perusahaan untuk beberapa periode.

Di bawah ini adalah perbandingan kinerja laporan laba rugi dan neraca PT XYZ pada tahun 2019 dan 2018.

Perubahan Laba Rugi
Perubahan Laba Rugi


Perubahan Neraca
Perubahan Neraca


Laporan perubahan laba rugi dan neraca ini sangat penting bagi analis keuangan, untuk mengetahui kinerja perusahaan. 

Seperti misalnya, meskipun kenaikan pendapatan hanya sebesar 25%, namun kenaikan laba bersih bisa mencapai 176% atau hampir tiga kali lipat. 

Dari laporan perubahan laba rugi, kamu bisa langsung mengidentifikasi penyebab hal tersebut, yaitu kenaikan beban pokok yang tidak sebesar kenaikan pendapatan, hanya naik sebesar 20%, kenaikan beban operasional yang hanya sekitar 1,7%, dan juga penurunan beban bunga hingga 14,3%.

Laporan perubahan laba rugi dan neraca, juga dapat membantu dalam melakukan analisis rasio. Seperti misalnya dalam menghitung rasio aktivitas yang memerlukan angka rata-rata dari piutang usaha.

Setelah kamu memahami analisis vertikal dan analisis horizontal, saya akan menjelaskan mengenai analisis rasio.

Analisis rasio sendiri dibagi menjadi enam klasifikasi berdasarkan kinerja keuangan yang diukur, yaitu:
  1. Rasio likuiditas, yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
  2. Rasio aktivitas, yang mengukur seberapa efisien perusahaan dalam menggunakan investasi atas aset-asetnya untuk menghasilkan penjualan dan laba.
  3. Rasio utang, yang mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan utang untuk mendanai investasi pada aset-asetnya.
  4. Rasio cakupan, yang mengukur seberapa baik perusahaan dalam membayar beban bunga.
  5. Rasio profitabilitas, yang mengukur seberapa menguntungkan perusahaan dalam kaitannya dengan aset dan ekuitasnya.
  6. Rasio pemegang saham dan nilai pasar, yang menggambarkan nilai perusahaan di mata investor dan pasar modal. 

1. Rasio likuiditas (liquidity ratio)

Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. 

Berikut merupakan rumus dan nilai rasio likuiditas keuangan PT XYZ, yang data-data keuangannya telah disajikan di awal tulisan ini.

Rasio Likuiditas
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

1.1. Modal kerja bersih 

Modal kerja bersih (net working capital) adalah total aset lancar dikurang total kewajiban lancar. 

Nilai minimum modal kerja bersih, biasa dijadikan persyaratan oleh lembaga keuangan yang menginvestasikan dananya dalam jangka panjang ke suatu perusahaan.

Perubahan nilai modal kerja bersih dari waktu ke waktu dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajemen dalam mengoperasikan perusahaan secara berkelanjutan.

1.2. Rasio modal kerja bersih terhadap penjualan 

Rasio modal kerja bersih terhadap penjualan (net working capital to sales) dikalkulasikan dengan membagi modal kerja bersih dengan penjualan.

Persentase modal kerja bersih terhadap penjualan dapat digunakan untuk membandingkan kinerja suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

1.3. Rasio modal kerja bersih terhadap aset lancar

Rasio modal kerja bersih terhadap aset lancar (net working capital to current assets) dikalkulasikan dengan membagi modal kerja bersih dengan aset lancar.

Rasio ini biasa digunakan perusahaan untuk memantau seberapa besar persentase dari potensi penyusutan aset lancar, sebelum aset lancar tersebut berkurang sebesar kewajiban lancar yang akan dibayar.

1.4. Rasio lancar

Rasio lancar (current ratio) dikalkulasikan dengan membagi antara aset lancar dengan kewajiban lancar.

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancarnya.

Apabila rasio lancar bernilai 1, artinya aset lancar perusahaan sama dengan kewajiban lancarnya, sehingga modal kerja bersihnya otomatis bernilai 0.

