Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Beberapa Analisis Rasio Keuangan

Mengenal analisis rasio keuangan

Informasi-informasi yang ada pada laporan keuangan dapat menggambarkan efektifitas dan efisiensi dari manajemen dalam mengelola perusahaan. 

Beberapa kategori yang biasa diukur adalah likuiditas, profitabilitas, dan aktivitas.

Likuiditas mengindikasikan seberapa baik suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. 

Profitabilitas mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.

Aktivitas mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan aset-asetnya untuk menghasilkan penjualan.

Rasio likuiditas

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk mengelola kas untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Pengukuran ini sangat penting, seperti misalnya suatu perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya kepada supplier pada jangka pendek, tentu perusahaan ini memiliki masalah terkait going concern.

Angka-angka untuk menghitung rasio likuiditas dapat kita temukan di neraca atau balance sheet. Karena likuiditas terkait dengan kewajiban jangka pendek atau di bawah satu tahun, maka angka-angka yang perlu kita perhatikan adalah angka-angka pada aset-aset lancar seperti kas dan setara kas, piutang usaha, dan inventory, serta kewajiban-kewajiban jangka pendek seperti utang dagang, utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode bersangkutan, uang muka, hingga utang gaji.

Current ratio

Current ratio dihitung dengan membagi aset lancar (current assets) dengan kewajiban lancar (current liabilities).

Current Ratio = Current Assets / Current Liabilities

Ambil contoh, suatu perusahaan memiliki current assets sebesar 200 juta dan current liabilities sebesar 100 juta, maka current ratio-nya adalah sebesar 2 (200 juta dibagi 100 juta). 

Current ratio memberi informasi seberapa likuid suatu perusahaan, karena current assets seperti kas atau aset yang dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu cepat, dapat digunakan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Hal ini sangatlah penting untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan.

Acid test ratio

Rasio ini sering juga disebut dengan rasio cepat atau quick ratioAcid test ratio ini adalah versi konservatif dari current ratio. Dasar dari rasio ini adalah tidak semua current assets itu likuid atau mudah dikonversi menjadi kas, contohnya adalah inventory atau persediaan barang dagang. Inventory perlu terlebih dahulu dijual ke pelanggan, dan bila penjualan tersebut dilakukan secara kredit, setelah terjual pun masih perlu effort dan waktu lebih untuk menagih piutang dagang tersebut ke pelanggan.

Untuk menghitung acid test ratio, pertama-tama tambahkan kas dan setara kas, piutang dagang, dan investasi-investasi jangka pendek. Selanjutnya, hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan kewajiban jangka pendek atau current liabilities.

Acid Test Ratio = (Kas + Piutang Dagang + Investasi Jangka Pendek) / Current Liabilities

So ambil contoh suatu perusahaan memiliki current assets senilai 200 juta dan persediaan barang dagang senilai 50 juta. Ini berarti total current assets di luar inventory adalah senilai 150 juta (200 juta - 50 juta). Kemudian dibagi dengan current liabilities-nya sebesar 100 juta, maka akan didapatkan nilai acid test ratio sebesar 1,5.

Secara teori, perusahaan dengan nilai current ratio paling tidak 2 dan nilai acid test ratio paling tidak 1, menunjukkan kemampuan perusahaan tersebut untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. 

Working capital

Perhitungan working capital atau modal kerja sangat sederhana, yaitu current assets dikurang dengan current liabilities. Sebagai contoh, bila suatu perusahaan memilki current assets senilai 130 juta dan current liabilities senilai 60 juta, maka working capital adalah sebesar 70 juta (130 juta - 60 juta).

Hal ini sangat mudah dipahami bahwa perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang memiliki working capital yang positif. Saat bisnis sedang buruk, perusahaan tentu membutuhkan kas yang cukup di bank untuk membayar tagihan-tagihannya. Bayangkan bila perusahaan tidak memilki kas yang positif, tentu saja untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, kas akan diperoleh melalui pinjaman yang akan menimbulkan kewajiban jangka pendek lainnya berupa utang bunga yang semakin membebani perusahaan.

Beberapa perusahaan yang pernah saya tangani laporan keuangannya tidak memilki cukup kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, tetapi biasanya hal tersebut ditutupi dengan penagihan piutang usaha ke client dengan cara yang cukup kasar ataupun memaksakan penjualan inventory dengan menawarkan diskon yang cukup besar. 

Rasio profitabilitas

Melihat profit atau laba suatu perusahaan dalam satu periode, tidak terlalu banyak memberikan informasi mengenai kinerjanya dalam menghasilkan laba. Oleh sebab itu diperlukan suatu analisis untuk melihat kinerja perusahaan dari tahun ke tahun. Analisis ini biasa disebut dengan analisis trend.