Apabila rasio lancar bernilai 2, artinya aset lancar perusahaan dapat menyusut hingga 50 persen untuk memenuhi kewajiban lancarnya dan tentu saja masih dapat menutupi kewajiban lancarnya.

Kreditur lebih menyukai perusahaan dengan rasio lancar yang tinggi, karena lebih mampu dalam membayar kewajiban yang akan jatuh tempo. Sebaliknya, meski tidak selalu demikian, investor lebih menyukai perusahaan yang rasio lancar-nya berada di standar industri, karena aset lancar memiliki tingkat pengembalian yang lebih rendah dibandingkan apabila perusahaan berinvestasi pada aset tetap.

Penurunan rasio lancar suatu perusahaan di bawah historis rasio lancar perusahaan tersebut ataupun di bawah standar industri, dapat menjadi suatu pertanda bahwa perusahaan mengalami masalah keuangan. Hal tersebut dapat menyebabkan perusahaan kesulitan untuk membayar kewajiban-kewajiban yang akan jatuh tempo segera, sehingga mengandalkan pinjaman berbunga untuk membayarnya.

Apabila hal tersebut terjadi, maka rasio lancar perusahaan akan semakin menurun hingga jauh di bawah 1 dan menyebabkan perusahaan membakar uang hanya untuk memenuhi kewajibannya. 

1.5. Rasio cepat

Rasio cepat (quick ratio) dikalkulasikan dengan mengurangi aset lancar dengan persediaaan, kemudian hasilnya dibagi dengan kewajiban lancar.

Rasio cepat hampir sama dengan rasio lancar, hanya saja pada rasio cepat, aset lancar dikurangkan terlebih dahulu dengan persediaan.

Alasan mengapa nilai persediaan harus dikeluarkan dari nilai aset lancar adalah karena persediaaan tidak selikuid aset lancar lainnya dan cukup sulit dilikuidasi pada nilai buku ketika perusahaan membutuhkan dana untuk membayar kewajiban lancar yang jatuh tempo.

Nilai rasio cepat yang rendah juga dapat menjadi pertanda bahwa perusahaan terlalu berlebih dalam berinvestasi pada persediaan. 

Atas hal ini, banyak perusahaan berusaha untuk memotong biaya-biaya yang timbul dari persediaan yang berlebih dan fokus kepada pengelolaan persediaan just-in-time.


2. Rasio aktivitas (activity ratio)

Rasio aktivitas mengukur seberapa baik perusahaan dalam menggunakan aset-asetnya untuk menghasilkan penjualan.

Beberapa yang diukur di rasio ini adalah kecepatan perusahaan dalam mengonversi persediaan, piutang, dan juga utang menjadi penjualan atau kas.

Rasio Aktivitas
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

2.1. Perputaran persediaan

Persediaan merupakan salah satu beban terbesar dalam perusahaan. Di samping nilai persediaan itu sendiri, persediaan juga merepresentasikan biaya-biaya lainnya, seperti biaya pengiriman, penyimpanan, dan inspeksi. Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai persediaan, silahkan baca tulisan saya yang berjudul "Hubungan antara Persediaan dengan Biaya di dalam Akuntansi".

Perputaran persediaan dikalkulasikan dengan membagi harga pokok penjualan (HPP) dengan rata-rata nilai persediaan. Rasio ini memberikan gambaran seberapa cepat perusahaan menjual persediannya.

Jadi, perputaran persediaan tahunan merupakan suatu nilai yang menunjukkan berapa kali perusahaan mengisi stok persediaan di gudang selama setahun.

Rasio perputaran persedian tahunan dapat dikonversi menjadi rata-rata hari dengan membagi jumlah hari dalam satu tahun dengan nilai rasio perputaran persediaan tahunan. Sebagai contoh, asumsikan perputaran persediaan suatu perusahaan selama satu tahun atau 365 hari adalah 10 kali, maka rata-rata hari dalam persediaan adalah 36,5 (365/10).

Dalam beberapa kasus, bukan nilai HPP yang digunakan untuk menghitung perputaran persediaan, tetapi nilai penjualan. Sehingga pada hal ini, rasio perputaran persediaan mengukur jumlah penjualan yang dihasilkan dari tiap rupiah yang diinvestasikan pada persediaan.

2.2. Rata-rata periode penagihan

Rata-rata periode penagihan (average collection period) adalah rata-rata umur piutang atau rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menagih piutang. Rasio ini bisa disajikan dalam hari dan dikalkulasikan dengan membagi piutang usaha dengan rata-rata hari penjualan kredit.

Rata-rata periode penagihan memberikan gambaran seberapa baik kebijakan kredit suatu perusahaan dan eksekusinya di lapangan. Nilai dari rata-rata periode penagihan yang baik adalah kurang dari 30 hari atau pada beberapa perusahaan mungkin sekitar 60 hari. Namun biasanya, bila di atas 90 hari, perusahaan sudah mengklasifikasikan piutang tersebut sebagai piutang tak tertagih

Semakin kecil rata-rata hari yang diperlukan untuk menagih, semakin baik suatu perusahaan. Namun demikian, perlu juga diperhatikan apabila rata-rata hari yang diperlukan untuk menagih sangat singkat dan jauh di bawah standar industri. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh kebijakan kredit perusahaan yang sangat ketat dan dapat berakibat pada hilangnya pelanggan yang potensial.

2.3. Perputaran piutang

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi penjualan tahunan dengan rata-rata piutang usaha. Rasio ini memberikan gambaran jumlah penjualan yang dihasilkan dari tiap rupiah yang diinvestasikan pada piutang usaha.

Rasio perputaran piutang memiliki hubungan terbalik dengan rata-rata periode penagihan, yaitu rasio perputaran piutang tahunan dapat dikalkulasikan dengan membagi jumlah hari dalam setahun atau 365 hari dengan rata-rata periode penagihan.

2.4. Rata-rata periode pembayaran

Rata-rata periode pembayaran adalah rata-rata dari umur utang perusahaan atau rata-rata waktu yang diperlukan perusahaan untuk membayar utang usahanya.

Rasio ini dinyatakan dalam hari dan dikalkulasikan dengan membagi utang usaha perusahaan dengan pembelian kredit.

Karena dalam perhitungan ini analis tidak memiliki data yang pasti atas pembelian kredit perusahaan, maka pembelian kredit diasumsikan sebesar 95% dari HPP.

2.5. Perputaran aset tetap

Perputaran aset tetap mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan aset tetapnya untuk menghasilkan penjualan.

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi penjualan dengan aset tetap bersih.

Meskipun semakin tinggi nilai rasio merupakan indikator yang baik, namun harus dipahami standar nilai rasio pada masing-masing industri . 

Seperti misalnya, perusahaan-perusahaan manufaktur yang banyak berinvestasi pada aset tetap, tentu secara wajar akan memiliki rasio perputaran aset tetap yang lebih rendah dibanding perusahaan-perusahaan konsultan yang tidak memerlukan banyak investasi pada aset tetap.

2.6. Perputaran total aset

Perputaran total aset mengukur seberapa efisien suatu perusahaan menggunakan total asetnya untuk menghasilkan penjualan.

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi penjualan dengan total aset.


3. Rasio utang (debt ratio)

Rasio utang mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan tingkat utang perusahaan terhadap akun-akun di neraca.

Ekuitas, yang merupakan pembanding pada beberapa rasio utang, adalah nilai saham preferen ditambah dengan nilai saham biasa ditambah dengan paid in capital ditambah dengan laba ditahan. Pada kasus PT XYZ, nilai ekuitas merupakan nilai penambahan akun-akun tersebut pada sel D33.

Kreditur sangat memperhatikan rasio ini, khususnya bila rasio utang suatu perusahaan sangat tinggi, karena dapat menimbulkan kesulitan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya.