Suatu perusahaan bisa saja mengalami kondisi yang tidak dapat dikontrol pada suatu periode yang mungkin saja meningkatkan atau menurunkan labanya jauh dari kondisi normal. Seperti misalnya, pada tahun 2020, perusahaan mengalami kinerja yang buruk karena adanya pandemi, tentu saja kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa perusahaan tersebut memiliki kinerja yang buruk dalam menghasilkan profit

Dari hal tersebut, melakukan analisis trend bagi para analis, tentu memberikan insight lebih atas kinerja perusahaan dibandingkan dengan menganalisis rasio pada suatu periode saja. Idealnya, periode yang dianalisis adalah lima hingga sepuluh tahun.

Return on investment (ROI)

ROI adalah suatu rasio yang biasa digunakan oleh investor untuk mengukur seberapa baik investasi mereka pada suatu perusahaan. ROI seringkali dijadikan dasar pengambilan suatu keputusan untuk menjual atau membeli suatu saham perusahaan. 

Secara pengertian, ROI mengukur seberapa baik manajemen perusahaan mengelola aset perusahaan untuk menghasilkan laba. Output dari perhitungan ROI berupa persentase yang memberikan suatu insight mengenai kompetensi manajemen dan kinerja profitabilitas dibandingkan dengan kompetitor atau perusahaan-perusahaan sejenis, yang berada pada suatu sektor atau industri yang sama.

Adapun untuk menentukan ROI suatu perusahaan dapat menggunakan beberapa metode. Metode yang pertama yaitu:

ROI = Laba Bersih / Rata-rata Total Aset

Laba bersih adalah bottom line atau apa yang tersisa dari pendapatan suatu perusahaan pada suatu periode dikurang dengan harga pokok penjualan, beban-beban operasional, bunga, dan pajak pada suatu periode. Informasi mengenai laba bersih dapat ditemukan pada laporan laba rugi.

Rata-rata total aset merupakan rata-rata antara nilai aset pada awal periode dengan nilai aset pada akhir periode. Apabila nilai aset perusahaan pada awal periode sebesar 100 juta dan pada akhir periode sebesar 150 juta, maka rata-rata total asetnya adalah 125 juta (100 + 150 juta  /  2). Untuk informasi aset dapat ditemukan pada neraca perusahaan.

Jadi, dengan memakai rata-rata aset di atas, apabila laba perusahaan sebesar 50 juta, maka ROI perusahaan tersebut adalah senilai 40% (50 juta / 125 juta).

Kemudian, untuk mencari ROI juga dapat menggunakan metode lainnya, yaitu:

ROI = Pendapatan Operasional / Rata-rata Aset Operasional

Pada metode ini perhitungan tidak menggunakan laba bersih, tetapi menggunakan pendapatan operasional, yang juga merupakan komponen yang berada di laporan laba rugi. Pendapatan operasional adalah pendapatan perusahaan dikurang dengan harga pokok penjualan dan beban operasional. Pendapatan ini sering juga disebut dengan pendapatan sebelum bunga dan pajak atau earning before interest and tax (EBIT). 

Aset operasional atau operating assets adalah aset-aset jangka panjang yang dimiliki perusahaan, seperti peralatan, pabrik, properti, dll. Jadi rata-rata aset operasional adalah aset operasional pada awal periode ditambah aset operasional pada akhir periode kemudian hasilnya dibagi dua. Informasi mengenai aset operasional dapat ditemukan di neraca perusahaan.

Return on equity (ROE)

ROE mengukur laba dari tiap satu rupiah yang diinvestasikan pada suatu saham perusahaan. Sama dengan ROI, ROE juga direpresentasikan oleh persentase. Untuk menetukan ROE adalah dengan membagi antara laba bersih dengan ekuitas pemilik. Ekuitas sendiri adalah apa yang tersisa dari aset dikurang dengan kewajiban.   

ROE = Laba Bersih / Rata-rata Ekuitas Pemilik

Semakin tinggi nilai ROE, semakin efisien perusahaan dalam memanfaatkan ekuitasnya untuk menghasilkan laba. Karena yang diukur adalah ekuitas dibandingkan dengan laba, maka rasio ini sangat penting bagi para investor. 

Untuk perhitungannya sendiri, asumsikan laba bersih suatu perusahaan adalah sebesar 100 juta dan rata-rata ekuitasnya adalah 220 juta, maka ROE-nya adalah senilai 45,45% (100 juta / 220 juta). Sekali lagi, kita tidak bisa menentukan apakah angka tersebut baik atau tidak, tanpa membandingkan ROE perusahaan dalam beberapa tahun terakhir dan juga tanpa membandingkan dengan ROE perusahaan lain pada suatu industri yang sama. Meskip demikian ROE sebesar 45,45% bisa dikategorikan baik.