Karena kreditur memiliki prioritas atas pendapatan perusahaan dibanding dengan pemegang saham, rasio utang yang tinggi juga dapat menimbulkan kesulitan pada pemegang saham, karena menyebabkan pendapatan tidak stabil, meskipun di sisi lain bunga dari utang merupakan pengurang pajak, sehingga sebenarnya utang juga dapat meningkatkan kesejahteraan pemegang saham pada saat yang bersamaan.

Rasio Utang
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

3.1. Rasio total utang

Rasio total utang (total debt ratio) dikalkulasikan dengan membagi total utang (utang lancar dan utang jangka panjang) dengan total aset. Rasio ini memberikan gambaran proporsi aset perusahaan yang dibiayai dengan utang.  

3.2. Rasio utang jangka panjang

Rasio utang jangka panjang (long-term debt to total assets ratio) mengukur proporsi aset perusahaan yang dibiayai dengan utang jangka panjang.

Pinjaman jangka panjang sering menjadi perhatian khusus, karena perusahaan terikat dengan komitmen jangka panjang untuk membayar cicilan bunga dan pembayaran pokok di akhir periode pinjaman.

3.3. Rasio utang jangka panjang terhadap total kapitalisasi

Rasio utang jangka panjang terhadap total kapitalisasi mengukur perbandingan antara total utang jangka panjang (biasanya obligasi) terhadap total ekuitas (saham biasa dan laba ditahan, serta saham preferen).

3.4. Rasio utang terhadap ekuitas

Rasio ini mengukur hubungan antara dana yang disediakan oleh kreditur dengan dana yang disediakan oleh pemegang saham dalam membiayai investasi perusahaan.

Semakin tinggi rasio utang terhadap ekuitas, semakin tinggi pula pengembalian yang diterima oleh pemegang saham. Ini berarti, pemegang saham suatu perusahaan dengan leverage yang tinggi, memiliki keuntungan memperoleh laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan kreditur.

Di sisi lain, perusahaan dengan leverage yang tinggi, juga meningkatkan risiko default di saat pendapatan perusahaan turun, karena tingginya biaya bunga yang harus dibayar.

3.5. Rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi utang jangka panjang dengan ekuitas.

Sama dengan rasio utang terhadap ekuitas, semakin tinggi rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas, semakin tinggi pula risiko default, karena perusahaan harus memenuhi kewajiban untuk membayar pokok dan bunga, meskipun pendapatan perusahaan sedang turun.

4. Rasio cakupan (interest coverage ratio)

Rasio cakupan hampir sama dengan rasio likuiditas, hanya saja lebih fokus pada kemampuan perusahaan untuk membayar bunga utang sesuai jadwal selama umur utang dengan menggunakan pendapatan sebelum bunga dan pajaknya (EBIT).

Perusahaan yang  tidak mampu untuk memenuhi kewajibannya tersebut, dapat dianggap gagal bayar dan berpotensi mengalami kebangkrutan apabila kreditur meminta pembayaran segera.

Rasio Cakupan
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

4.1. Rasio cakupan bunga

Rasio cakupan bunga (time interest earned ratio) dikalkulasikan dengan membagi pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan beban bunga.

Jadi, rasio ini memberikan gambaran berapa kali beban bunga dalam setahun ditutupi oleh pendapatan perusahaan atau dengan kata lain, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi pembayaran bunga kontraktual.

Suatu perusahaan yang tidak mampu untuk membayar beban bunga yang jatuh tempo, dapat berisiko mengalami kebangkrutan.

Nilai rasio cakupan bunga di bawah 1 mengindikasikan perusahaan tidak mampu menghasilkan kas untuk membayar beban bunganya.

4.2. Rasio penutupan kas

Rasio ini mengukur kas perusahaan yang tersedia untuk membayar beban bunganya. Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi EBIT plus depresiasi dengan beban bunganya.

Depresiasi merupakan akun non-cash, sehingga untuk mengetahui posisi kas dengan tepat, perlu dilakukan penambahan EBIT dengan depresiasi.


5. Rasio profitabilitas (profitability ratio)

Rasio profitabilitas menyediakan beberapa alternatif untuk mengukur kinerja laba perusahaan dalam hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi laba tersebut.

Semakin tinggi nilai dari rasio profitabilitas, semakin baik kinerja suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

Rasio Profitabilitas
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

5.1. Marjin laba kotor

Marjin laba kotor (gross profit margin) merupakan rasio yang dikalkulasikan dengan membagi laba kotor dengan penjualan.

Semakin tinggi rasio ini, artinya perusahaan mampu menjual barang atau jasanya dengan biaya rendah atau harga tinggi.

Rasio ini menunjukkan persentase dari penjualan yang digunakan untuk membayar harga pokok penjualan (HPP) dari produk atau jasa yang dijual.

5.2. Marjin laba operasi

Marjin laba operasi (operating profit margin) dikalkulasikan dengan membagi pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan penjualan.

5.3. Marjin laba bersih

Marjin laba bersih (net profit margin) dikalkulasikan dengan membagi laba bersih perusahaan (EAT) dengan penjualan.

5.4. Return on total assets (ROA)

Return on total assets (ROA) biasa disebut juga dengan return on investments (ROI). 

ROA dikalkulasikan dengan membagi laba bersih dengan total aset. Lebih jauh lagi, perhatikan hubungan berikut:

ROA = Laba Bersih / Total Aset = Laba Bersih / Penjualan x Penjualan / Total Aset

Dari hubungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ROA sama dengan marjin laba bersih dikali dengan perputaran aset. 

Biasanya, suatu perusahaan menghadapi situasi di mana harus memilih untuk memiliki marjin laba bersih yang tinggi atau perputaran aset yang baik. Jarang sekali perusahaan dapat memilih kedua-duanya.

Perusahaan ritel memiliki marjin laba bersih yang rendah, namun perputaran aset yang tinggi, sedangkan perusahaan yang menjual barang-barang antik dan bernilai seni tinggi, memiliki marjin laba bersih yang tinggi, namun perputaran aset yang rendah.

Nah, hal tersebut berkaitan juga dengan strategi perusahaan. Misalnya, untuk meningkatkan penjualan, perusahaan melonggarkan kebijakan kreditnya. Hal tersebut meningkatkan penjualan perusahaan, namun menghambat perputaran aset, karena kenaikan piutang. Untuk menjaga ROA agar tetap tinggi atau berada di standar industri, maka perusahaan tersebut perlu meningkatkan marjin laba bersihnya, dengan menaikkan harga penjualan.

5.5. Return on equity (ROE)

ROE dikalkulasikan dengan membagi laba bersih dengan ekuitas. Rasio ini menunjukkan seberapa baik perusahaan menggunakan ekuitas pemilik untuk menghasilkan laba.

ROE menutup kelemahan earning per share (EPS) yang tidak memperhitungkan modal yang diperlukan untuk menghasilkan laba.

Berikut ini merupakan konstruksi dari formula ROE atau biasa disebut dengan analisis Du Pont. Analisis ini menyatakan bahwa ROE adalah produk dari rasio marjin laba bersih, rasio perputaran aset, dan rasio total aset terhadap ekuitas pemilik.
    
ROE = Laba Bersih / Ekuitas = Laba Bersih / Penjualan x Penjualan / Total Aset x Total Aset / Ekuitas

Dua rasio awal pada analisis Du Pont merupakan formula untuk menghitung ROA.

Jadi, dari persamaan Du Pont tersebut, analis dapat mendapatkan informasi mengenai kinerja manajemen dalam hal operasional perusahaan, penjualan, dan juga manajemen keuangan.

Perusahaan yang dalam operasionalnya mengandalkan sumber dana dari utang dalam jumlah yang besar, bisa saja menghasilkan ROE yang tinggi, karena adanya peningkatan pada rasio total aset terhadap ekuitas. Dalam menyikapi hal ini, beberapa analis cenderung lebih menyukai ROA dibandingkan dengan ROE, karena pada ROA, baik utang maupun modal dijadikan sebagai pembagi dari laba bersih.

5.6. Return on common equity (ROCE)

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan nilai saham biasa.