Rasio aktivitas

Rasio aktivitas mengukur seberapa baik perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan. Rasio ini sangat penting karena suatu bisnis yang beroperasi dengan efektif dan efisien, secara teori akan lebih sukses dibanding dengan kompetitor yang kurang fektif dan efisien.

Analisis turnover yang merupakan bagian dari rasio aktivitas menunjukkan seberapa cepat aset keluar masuk di neraca perusahaan, semakin cepat tentu semakin baik. Untuk mengkalkulasikannya adalah dengan membagi penjualan dengan rata-rata aset.

Pada rasio aktivitas, selain yang telah dibahas pada pargraf sebelumnya, juga mengukur hubungan antara persediaan dengan penjualan dan juga piutang dengan penjualan.

Turnover piutang 

Rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan menagih piutangnya kepada pelanggan. Semakin cepat, semakin baik, karena dapat memastikan ketersediaan kas untuk operasional dan juga untuk mebayar kewajiban-kewajiban perusahaan.

Untuk menentukan nilai dari turnover piutang formula yang dapat digunakan adalah dengan membagi penjualan dengan rata-rata piutang perusahaan.

Turnover Piutang = Pendapatan Operasional / Rata-rata Aset Operasional

Asumsikan suatu perusahaan memilki penjualan sebesar 250 juta pada tahun 2019. Piutang usaha pada tanggal 1 Januari adalah sebesar 50 juta dan pada tanggal 31 Desember adalah sebesar 40 juta. Maka, rata-rata piutang usahanya adalah sebesar 45 juta. Sehingga dengan demikian turnover piutangnya adalah sebesar 5,55 (250 juta / 45 juta).

Cara lain untuk menghitung turnover piutang adalah dengan mengukur rata-rata periode penagihan piutang usaha. Ini adalah untuk menentukan jumlah hari penjualan kredit yang tersisa di piutang usaha. Dengan begitu kita dapat mengetahui kebijakan kredit dan penagihan suatu perusahaan. Adapun formula untuk menghitungnya adalah dengan membagi piutang usaha perusahaan pada akhir periode dengan rata-rata hari penjualan (penjualan selama satu periode dibagi 365 hari).

Jangka Waktu Penagihan = Piutang Usaha Akhir Periode / Rata-rata Hari Penjualan

Turnover persediaan

Rasio ini mengukur seberapa efisien perusahaan menangani persediaannya. Semakin sedikit persediaan yang ada di gudang, semakin kecil biaya penyimpanan dan perawatannya, sehingga secara otomatis menurunkan biaya persediaan yang harus dibiayai oleh utang ataupun ekuitas pemilik. Logika ini secara sederhana dapat kamu lihat pada persamaan di neraca saat persediaan bertambah dan berkurang dengan pengaruhnya pada sisi kanan neraca.

Meski demikian, perlu diperhatikan juga bahwa nilai persediaan yang terlalu rendah juga dapat berimplikasi pada keterlambatan perusahaan atau ketidkampuan perusahaan dalam memenuhi pesanan dari pelanggan. Selain itu, dengan terlalu rendahnya persediaan, juga dapat menyebabkan perusahaan untuk mengeluarkan biaya yang lebih tinggi untuk memperoleh persediaan dari pemasok dalam waktu cepat.

Formula untuk menghitung turnover persediaan adalah sebagai berikut:

Turnover Persediaan = Penjualan / Rata-rata Persediaan

Asumsikan penjualan suatu perusahaan adalah sebesar 200 juta dan rata-rata persediaan adalah sebesar 45 juta, maka turnover persediaan adalah senilai 4,4 kali (200 juta / 45 juta).

Beberapa analis tidak menggunakan penjualan untuk menghitung formula ini, tetapi menggunakan harga pokok penjulan (HPP), hal ini karena nilai persediaan di neraca menggunakan harga perolehan bukan harga penjualan.


Sekian tulisan dari saya pada kesempatan ini. Sebenarnya masih banyak lagi rasio-rasio keuangan yang sangat berguna untuk memahami kinerja keuangan suatu perusahaan dan untuk membantu memahami logika dan hubungan dari masing-masing akun laporan keuangan. 

Di atas adalah sebagian rasio-rasio yang sering saya gunakan dalam menganalisis suatu laporan keuangan. Kamu bisa mendapatkan informasi terkait analisis dan rasio-rasio keuangan di textbook akuntansi keuangan.

Stay safe and stay healthy. Take care!

Post a Comment for "Mengenal Beberapa Analisis Rasio Keuangan"