Jadi, pada perhitungan ROCE, laba bersih pemegang saham merupakan laba bersih dikurang dengan dividen untuk pemegang saham preferen. Sedangkan ekuitas pemegang saham biasa, merupakan selisih dari total ekuitas dengan ekuitas pemegang saham preferen.  


6. Rasio pemegang saham dan nilai pasar

Rasio-rasio ini bergantung pada jumlah lembar saham biasa dan saham preferen yang diterbitkan, juga nilai buku dan nilai pasarnya.

Pada contoh di tulisan ini, diasumsikan harga pasar saham PT XYZ per lembarnya adalah sebesar 35 ribu rupiah.

Rasio Nilai Pasar
Kembali ke neraca dan laba rugi ↑

6.1. Laba per lembar saham

Laba per lembar saham (earnings per share) adalah jumlah rupiah yang dihasilkan dari tiap lembar saham biasa yang beredar.

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi laba bersih untuk pemegang saham biasa dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar.

6.2. Price to earnings ratio (PER)

PER merupakan suatu rasio yang menggambarkan harga per lembar saham yang dibayar oleh investor untuk tiap rupiah laba perusahaan.

PER dikalkulasikan dengan membagi harga pasar per lembar saham biasa dengan laba per lembar saham biasa.

Rasio ini bisa dibilang menggambarkan kepercayaan investor atas kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba di masa depan.

Perusahaan yang berada di industri di mana pendapatan dan labanya tidak terlalu dipengaruhi oleh naik turunnya siklus bisnis, biasanya memiliki nilai PER yang tinggi dibandingkan dengan PER perusahaan yang berada di industri di mana pendapatan dan labanya sangat dipengaruhi oleh siklus bisnis dan kondisi ekonomi.

Misalnya, PER pada industri barang konsumsi selalu lebih tinggi dibanding PER pada industri properti. Hal ini disebabkan dalam kondisi ekonomi seperti apapun, konsumen akan terus mengkonsumsi produk dari perusahaan yang berada pada industri barang konsumsi. Sedangkan untuk industri properti, saat ekonomi sedang lesu, konsumen cenderung menahan pengeluaran untuk membeli rumah atau apartemen.

Terlalu menggantungkan penilaian pada PER, dapat menyesatkan investor, karena nilai EPS yang digunakan sebagai pembagi dalam perhitungan PER, dapat dengan mudah dimanipulasi perusahaan. Misalnya, perusahaan bisa saja melaporkan nilai EPS yang tinggi tanpa perlu meningkatkan penjualan dan hanya dengan mengubah kebijakan depresiasi, menjual aset, ataupun menurunkan rate penyisihan piutang tak tertagih. 

Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya investor juga melakukan perhitungan atas rasio price to sales, karena peningkatan laba yang berkualitas, seharusnya terjadi karena adanya peningkatan penjualan.

6.3. Rasio pembayaran dividen

Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) dikalkulasikan dengan membagi dividen yang dibayarkan ke pemegang saham biasa dengan laba bersih perusahaan.

6.4. Rasio laba ditahan

Rasio laba ditahan (retention ratio) dikalkulasikan dengan membagi laba ditahan dengan laba bersih perusahaan.

Penjumlahan antara rasio pembayaran dividen dengan laba ditahan harus sama dengan 1.

6.5. Market to book value

Rasio ini dikalkulasikan dengan membagi nilai pasar seluruh saham yang beredar dengan total ekuitas perusahaan.

Nilai market to book yang tinggi menggambarkan optimistis pasar atas kemampuan perusahaan dalam memberikan pengembalian investasi, dan sebaliknya, nilai market to book yang rendah menggambarkan pesimisme pasar atas prospek perusahaan.


Sekian tulisan saya mengenai  cara mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan dengan analisis rasio menggunakan excel. 

Analisis rasio sendiri, sangatlah mudah untuk dilakukan, karena tidak membutuhkan perhitungan yang rumit dan sudah ada formula yang disediakan untuk menghitungnya.

Stay safe and stay healthy. Take care!